KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 154


__ADS_3

“Tidak,tidak, kau bisa memiliki nya.” Abraham menahan rencana Bellova.


“Berapa lama lagi aku harus menunggu.” Batin nya.


“Tolong di bungkus ya, yang di pilihkan isteri ku tadi.” Pinta nya pada salah satu karyawan yang ikut memilih.


Cincin yang di pilih Bellova sangat sederhana. Hanya memiliki satu mata berlian yang sangat kecil, berada di tengah.


“Apa yang seperti itu selera nya?” gumam nya.


“Lov, kenapa kamu tidak memilih cincin berlian saja?” Tanya nya karena penasaran.


“Aku tidak suka.” Jawab nya singkat tanpa melihat Abraham.


“Kenapa?”


“Terlalu mewah, dan bisa memancing kejahatan orang lain. Lalu saat aku mandi, keramas, atau memakai pakaian, pasti kesulitan, karena bisa saja tersangkut di rambut atau pakaian.” Jawab nya jujur.


“Oh, begitu rupanya. Nanti kita akan memakai nya saat acara resepsi nya saja ya.” ucap Abraham setelah mengerti.


Bellova mengangguk.


“Kalau begitu-


Kkkkrruuuuyukk….


“Hm? Itu suara dari perut mu?” Abraham yang mendengar menunjuk Bellova yang canggung dan malu. Dia mengangguk dan menundukkan wajah nya yang malu.

__ADS_1


Pesanan mereka sudah terbungkus di kotak perhiasan dengan rapi dan aman. Kini tinggal tahap akhir, yaitu pembayaran.


“Silahkan tuan, harga nya xxxxx” si karyawan memberikan nilai dari harga nya.


Bellova terkejut, menutup mulut nya.


“Abra…


“Ssssttthh..” Abraham yang seakan tahu kalimat apa yang akan keluar dari mulut isteri nya itu, memberi kode dengan meletakkan jari telunjuk di bibir nya, agar Bellova diam sembari mengedipkan mata nya dan tersenyum.


Karyawan yang ada di sana tersenyum dan ikut malu terpesona pada Abraham yang berkharisma.


Abraham membayar dengan kartu kredit nya, berjalan lancar.


“Terima kasih tuan atas kedatangan nya. Dan selamat atas pernikahan anda dan nyonya.” Ucap si karyawan yang tadi melakukan transaksi sembari tersenyum.


“Sudah selesai kan. Sekarang kita makan saja dulu.” Abraham menggandeng kembali tangan Bellova dan mereka keluar dari toko.


Karyawan dan beberapa pengunjung di toko itu merasa iri pada Bellova yang mendapatkan pria seperti Abraham.


Membukakan pintu dan menyuruh Bellova untuk masuk lebih dulu.


“Hah… cincin sudah, selanjutnya pakaian dan gaun yang akan kamu pakai.” Ucap nya yang baru saja duduk di kursi kemudi.


“Gaun? Untuk apa?”


“Tentu saja saat nanti acara resepsi nya. Belum lagi saat pernikahan kedua ipar mu kedepan nya, dan pakaian sehari-hari yang akan kau pakai.” Jawab nya menyalakan mobil dan berputar arah meninggalkan lokasi.

__ADS_1


Bellova tidak bertanya lagi.


“Kamu mau makan apa?” tanya nya melihat kaca spion nya.


“Apa saja.”


“Apa saja? Apa kamu mau makan rumput saja?” canda nya lagi.


“Pfftt..” gadis itu menahan tawa, melempar pandangannya ke kiri jalan.


“Ccciiee… akhir nya tertawa juga, kamu harus banyak-banyak tertawa dan tersenyum, jangan tegang dan canggung gitu. Aku juga jadi sedikit tenang kan.”


Wajah Bellova murung kembali.


“Tuh kan… wajah nya di tekuk lagi.”


“Ma-


“No! jangan ucapkan kalimat itu. Cukup dengan tersenyum saja. Coba lakukan.” Pinta nya setelah melarang Bellova mengucapkan kata ‘maaf’.


Perlahan gadis itu berusaha tersenyum pada nya.


“Masih kurang, seperti di paksakan.” Abraham melirik Bellova yang berusaha tersenyum pada nya.


Gadis itu melebarkan senyum nya lagi.


“Nah, gitu dong. Aduh…manis banget ternyata senyuman isteri ku ini. Aku yang semut ini terasa dekat dengan gula.”goda nya merasa puas.

__ADS_1


Merasa malu, Bellova mengalihkan pandangan nya. Wajah nya sudah sangat merah karena di puji. Sementara Abraham merasa lucu dengan tingkah laku isteri nya yang malu-malu itu.


__ADS_2