KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
Episode 38


__ADS_3

“Apa??” teriak Arshinta tidak percaya.


Arshinta yang bangkit berdiri karena terkejut.


“Benar. Aku sangat takut sekali. Aku langsung memberitahukan pada yang lain nya, agar segera membatalkan keinginan mereka, tapi terlambat. Penjahat itu sudah langsung membius kami, lalu pada saat aku terbangun, aku dan yang lain nya sudah berada dalam ruangan yang gelap dan pengap. Di situlah aku melihat, mereka sedang mengeluarkan organ-organ dalam tubuh manusia.”


Ina menggelengkan kepala nya, Arshinta menutup mulut, merasa sedikit mual. Abraham masih menyimak dengan serius.


“Pasti mereka sangat kesakitan….


“Menurut ku tidak. Karena mereka juga dalam keadaan di bius, dan saat efek obat bius itu habis, mereka juga sudah meninggal. Semua nya di ambil, mulai dari kulit kepala yang memiliki rambut hitam dan indah, biji mata,


jempol kaki yang bagus, bahkan darah juga di ambil setelah mengecek golongan darah nya….


“Tunggu… siapa yang melakukan pengecekan darah? Apa mereka juga?” tanya Abraham, memotong kalimat Abraham.


“Saya tidak tahu siapa, tapi menurut saya, orang itu seperti sudah sangat ahli dan professional.” Jawab Bellova.


“Apa kau tahu wajah mereka? Maksud ku apa kau mengenal nya?” tanya Abraham.


Bellova menganggukkan kepala nya.


“Abraham, bukan kah kalian sudah menangkap anak buah nya? Kenapa….


“Mereka sudah meninggal kak…


“Apa? Kenapa bisa begitu kak? Apa kau memukul nya dengan keras?” tanya Arshinta yang tahu betul karakter kakak nya yang ringan tangan itu.


“Aku memang sedikit memberikan mereka pelajaran, tapi tidak terlalu parah, masih sesuai prosedur lah. Esok hari nya, mereka sudah tidak bernyawa lagi, saat di lihat di CCTV, keluar busa dari mulut mereka, seperti


nya mereka sengaja melakukan nya. Dan kata Leo juga begitu, ada cairan berwarna hitam di tubuh mereka, yang di duga sudah mereka siapkan setiap melakukan aksi nya.” Ucap Abraham sambil mengingat-ingat kejadian itu.


“Wah… parah sekali ya. Mereka sangat setia ternyata, hanya saja salah memilih.”


“Mereka juga sebenar nya di ancam no….Arshinta. saya pernah mendengar nya, kalau ada dari mereka yang isteri nya sedang hamil, dan di culik, kalau suami nya tidak mau bekerja sama, ya isteri nya juga akan di bunuh. Ada juga yang karena butuh uang sih.” Ucap Bellova memotong ucapan Arshinta.


“Apa kau pernah bertemu dengan bos nya? Bellova?” tanya Abraham, Arshinta dan Ina juga menunggu jawaban nya.

__ADS_1


“Waktu itu, ada seorang pria yang datang, dia memakai jubah hitam yang menutupi kepala nya, seperti penganut sesat gitu, hanya sepasang mata nya saja yang terlihat. Tapi mereka memanggil nya ‘Bossa’.”


“Bossa atau Bos?”


“Bossa, saya jelas kok mendengar nya, dia di panggil dengan nama itu, ‘Bossa’. Dan dia berjalan pincang, memakai tongkat untuk membantu nya berjalan.”


“Kenapa aku merasa merinding ya mendengar nya.” Ucap Arshinta mengusap lengan nya yang dirasakan bulu kuduk berdiri.


“Hhhmmm… apa dia penganut ajaran sesat?..... oh ya, apa ‘Bossa’ itu memakan daging manusia juga tidak…


“Hhhuuuwweeekkk….” Arshinta merasa mual.


“Pertanyaan mu itu kak Abraham….. menjijikan…”


“Seperti nya tidak… tapi aku pernah melihat dia dan anak buah nya meminum darah dari anak buah nya yang berhianat. Si pria itu yang


langsung turun tangan menggorok leher anak buah nya, dan menampung darah dalam


ember gitu. Yang lain nya tidak mau meminum nya, tapi karena ketakutan, mau


tidak mau….akhir nya mau.” Ucap Bellova.


