
“Sudah berkumpul semuanya ya. Maaf ya menunggu lama.” Eva dan Adam berjalan turun tangga.
“Yang baru saja menikah siapa,tapi yang lebih mesra siapa ya? padahal-
“Paman…”Arshinta dan Ina memelototi Revand, Vicky dan yang lainnya menggelengkan kepala, tidak heran lagi.
Yang di tunggu-tunggu sudah duduk di kursi, dan mulai makan malam.
Tidak ada yang di obrolkan mereka, hanya makan malam tanpa obrolan berat. Arshinta yang sedari tadi penasaran, masih bisa mengontrol.
*******
Di rumah Abraham, keluarga Bellova makan malam bersama dengan Aris, Hendra beserta anak dan isterinya. Itu adalah perintah dari Lucifer. Tidak masalah untuk keluarga Bellova.
“Silahkan di makan tuan dan nyonya.” Ucap ibu mertua Abraham.
“Ibu, anda jangan memanggil kami ‘tuan dan nyonya’, nanti kalau bos kami tahu, kami akan dimarahi.” Ucap Hendra yang risih.
“Tapi kan-
“Saya juga tidak suka jika di panggil seperti itu, jadi tolong panggil kami dengan nama saja.” Pinta Aris yang sepakat dengan Hendra.
Ayah dan Ibu Bellova saling menatap, karena merasa mereka meminta dengan serius, akhirnya mereka mau
untuk menghilangkan kata ‘tuan dan nyonya’.
“Nah, gitu dong. Anda memanggil seperti itu, sama saja anda mengurangi waktu hidup saya.” Canda Hendra.
__ADS_1
“Apa? Separah itu?” Ayah bellova yang menganggap serius khawatir.
“Lupakan saja Pak, anak ini suka bercanda berlebihan.” Balas Aris menunjuk Hendra.
“Anak ini sudah punya anak loh.”sahut Hendra mengunyah makanan.
Mereka melanjutkan makan nya lagi. hanya terdengar suara piring dan sendok, sangat ramai dan menyenangkan. Lucifer tidak ingin keluarga besannya merasa kesepian, makanya dia menyuruh anak buahnya untuk menemani mereka.
“Oh ya, tuan Adam menyuruh kami untuk membawa anda kesana.” Aris membuka obrolan.
“Ke… kesana?” Ibu Bellova heran.
“Iya, wajar kan? Mereka hanya ingin mengobrol saja layaknya besan.”
“Bersama kalian?”
“Baiklah, lagipula ada juga yang ingin kami bicarakan pada mereka dan Bellova.” Ucap Ibu Bellova sambil mengunyah.
*************
“Jadi Bossa sudah mati?” tanya Abraham yang baru di beritahu Adam.
“Iya.” Jawab papanya singkat.
“Bagaimana caranya?” tanya Abraham lagi seperti menginterogasi.
Adam melihat Bellova dan yang lainnya.
__ADS_1
“Hanya memukulnya saja, papa tidak menyangka kalau dia mati secepat itu.” jawabnya tanpa menjelaskan lebih detail.
“Hanya memukul atau-
Lucifer menatap tajam Revand, membuatnya berhenti bicara.
“Rock juga?”
Lucifer mengangguk.
“Pantas saja kata Adley tidak bisa menemukan Bossa dan Rock, jadi ternyata…” Abraham tidak melanjutkan kalimatnya karena dia yakin dengan apa yang di pikirkan.
“Tapi anak buah nya masih hidup, kau urus saja mereka.”
Abraham menghela napas mendengar penjelasan dari papanya, obrolan yang terasa berat.
“Pa, sebenarnya papa dulu siapa dan apa yang papa kerjakan?” gantian Arshinta yang bertanya.
Tap…
Pertanyaan Arshinta melihat semua orang menatap padanya.
Ina pun penasaran, tapi masih ragu bertanya langsung seperti itu pada papanya.
“Apa… apa papa ada hubungan dengan mereka? Apa papa…. Bekerja dengan mafia?” Arshinta melanjutkan
pertanyaannya lagi.
__ADS_1
Adam tidak marah dengan pertanyaan puterinya itu. karena dia juga tahu pasti suatu saat akan tiba waktunya untuk menunjukkan identitas dirinya. Arshinta memiliki rasa penasaran dan emosi lebih besar dengan Lucifer daripada dengan saudara lainnya. Jadi batin mereka lebih ‘dekat’. Tatapan mata Arshinta yang sangat serius dan tidak bisa ditunda-tunda lagi menuntut Adam untuk menjelaskan semua, tanpa ada yang ditutupi lagi.