
“Tolong kau urus semua nya.” Ucap nya dengan wajah yang semakin pucat.
“Apa sebaik nya aku mengantar anda kerumah sakit dulu? Wajah anda sangat pucat.” Adley menawarkan bantuan.
Abraham menolak dengan menggelengkan kepala nya.
“Kalau begitu aku pergi dulu, nanti kalau ada yang penting..uuhukk…uuhhuukk… hubungi saja aku..uuhukk..uuhhuukkk.."
“Baik pak.” Jawab Ridwan.
“Aku akan mengantar anda pulang-
Masih menolak nya, Abraham ingin pulang sendiri.
Brugh…
“Pak Abraham…”
Karena sudah merasa lemah, Abraham hampir saja jatuh, dia berpegangan pada meja di dekat pintu.
Setelah merasa sedikit bertenaga, dia melanjutkan langkah nya lagi.
“Apa menurut mu dia tidak akan apa-apa?” Ridwan bertanya pada Adley yang juga khawatir.
“Mudah-mudahan saja.”
************
__ADS_1
“Aduh… kepala ku pusing banget.” Bellova memijit kepala nya, di kamar seorang diri.
“Padahal aku sudah minum obat dan banyak minum air putih juga, tapi kenapa masih sakit sih? Biasa nya kalau aku minum obat, cepat sembuh nya.”
Bellova yang juga sedang sakit, dengan tubuh yang lemah tidak berdaya di rumah. Selama beberapa hari, karena memikirkan tentang sikap suami nya, dia tidak memperhatikan kesehatan nya. Tidak pernah berbicara atau mengobrol, walaupun Abraham pulang kerumah, dan dia juga selalu memberikan selimut pada suami nya yang terus-terusan tidur di sofa panjang, dan pagi hari juga sudah pergi sebelum bertemu dengan Bellova, dia sengaja menghindar dari isteri nya.
Abraham yang setiap pulang tengah malam, sebenar nya tahu kalau isteri nya memakaikan nya selimut, hanya saja dia diam,pura-pura tidak tahu. Dia tidak tahu jawaban apa yang akan di berikan pada Bellova jika wanita itu bertanya pada nya.
Kembali lagi pada Bellova, seharian dia berada di tempat tidur, jika dia turun dan sedikit melangkah saja, tubuh nya akan lemah dan jatuh.
“Uuhuuk..uuuhuukk… hhahh…”
“Mungkin kalau aku tidur sebentar, akan baikkan lagi.”
Bellova berbaring lagi, masuk kedalam selimut.
**********
“Hhhuueekk…hhmmpp…”
Dia memarkirkan mobil nya ke sisi jalan, berhenti untuk membuang sesuatu yang seperti ingin keluar dari mulut nya.
“Hhhheekk…hhhuueekk…uuhuuk..” hanya cairan saja yang keluar dari mulut nya.
“Hah..” setelah mengeluarkan, dia membersihkan mulut nya, memegang perut dan kepala nya bergantian, wajah nya sudah keringat dingin. Hampir satu jam dia berhenti untuk menenangkan perut nya.
Dirasa sudah lebih baik, dia masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Melajukan kembali perjalanan nya dengan kecepatan sedang, terkadang pandangan nya juga buram dan tanpa sadar memejamkan mata walau sebentar.
Pengantin baru ini merasakan sakit yang sama. Mereka tidak tahu, apa yang mengganjal di dalam hati nya.
Waktu yang di gunakan untuk tiba di rumah nya sedikit lebih lama seperti biasa.
“Sampai juga.” Merasa lega, dia segera turun dari mobil, dengan langkah lemah dan sempoyongan, padahal dia sudah berusaha untuk bertahan.
Bellova terbangun..
“Aku haus.” Turun dari ranjang untuk mengambil air minum.
Dengan langkah pelan, menarik selimut nya.
“Air nya sudah habis ya? berarti aku harus kedapur.” Gelas kaca nya sudah kosong.
Abraham sudah berada di depan pintu, ingin membuka dengan kunci cadangan yang di bawa.
Bbrruughh…
Pprranng…
Bellova jatuh pingsan, gelas di tangan nya juga jatuh dan pecah. Sebelum berhasil membuka pintu kamar, dia sudah pingsan di lantai.
Klik…
Abraham berhasil masuk setelah membuka pintu rumah nya. Dengan pelan, tanpa membuka sepatu nya, dia berjalan menuju sofa panjang..
__ADS_1
Bbrrruughh…
Belum sampai di sofa, tubuh nya pun jatuh pingsan.