“Kamu hebat ya, bisa menceritakan dengan wajah datar seperti itu. arshinta saja yang beringas begini saja bisa mual.” Ucap ina yang merasa jijik.


“Saya sebenar nya merasa jijik….Ina. apa tidak terlihat dari wajah ku? Sekarang saja wajah ku ini sedang berespresi jijik dan mual… lihat…”


ucap Bellova menunjuk ke wajah nya yang tetap saja masih datar. Ketiga orang itu menghela nafas sambil menggelengkan kepala nya. Bellova memiringkan kepala


nya, karena mereka tidak ada yang percaya.


*******


Beberapa hari kemudian di dalam kantor polisi, ketika Abraham sedang mengamati kasus-kasus yang belum terpecahkan.


“Hallo bos…” ucapan yang keluar dari mulut seorang pria yang kenal dengan Abraham dan Adley. Mereka berdua melihat asal suara yang ternyata itu adalah Venam. Venam yang lebih sering sebagai intel di lapangan. Melihat


pria itu sudah datang, itu arti nya dia ingin memberikan informasi dari yang sudah di amati nya.

__ADS_1


“Bagaimana? Apa ada informasi yang kau dapat?” tanya Abraham pada Venam.


“Aku dan yang lain nya sudah mengamati rumah yang anda sebutkan, tapi beberapa hari itu kami tidak pernah melihat ada pria yang keluar masuk dari rumah itu. Hanya pelayan dan seorang perempuan yang sudah setengah tua, yang aku rasa dia adalah majikan di sana.”


“Dari mana kau tahu kalau dia adalah majikan nya?” tanya Adley memotong ucapan Venam.


“Di lihat dari pakaian dan perhiasan yang di pakai nya. Kalau dari hasil pengamatan kami, ada empat orang saja yang tinggal di dalam


rumah itu, dan tidak ada pria yang kami temui.” Ucap Venam dengan serius. Pria


bertubuh sedang, yang memiliki wajah sangar namun bisa berubah menjadi wajah yang memprihatinkan, sering mendapat julukan sebagai pria ‘bunglon’, karena dia bisa menipu dengan penampilan nya.


“Apa kau melihat korban ada di dalam rumah itu?” tanya Abraham.


“Tidak ada.”


“Kau yakin?” Adley mempertanyakan nya lagi.


“Yakin. Karena rekan ku juga mengatakan hal yang sama.” Jawaban yang sama keluar dari mulut Venam.


“Untuk kandang sapi yang kalian maksud, memang kami mendengar suara nya. Oh ya, kata tetangga sekitar, mereka mengatakan kalau suami dari ibu-ibu itu, sudah satu setengah bulan tidak kelihatan di situ,


terakhir mereka mengatakan kalau dia pergi ke pasar tradisional untuk belanja sesuatu.”


“Tetap awasi rumah dan orang-orang yang terlibat di dalam nya.” Perintah Abraham setelah berpikir.


“Pak Abraham, kenapa kita tidak langsung masuk kedalam rumah itu secara paksa? Toh anda kan seorang polisi, tidak ada salah nya jika anda melakukan itu.” tanya Venam, dia juga tidak sabar untuk menunggu kegiatan itu.


“Jangan dulu, lagi pula kita tidak punya bukti untuk masuk. Saat ini yang bisa kita lakukan adalah mengamati nya dulu, jangan sampai mereka melakukan pengaduan balik.” Abraham menolak masukan dari Venam.


Mereka menganggukkan kepala nya.


“Baiklah kalau begitu rencana anda. Aku akan pergi lagi untuk melakukan tugas. Selamat siang dan sampai jumpa lagi pak Abraham.” Ucap Venam memberi hormat.


“Iya, tapi ingat! Jangan melakukan gerakan yang mencurigakan.”


“Sip!”

__ADS_1


Venam mengangkat jempol untuk di tunjukkan pada Abraham dan pergi.


__ADS_2