
“Bagaimana? Apa dia sudah mengatakan siapa bos nya? Dari kelompok mana?” tanya Abraham, pada Venam.
Venam menggelengkan kepala nya, “Tidak, masih tutup mulut.” Jawab Venam.
“Ck, biasa nya kamu bisa langsung dapat jawaban nya, kenapa lama yang ini?” tanya Abraham.
Abraham yang sebelum nya sudah menyuruh Venam untuk membawa salah satu dari orang yang keras kepala itu ke ruang rahasia, untuk menjalan kan plan B, yaitu interogasi secara khusus.
Ruangan yang remang, tahanan yang di ikat di rantai besi dengan keadaan berdiri, tanpa memakai baju, membiarkan tahanan nya hanya
memakai celana pendek atau ****** ***** saja.
“Bikin nambah pekerjaan saja…” Abraham maju, mengambil alih tugas.
Di dalam ruanga hanya ada Abraham, Venam dan satu orang tahanan untuk di mintai keterangan.
“Ambilkan peralatan nya. Aku ingin mulai sekarang.” Suruh Abraham, menatap tajam pada orang yang sudah di rantai.
Tanpa bertanya, Venam membawakan peti yang berisi alat-alat untuk menyiksa tahanan yang keras kepala.
Brraagghh…
Venam meletak kan kotak yang berat itu, di hadapan Abraham.
Lalu dia berdiri di belakang Abraham, menyaksikan apa yang akan di lakukan nya.
Abraham jongkok di depan orang itu, sambil memilih-milih alat mana yang akan di gunakan lebih dulu.
“Karena kau tidak mau berbicara, maka akan aku buat kau berbicara.” Ucap Abraham, menatap tajam.
“Hahahah…. Percuma saja, aku tidak akan bicara apapun, sekalipun kau membunuhku..” tawa nya menghina Abraham.
Tentu saja Abraham semakin geram, tapi dia malah tersenyum, senyum dengan makna sinis.
Alat pertama yang di ambil adalah tang, alat itu masih di mainkan di depan pria itu, dari tatapan mata nya, dia ada ketakutan.
Abraham berdiri, dengan tang di tangan nya, mendekati orang yang keras kepala itu.
“Kau mau mulai dari mana? Kaki atau tangan? Kanan atau kiri?” tanya Abraham sudah berdiri di hadapan nya.
Orang itu diam.
“Oke, karena aku lebih suka bagian kanan, jadi aku akan mulai di…. Kaki sebelah kanan ya…” Abraham jongkok. Dia memegang jempol kaki
kanan itu, lalu…
Sssrreett…
__ADS_1
Abraham mencabut paksa kuku kaki nya.
“Aaaaakkkhh…” teriak nya, menahan rasa sakit.
Sssrreetttt….
Lanjut di jari berikut nya.
“Aaaakkhh….” Masih berteriak.
“Bram, kalau nanti dia mati bagaimana?” tanya Venam yang masih menyaksikan kekejaman Abraham.
“Biarkan saja, kantor pusat kan tidak tahu kalau kita membawa nya, jadi… mati atau hidup mereka tidak akan perduli, apalagi cuma satu
nyawa saja kan…” jawab Abraham, tang nya bersiap ingin mencabut kuku jari tengah kaki nya.
Hingga lima jari kaki kanan nya sudah lepas semua, rasa sakit pria itu di lampiaskan dalam teriakan yang keras, ruangan yang kedap suara.
“A…aku…aku..ti..dak… akan..mengatakan…apa…..
“Oohhhhoooo… jangan dulu, karena aku masih belum puas bermain dengan mu. Nanti saja kau mengatakan nya ya… masih banyak yang ingin aku lakukan.” Abraham memotong ucapan pria yang sudah kesakitan itu.
“Masih ada 15 kuku jari lagi, aku juga masih ingin menaburkan bubur cabai, masih ingin memasuk kan paku, dan …….
Abraham melihat orang itu sudah merasa ketakutan.
“Aku sedang bad mood, aku ingin melampiaskan pada mu saja dulu.” Bisik Abraham, mencengkaram batang leher orang itu.
“Jangan Venam, aku masih belum puas. Nanti kalau dia masih hidup, kau bisa melanjutkan nya.” Ucap Abraham, tanpa menoleh pada Venam.
