
Monika baru saja berhenti di depan kantor polisi tempat Abraham bekerja. Tepat waktu nya Adley juga baru memarkirkan mobil nya.
“Selamat pagi pak Adley.” Sapa Monik melihat Adley yang baru turun dari mobil.
“Pagi.” Jawab Adley sembari melihat kotak makanan yang di bawa Monik.
“Biar aku bantu.” Adley mengangkat beberapa kotak untuk di bawa masuk kedalam.
“Terima kasih pak Adley.” Ucap Monik juga sudah membawa beberapa nya.
Mereka berdua masuk di lihat Ridwan dan beberapa rekan lain nya.
“Kamu sudah datang Mon? Aku bantu ya.” Ridwan pun berdiri untuk membantu sisa di mobil Monik yang belum di bawa.
Satu-persatu sudah di bawa masuk ke kantor, dan sudah langsung di ambil para petugas dengan mencatat nama bagi siapa yang sudah mengambil nya.
Adley melihat Monik terus tersenyum sembari mencatat nama mereka ketika mengambil kotak makanan nya, dan terakhir, baru lah Adley mengambil bagian nya, itupun setelah di ingatkan Venam.
“Kamu setiap hari datang kesini membawa makanan untuk kami, terkadang sehari sampai tiga kali kamu kesini. Apa tidak capek? Kamu tidak punya asisten?” Tanya Adley merasa kasihan melihat Monik yang terlihat lelah.
__ADS_1
“Terkadang aku membawa satu atau dua orang kok. Aku tidak terlalu capek hanya untuk mengantar makanan nya. Mereka juga kan pasti sangat sibuk juga.” Jawab Monik.
Adley menganggukkan kepala nya.
Ridwan mengajak Monik mengobrol sebentar setelah selesai menjawab pertanyaan Adley. Setiap mereka mengobrol, mereka tersenyum dan terlihat sangat senang bertemu dan mengobrol.
“Kalau begitu, aku pamit dulu ya. Kalian cepat lah sarapan nya.” Ucap Monik pamit.
“Terima kasih ya Monik, hati-hati di jalan.” Jawab Ridwan dan lainnya.
Adley hanya mengangguk kan kepala, seperti biasa saja, namun dia juga melirik kepergian Monik.
Adley tersadar dengan ucapan Venam, wajah nya cemberut tidak suka dengan candaan Venam.
“Ngomong-ngomong, Abraham sudah dalam perjalanan menuju Jakarta loh. Kita harus siap-siap kena omelan dari nya.” Ucap Venam mengalihkan pembicaraan.
Adley dan lain nya menghela napas, merasakan ucapan Venam yang akan jadi kenyataan.
“Yah, mau bagaimana lagi, hanya pak Abraham yang berani mengatasi kasus berat seperti ini. Kita hanyalah bawahan yang mengikuti perintah atasan. Kalau kita mengambil tindakan gegabah yang tidak sesuai dengan apa yang Pak Abraham inginkan, repot kan?” Jawab Ridwan.
__ADS_1
“Kau benar. Tapi ada yang aneh. Kenapa Deadly Poison juga ikut menghalangi pergerakan Shadow? Seperti mereka mendukung pihak kepolisian untuk mengalahkan Shadow.” Tanya Ridwan yang tidak tahu apa-apa.
Hanya Adley yang tahu, apa hubungan Deadly Poison dan Abraham, dia hanya diam saja menutup rahasia itu.
“Itu karena Shadow kan punya banyak musuh, tapi mereka tidak bisa menunjukkan nya secara terang-terangan. Mereka sadar dengan kemampuan mereka yang kurang.” Jawab Venam.
Mereka mengobrol sembari memakan sarapan mereka. Dan seperti biasa, setiap hari dan setiap waktu juga selalu ada orang-orang yang melapor dan ada penjahat yang berhasil di tangkap.
****************
“Jadi, kapan kira-kira Abraham di Jakarta?” Tanya Satmaka yang sedang makan malam bersama Rakha dan Arshinta.
“Mungkin besok malam sudah di rumah nya. Dia bersama dengan Bellova.” Jawab Arshinta sembari menyuapi Rakha makan.
“Bellova yang waktu itu di bawa ketika ulang tahun papa kamu kan?” Tanya Satmaka teringat.
“Iya. Dia juga yang bekerja di rumah kakak. Mulai dari memasak, membersihkan rumah, dan mencuci pakaian nya. Kata nya dia sangat suka dengan hasil kerja Bellova, sesuai dengan yang dia inginkan.” Jawab Arshinta.
“Wah, apa jangan-jangan Abraham juga suka dengan Bellova? Maksud ku, mencintai…. Jatuh cinta gitu.” Tebak Satmaka.
__ADS_1
Arshinta berhenti melanjutkan makan nya mendengar ucapan Satmaka yang terdengar seperti masuk akal.