
“Luc-
“Ssstthh…” Lucifer langsung menyuruh Audrey untuk diam, dengan meletakkan jari telunjuk kebibir nya.
Walaupun mulut Audrey tidak terlihat dengan jelas karena alat bantu pernapasan, tapi terdengar pelan dia berusaha menyebutkan nama Lucifer.
Sekarang yang ada dalam ruangan itu hanya ada tiga termasuk Audrey.
Secara bergantian, Audrey melihat Abraham dan Lucifer yang juga menatap nya.
“Bagaimana keadaan anda sekarang?” Abraham yang memulai berbicara.
“Apa masih terasa sakit?”
Audrey hanya menganggukkan kepala perlahan.
“Kenapa mereka berdua ada di sini?” gumam Audrey dalam hati.
“Seperti nya anda masih harus ada di sini lagi, karena luka anda, bibi.” Ucap Abraham.
Audrey mengernyitkan dahi nya, “Apa aku salah dengar?” batin nya.
“Tidak usah heran Audrey, karena aku sudah mengatakan semua nya, termasuk hubungan mu dengan ku.” Lucifer pun mulai berbicara.
“Aku akan menyuruh banyak anak buah untuk menjaga mu di sini, kau akan aman.”
__ADS_1
Audrey yang merasa bersalah pada Lucifer, dia juga tidak menyangka kalau pria itu masih perduli pada nya. Hanya seperti ini saja, dia sudah merasa senang dan bahagia. Tidak di sadari, air mata nya mengalir, dua pria itu bisa melihat dengan jelas.
“Anda jangan menangis bi, lebih baik beristirahat dan tenangkan dulu pikiran dan perasaan anda. Jangan memikirkan yang lain dulu.” Abraham mengusap air mata Audrey.
“Karena kau sudah melewati masa kritis mu, kami bisa sedikit tenang. Hhmm… beristirahat lah dulu, kami akan pergi. Nanti kalau ada keperluan, kau bisa menghubungiku melalui Aditya atau panggil saja salah satu orang yang menjaga di depan pintu.”
“Pa, bibi Audrey kan belum bisa bicara, apalagi keadaan nya seperti ini. Mau memanggil dengan cara apa?”
Lucifer mengusap hidung nya.
“Nanti biar suster saja yang menjaga mu di sini, jadi kalau ada apa-apa kau bisa memberi kode padanya.” Lucifer meralat ucapan nya lagi.
Abraham mengangguk karena sepakat dan masuk akal.
“Sebaiknya kita keluar Bram, biarkan dia istirahat lagi. Pasti mama dan isteri mu sedang menunggu kita.” Ajak Lucifer.
“Kenapa dia mau menyelamatkan ku? Apa dia benar-benar sudah memaafkan ku?” batin Audrey.
“Kalian jaga dia, jangan sampai lalai. Sesekali masuk kedalam untuk mengecek keadaan nya, siapa tahu ada yang di butuh kan nya.” Perintah Lucifer pada anak buah nya yang menjaga di depan pintu.
“Baik tuan.” Jawab mereka serentak.
Abraham melihat ada lumayan banyak orang yang menjaga di depan pintu, tidak di sangka sama sekali.
“Banyak juga ya pa anak buah nya.”
__ADS_1
“Oh, ini masih belum seperempat dari semua nya anak ku.” Ucap Lucifer bangga.
“Hhhmm.. iya kan saja lah, harus ngalah dengan orang tua.” Balas Abraham.
“Hahahahha..” tawa Lucifer merangkul putera nya dan berjalan menuju kantin.
********
Di perusahaan Adam Company, Ina yang sangat sibuk, di bantu dua asisten nya, Sakya dan Jafran, putera dari Aris dan Hendra.
Tok…tok..tok…
“Siapa itu?” tanya nya pada Sakya.
“Apa mau di bukakan pintu nya?” tanya Sakya.
“Hm..” jawab singkat Ina, karena dia sedang memeriksa laporan perusahaan.
Sakya membuka pintu, ada Metta di depan pintu.
“Metta? Ada apa?” tanya nya.
“Ada yang ingin bertemu dengan nona Ina.” Jawab Metta menunjuk Ina yang tidak melihat nya.
“Siapa dia?”
__ADS_1
“Dia tidak mau memberitahukan nama nya, tapi nona Ina pasti kenal.” Jawab Metta yang tidak tahu.