KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
TIGA COMBO GENGSI


__ADS_3

Sea sekali lagi menghela nafas panjang karena soal fisika yang ia kerjakan sangat berbeda dari yang ia pelajari tadi. Dari dua puluh soal ia hanya bisa menjawab 5, oke itu masih mendingan daripada tidak sama sekali.


" Ini contoh soalnya mana, sih? Kok gak ada yang sama. " Sambil terus mencari contoh soal yang sama dengan soalnya, paling tidak ketemu lah rumusnya.


" Apa gue besok bolos aja, ya? Biar gak ketemu dia. "


" Arse. " Kedatangan Bundanya yang tiba-tiba membuatnya terlonjak kaget.


" Bunda mah, kalau masuk ketuk pintu atau salam dulu, kek. " Gerutunya.


" Mana sempat, Bunda keburu senang ngelihat kamu belajar. "


" Eh? Kayak gak pernah lihat Arse belajar, aja. "


" Emang belum pernah. "


Sungguh jujur sekali perkataanmu, Bund.


Emang sih, dalam keluarga hanya Sea yang tak pandai dibidang mata pelajaran dan karena itulah membuatnya malas belajar. Bahkan ia sempat berfikir, mungkin ia adalah anak pungut karena hanya dirinya yang bodoh.


Tapi melihat Bundanya yang cantik, Ayahnya dan Abangnya tampan, itu seperti tidak mungkin kalau ia adalah anak pungut karena ia sangat cantik.


" Mana yang gak kamu pahamin? Biar Bunda bantu. "


Arse semakin menjauhkan bukunya dari jangkaun Bundnya.


" Gak mau, nanti Bunda pukul Arse kalau gak bisa. "


Atasya mengrecutkan biburnya sebal, " Ya, lihat nanti. "


" Tuh, kan. "


Atasya menghela nafas panjang, memang segitu menakutkan ya dirinya saat mengajari?


" Ck! Emang pelajaran apa itu? "


" Fisika. " Jawab Sea dengan mengeratkan pelukan bukunya.


" Oh, Fisika. Kamu tanya Ayah aja, dia lebih paham. Lebih pintar dari Bunda dan-- "


Sea menunggu-nunggu kata selanjutnya yang sengaja sok-sok dimisteriusin.


" Lebih menakutkan daripada Bunda. " Atasya langsung tergelak saat melihat muka ketakutan Sea.


" Ck! Tau, ah. Bunda pergi gih, Arse lagi sibuk. " Sungut Sea.


" Dih, ngambekan. Kamu tanyain Ayah kamu, gih, daripada kamu putus asa terus gantung diri karena gak nemuin jawabannya. " Suruh Bundanya.


Sea mendengus kesal karena Bundanya selalu mendramatisir keadaaan.


" Nanti kalau Ayah sibuk gimana? "


" Gak bakal kalau kamu yang minta. " Ujarnya.


Sea mengangguk paham, ia membawa buku fisika dan alat tulisnya dan pergi ke ruang kerja Ayahnya.


" Ayah-- Putri cantikmu ini sudah tiba. " Teriak Sea memenuhi ruangan itu.


" Hem, ada apa? " Tanya Ayahnya yang berada dibalik meja kerjanya.


Selalu to the point, itulah Ayahnya.


" Bunda bilang Ayah bisa fisika, ada beberapa pertanyaan yanga gak bisa Arse jawab. "


Lima belas itu termasuk beberapa kan?


Alfaro melepas kacamata-nya dan bangun dari kursi kebesarannya menuju sofa yang ada di ruang kerjanya. Meskipun sesibuk apapun, jika anaknya yang meminta, ia harus meluangkan waktunya.


" Sini, biar Ayah lihat dulu. "


Sea langsung mengangguk dan segera pergi ke Ayahnya dan menyerahkan lembaran soal fisikanya.


" Kayaknya kamu udah mulai suka belajar, ya? "


Sea mendengus, " Masih belum, Arse cuma pengen cepat kelar trus gak jadi muridnya cowok ngeselin itu. "


Alfaro terkekeh, ia seperti melihat diri Atasya di dalam putrinya kalau sedang kesal.


" Tapi belum bukan berarti enggak, kan? "


" Tapi kenapa, sih, Yah, Arse harus belajar? Arse-kan gak suka. " Tukas Sea.


" Belajar itu bukan tentang suka gak suka, belajar itu untuk diri kamu sendiri, nanti keuntungannya kan juga ke kamu. " Petuah Alfaro.


Nyebelin, nyebelin, nyebelin!


🐣


" Nih. "


Sea menyerahkan tugas yang diberikan Samudra kemarin kepadanya, ia sampai harus datang pagi-pagi untuk nyegat Samudra di pos satpam agar tidak terlalu lama berinteraksi.