Pria yang tidak berdaya itu menggelengkan kepala.
Tang sudah di letakkan, tangan nya kembali ke peti tempat alat-alat nya.
“Aku ingin menaburkan bubuk cabai dulu, aku mau lihat, bagaimana reaksi mu. Oh iya, ternyata ada cuka juga ya… hebat, bagus buat
racikan.” Sekarang di tangan nya sudah ada bubuk cabai dan cairan cuka.
Dia berjalan mendekati orang itu lagi. sekarang dia tidak menunjukkan wajah menantang nya.
“Tidak… jangan……
“Loh? Kenapa? Sudah menyerah?” ledek Abraham, tatapan nya seperti merasa belum puas.
“Jangan dulu, biarkan aku bermain dengan mu dulu sampai puas, dan teman ku itu juga belum sempat bermain dengan mu, kau harus adil…”
ucap Abraham, menepuk pipi orang itu.
__ADS_1
Sementara di belakang, Venam tersenyum, tangan nya menutup mulut nya agar tidak terlihat.
“Apa dulu ya, cuka atau bubuk cabai? Venam, kau mau apa dulu?” tanya Abraham menoleh pada Venam.
“Kalau menurut saya, cuka dulu pak, lalu bubuk nya, supaya bubuk nya tidak terbawa angin.” Jawab venam dengan santai nya.
“Apa-apaan pak Abraham ini, sengaja bertanya seperti itu, biar orang itu mengaku dengan cepat?” gumam Venam menggelengkan kepala nya.
“Baik lah, aku akan pakai cuka dulu, jadi….
“Jangan…. Jangan, aku mohon… aku akan mengatakan nya…. Aku..
“SSsstthh… sudah ku bilang kan, jangan bicara dulu…. Aku…
“Shadow…. Shadow yang menyuruh ku, Bosa… Bosa nama pimpinan nya…. Tolong… tolong… jangan lakukann itu….. ku mohon…..” pinta laki-laki itu sambil menangis, meringis kesakitan.
Bibir Abraham tersenyum, begitu juga Venam yang masih setia menemani nya.
“Luar biasa, masih dengan sedikit cara nya saja, orang itu sudah mengaku. Hebat..” gumam Venam memuji cara kerja atasan nya.
“Ck…. Bagaimana ini… lawan nya sudah kalah, prinsip ku kalau sudah mengaku kalah, aku berhenti. Ah… enggak asik jadi nya.” Dia mundur, memasuk kan dua bahan pedas itu kedalam peti, membersihkan tangan nya.
“Satukan dia dengan yang lain nya Venam, biar orang-orang sana melihat nya.” Suruh Abraham.
“Baik Pak Abraham.” Jawab venam, memberi hormat.
******
“Hallo, Ina… makan siang bersama yuk..” ajak Aditya pada Ina melalui ponsel nya.
“Boleh, aku juga sedang bersiap-siap mau keluar. Kau mau di jemput atau menjemput ku?” tanya Ina, tangan kanan memegang ponsel, tangan kiri sedang membereskaan berkas yang berantakan di atas meja.
“Aku yang akan menjemput mu, malu dong kan kalau wanita yang menjemput laki-laki.” Ucap Aditya, yang sudah melepaskan pakaian dokter nya.
“Ya udah kalau begitu, aku tunggu di depan kantor ya. Jangan lama, udah lapar banget.” Ucap Ina, keluar dari ruangan nya.
“Oke..” setelah itu mereka mengakhiri obrolan nya.
“Bu Ina, mau makan siang di mana? Dengan siapa?” tanya Meta, yang meja kerja nya berada di depan pintu ruangan Ina.
“Rahasia…hehehehhehe..” jawab Ina menaik kan jari telunjuk sambil memicingkan salah satu mata nya.
“Pasti sama pacar nya, biarkan saja, umur nya juga sudah cocok kok untuk mencari pacar, dan…
Pletak…
Ina menjitak kepala Sakya, yang berkomentar.
__ADS_1
“Aaawww…..sakit bu bos..” Sakya memegang kepala nya yang di rasa sakit.
“Itu adalah upah dari orang yang suka bergosip..” ledek Ina.