
Bukan hanya Ridwan saja yang terkejut, semua nya yang mendengar. Bahkan ada yang sampai menjatuhkan buku catatan nya secara tidak sengaja.
“Apa yang anda katakan pak Abraham?”
“Apakah itu benar?”
“Dengan siapa anda menikah?”
“Apakah dia anak petugas kepolisian juga?”
“Pasti anak Jenderal yang cantik itu kan? Karena banyak kabar dia sangat tergila-gila dengan anda.”
Satu persatu anak buah nya bertanya. Abraham memijit kening nya dengan pertanyaan mereka.
Adley juga ingin bertanya, tapi pertanyaan nya sudah di wakilkan rekan-rekan nya.
Semua tatapan mata mereka mengarah pada Abraham, seperti menunggu jawaban dari nya.
Abraham yang duduk bangkit berdiri.
“Iya,aku sudah menikah. Belum lama kok. Dan aku tidak menikah dengan anak Jenderal atau dari kepolisian juga.” Ucap nya berjalan pelan.
“Lalu dengan siapa?” Tanya Ridwan sembari mengunyah, karena dia juga lapar.
“Dengan Bellova, di-
__ADS_1
“Apa? Anda menikah dengan perempuan yang bekerja di rumah anda?” Tanya Adley teriak. Dia seakan tidak percaya dengan jawaban atasan nya.
“Perempuan yang bekerja? Maksud anda apa pak Adley?” Rekan yang lain bertanya pada Adley karena mereka tidak tahu apalagi mengenal nya.
Adley tidak menjawab pertanyaan mereka, karena dia juga sedang menunggu jawaban dari Abraham yang menatap nya.
“Iya, kau benar Adley. Dia sekarang sudah jadi isteriku, bukan lag-
“Tapi bagaimana bisa pak Abraham? Bukan kah anda datang kesana hanya untuk membantu dan menjemput nya saja? Lalu-
Plak…
Abraham memukul bahu Adley karena banyak bertanya.
“Dari tadi kau diam saja, sekarang kau yang mulai banyak bertanya. Ada apa dengan mu?” Tanya Abraham.
“Aduh… sudah lah. Yang penting aku sudah menjawab pertanyaan Monika. Supaya Monik juga tidak salah paham.” Ucap Abraham mengarah pada Monik yang berdiri dengan tenang.
“Tenang saja pak Abraham. Saya tidak akan salah paham kok. Selamat ya atas pernikahan anda. Saya harap anda dan isteri anda bahagia dan saling mencintai.” Jawab Monik dewasa dan bijak.
“Terima kasih ya Monik. Anda ternyata lebih pintar dari pada mereka.” Sindir Abraham pada anak buah yang menatap nya.
“Kalau begitu saya permisi dulu ya. Masih harus mempersiapkan pesanan pelanggan lain.” Monik meminta ijin untuk meninggalkan kantor polisi.
“Dan kalian, mulai lah bekerja. Jangan menatap ku seperti itu. Apa kalian bosan?” Tanya Abraham yang masih menatap nya.
__ADS_1
“Baik pak.” Jawab mereka serentak dan pergi ke meja kerja nya masing-masing.
“Dan kau, Adley. Berhenti lah menatapku seperti itu, aku tidak melakukan kejahatan kan?” Abraham risih dengan tatapan Adley yang masih penasaran dan butuh penjelasan.
“Pak, apa anda serius dengan ucapan anda? Anda sudah menikah, lalu apakah keluarga anda sudah tahu? Apa mereka datang saat acara pernikahan anda? Bagai-
“Ssstthh..” Abraham meletakkan jari telunjuk di bibir nya, memberi isyarat agar Adley diam tidak bicara.
“Keluarga ku belum tahu tentang pernikahan kami, dan pasti aku akan memberitahukan nya. Kenapa aku bsia menikahinya, karena tetangga nya yang menuduh kalau dia adalah ‘simpanan’ ku selama di Jakarta, dan aku kasihan pada nya dan keluarga nya yang akan di usir dari desa itu.” Jawab Abraham.
“Berarti anda menikahi nya karena kasihan pada nya? Begitu pak Abraham?” Tanya Adley.
Abraham menganggukkan kepala nya.
“Apa anda memiliki perasaan pada nya?”
Dengan cepat Abraham menggelengkan kepala nya, “Tidak! Tapi kalau pun nanti akan ada perasaan di antara kami, tidak akan salah kan? Karena kami sudah menikah.” Jawab Abraham.
“Lalu bagaimana kalau seandai nya anda jatuh cinta dengan wanita lain?” Tanya Adley serius.
*
__ADS_1
Nah loh, bagaimanaa tuh?
Jangan lupa like nya ya, terima kasih.