Samudra menerima-nya dan melihatnya sekilas.


" Ikut gue ke kelas, gue gak bisa ngoreksi disini. " Ujarnya lalu pergi.


" Kenapa? " Tanya Sea sambil mengejar pria itu.


" Gue gak bawa bulpen. "


" Gue ada kok. "

__ADS_1


" Eumh--, Gue gak bisa kalau nulis tanpa meja. "


" Punggung gue bisa dijadiin meja kok. "


Samudra sudah kehabisan alasan.


" Ck! Udah lo ikut aja, gue guru lo jadi harus nurut. " Sungut Samudra.


Sea mengrenyitkan dahinya bingung, memang apa salahnya? Kenapa ia dimarahi?


Setelah keduanya tiba di kelas Samudra, Samudra duduk di bangkunya dan memeriksa hasil kerja Sea. Sesekali dahinya mengerut karena sedang berfikir.


Sedangkan Sea yang berdiri menunggu seolah-olah sedang diaudisi dan menunggu komentar juri, Nderdeg-nya gak ngadi-ngadi.


Ini gue gak dikasih duduk apa?


Samudra sudah selesai mengoreksi, ia lalu memberikan lembaran itu ke Sea.


" Salah sepuluh, lumayan udah kemajuan. "


Sea tersenyum senang, lumayan lah, Apalagi ini hasil kerja-nya sendiri.


Sea kembali waspada saat senyum Samudra terbit lagi, senyum seperti waktu itu.


" PR hari ini perbaikin soal yang salah, nanti kasih ke gue sepulang sekolah. " Suruh Samudra.


Kan, benar apa kata gue!


" Udah gue duga, lo emang gak pengen hidup gue tenang. " Sungut Sea.


Samudra menggidikan bahunya tak peduli.


" Udah selesai, silahkan pergi! "


" Ck! Iya-iya. " Sungutnya, ia menghentak kakinya beberapa kali karena kesal lalu pergi.


" Se, PR Matematika lo udah? " Tanya Rian.


" Salah lo kalau nanya PR-nya Sea udah selesai. " Timpal Galaksi yang baru saja menyalin PR dari salah satu temannya yang cukup pintar.


" Lak, gue nyontek punya lo aja. "


Sebenarnya itu bukanlah izin karena Rian langsung mengambil Buku-nya Galaksi dan menyalin PR-nya.


" Lah, emang ada PR? " Tanya Sea yang sudah menjadi kebiasaan tidak mengetahui jika ada PR.


" Kan-- "


" Yaudah sini, kalau lo gak mau disuruh lari pak Baskoro pagi-pagi. "


Sea bergidik ngeri, ia dengan cepat mengambil Buku matematikanya dan pergi ke Rian untuk menyalin Tugas.


" ****, perasaan di sini gue doang yang rajin. " Keluh Galaksi yang prihatin melihat dua temannya.


Ngeri!


" Dah, akhirnya selesai. " Rian menyerahkan buku tugasnya ke Galaksi.


" Nitip, biasa. " Setelahnya Rian pergi keluar kelas, melakukan tugas suci, yaitu bolos.


Galaksi mendengus kesal karena sifat Rian, ia kadang bingung sama kenakalan Rian, senakal apapun dia tetap mengerjakan tugas. Meskipun nyontek is always.


Tak lama perlajaran dimulai, hari ini semua guru seolah sangat rajin karena tidak ada jamkos. Setelah cukup lama pelajaran, akhirnya bel yang ditunggu sudah berbunyi.


Semuanya cepat-cepat untuk pergi ke kantin karena perut yang sudah meminta diisi, apalagi tadi semua pelajarannya bikin otak terkuras.


" Rian mana? Biasanya nomor wahid kalau soal makan. " Tanya Sea yang tak menemukan Rian di meja mereka.


" Palingan juga masih di belakang sekolah, lo WA dia siapa tau mau dibeliin makan. " Tukas Galaksi yang datang dengan nampan berisi makanan mereka.


Sea mengangguk, lalu melaksanakan perintah Galaksi. Setelah sudah, ia memilih memakan makanannya. Sampai matanya menangkap sosok Samudra yang duduk tak jauh dari tempatnya, sedang tersenyum mengejek kearahnya.


Gak dimana-mana, dia mulu. Bosen gue!


Samudra tertawa kecil saat melihat kejengkelan Sea yang juga membalas senyum mengejek kearahnya. Mungkin mulai sekarang melihat kekesalan Sea adalah hal menyenangkan tersendiri baginya.


Revan yang baru datang membeli makanan langsung bergidik ngeri melihat Samudra tersenyum.


" Oalah, ternyata udah kesemsem sama Sea, toh. "


" Gitu bilangnya ' bukan tipe gue '! " Sindir Revan.


Samudra hanya menatap tajam Revan, " Kita cuma guru dan murid. "


" Hah? Sejak kapan lo mau ngajarin orang? "


Sudah tidak diragukan kepintaran Samudra diseantero sekolah, bahkan beberapa wali murid ingin menggaetnya untuk mengajari anaknya. Tapi Samudra menolak karena dia gak mau berurusan sama orang kaya yang sombong.


" Sean yang nyuruh. "


" Oh, ternyata udah deket sama calon kakak ipar? " Goda Revan lagi.


" Gak usah resek! "


Revan langsung tergelak melihat kekesalan Samudra.


🐣


" Bilangin ke Niken, gue kesananya jam setengah tujuh-an. "


Revan mengangguk, " Lagian, lo kenapa gak kasih nomer lo aja, sih? Kan lebih gampang. " Tukasnya.

__ADS_1


" Biar lebih privasi. " Senyumnya langsung terbit tatkala melihat gadis yang berdiri di samping motornya dengan kesal.


Revan sedikit heran melihat Samudra tersenyum, tapi keheranannya terjawab saat menemukan Sea tak jauh dari tempat mereka.


" Pantesan orang pelit senyum kayak lo sekarang lagi senyum, ternyata ada pujaab hati. "


Ia ingin sekali melakban mulut ceriwis Revan, kalau gak inget sekarang dia gak bawa lakban.


Sebelum menghampiri Sea, Samudra memaksakan menyudahi senyumnya. ia menatap Sea dengan sorot tajamnya.


" Gue mau nyerahin tugas yang lo kasih tadi, nih-- " Ujarnya sambil menyerahkan lembaran kertas berisi tugasnya.


Samudra menerimanya dan memasukan lembaran soal dan jawaban itu ke tas-nya.


" Oke, kita berangkat sekarang. "


Sea menatap bingung Samudra yang akan duduk di atas motornya.


" Apaan! Mau kemana emang? "


" Les. "


Sea tersenyum senang lalu menatap Samudra sedikit pongah.


" Hari ini gue gak bisa, ada latihan balet dan itu gak bisa ditinggal. "


Samudra mengangguk paham, lalu ia beralih menaiki motornya.


" Gimana kalau gue anterin ke tempat baletnya? " Ujar Revan menawarkan, ia menatap menggoda Samudra yang juga menatapnya tajam.


Sea tersenyum sopan karena Revan adalah kakak kelasnya, beda sekali jika sikapnya kepada Samudra, padahal sama-sama kakak kelas.


" Oh-- "


" Dia bareng sama gue. " Potong Samudra.


Sea kembali menatap bingung dengan sikap Samudra.


" Ayo naik! " 


" Hah? Kenapa gue harus naik? " Ketus Sea  tidak mau menurut.


" Ya, karena lo gak ada yang nganterin, kan? " Tebak Samudra.


Bilang Iya, lah, biar gak malu-malu banget.


" Iya, sih. "


Nah!


" Tapi sopir gue udah jemput. "


Sialan!


DrttDrttt.


Sea langsung mengangkat telpon dari nomor tidak dikenal.


Samudra menatap tajam Revan yang tergelak tawa. Kalau gak ada Sea, sudah ia pastikan bogemnya melayang untuk pria itu.


Sea menghembuskan nafas panjang setelah menutup telpon-nya. Ia mendekat ke Samudra, seraya menodongkan tangannya.


" Mana helm-nya? "


Samudra mengrenyitkan dahinya bingung.


" Bukannya lo dijemput supir? "


" Supir lagi nganterin Bokap ke Bandara. " Ujarnya dengan datar.


Mood-nya selalu buruk jika berurusan dengan Samudra.


" Oh, oke. " Jawab Samudra berusaha sok cuek.


Sea menerima uluran helm dari Samudra, lalu memakainya. Setelah itu ia naik ke motor Vespa milik Samudra.


" Kak, duluan ya. "


" Iya, hati-hati. "


Revan kembali tergelak setelah kepergian Samudra dan Sean.


" Emang Duo combo-nya gengsi, ya gitu. " Tukasnya.


" Kalau belum punya pacar, udah gue pepet kali tuh si Sea. "


DrttDrtt.


Revan langsung gelagapan mengangkat telfon dari pacarnya.


" Halo, Sayang. "


" Iya, ini udah OTW, kok. "


Ia dengan cepat menyalakan motornya dan mendekatkan ponselnya ke knalpot motornya.


" Tuh, sura motor-nya, Masa gak kedengeran? "


®®®®®®®


Thank's For You Reading.

__ADS_1


Jangan Lupa Kasih Like Dan Komen Agar Bisa Lebih Baik Lagi.


__ADS_2