
“Maka nya jangan sok jago. Karena kau yang menampar ku duluan kan, aku membalas nya juga.” Ucap pria itu tertawa.
“Bren***k..” masih tanpa rasa takut, Monic memaki pria itu.
Pria itu semakin marah dan kesal. Mata nya sampai melotot karena keangkuhan wanita itu.
“Dasar kau…..
Pria itu kembali mengangkat tangan nya, hendak menampar Monic.
Tap…
Tangan nya tertahan. Ada tangan lain yang menahan tangan pria itu. monic yang menutup mata, perlahan membuka mata nya karena merasa ada yang aneh.
Saat Monic sudah membuka mata nya dengan penuh, terlihat ada seorang pria lain yang membelakangi nya, menghadap pria yang ingin menampar nya. Dia kaget, karena ternyata pria yang menolong nya itu adalah Adley, rekan
dari Abraham.
“Woy… minggir, kau mengganggu pekerjaan ku!” suruh pria itu dengan sombong.
Adley menghempaskan tangan pria yang di tangkap nya itu.
“Wooyyy… kau yang seharus nya minggir! Laki-laki kok berani menyakiti cewek. Di mana harga diri mu?” tanya Adley menyindir.
“Bukan urusan mu… wanita itu yang duluan menampar ku. Kau lihat ini? Wajah ku yang tampan ini merah karena tamparan nya.” Dia menunjuk pada pipi nya yang memang merah.
Adley berbalik melihat Monic yang ada di belakang nya.
Dia melihat Monic yang menatap nya, seakan tatapan bersyukur nya.
“Dia yang salah duluan, dia dan teman nya ingin membawa kami bersama nya, aku sudah menolak tapi….
“Kenapa pipi mu?” tiba-tiba Adley bertanya pada Monic, di lihat wajah gadis itu juga memerah bukan karena merasa malu, tapi karena tamparan.
“Apa?” Monica bertanya pada Adley, terkejut dengan pertanyaan pria itu.
“Pipi mu itu kenapa? Apa si cacing ini yang melakukan nya?” tanya Adley lagi, menunjuk pria kurus yang ada di hadapan nya.
Mata Monic berkaca-kaca, dan mengangguk kan kepala nya.
Bbuugghh…..BBbuugghh…
Adley memukul pria kurus yang di sebut cacing itu, memukul nya beberapa kali. Tidak ada perlawanan dari orang itu, karena pukulan Adley yang cepat dan kuat.
Teman-teman nya tidak berani untuk membantu, karena mereka juga ketakutan.
“Ber….berhenti…..
Pria yang di pukuli itu menjerit, meminta agar Adley berhenti memukul nya, Adley tidak perduli, dia terus memukul orang itu, dada,
perut, kaki.
Monica melihat jelas, betapa marah nya wajah Adley memukul pria itu. tanpa di sadari nya, bibir nya terangkat dan tersenyum. Sekarang di
mata nya, ada cahaya ketertarikan yang terpancar dari tubuh Adley.
__ADS_1
Rekan dari si pria itu melepaskan tangan teman Monica, dan mereka berusaha memisahkan pertengkaran itu.
“Aduh, bagaimana ini?” tanya nya pada teman nya, mereka masih diam memperhatikan.
“Apa kita pergi saja? Aku takut kalau di pukuli juga sama orang gila itu.” ucap rekan nya yang lain.
Desy dan Tari mendekati Monica yang berdiri menatap Adley.
“Wah… keren banget cowok itu….”ucap Tari.
“Iya, tampan lagi…”ucap Desy.
Mereka memuji Adley di dekat Monica. Dia melirik kedua teman nya dengan tatapan marah, tidak suka.
Perkelahian masih terjadi, yang lain hanya menatapi adegan mereka.
“Ampun bos, ampun…sudah cukup, sakit sekali bos..” orang itu memohon pada Adley yang mengangkat tangan nya.
Adley berhenti, tangan nya masih menarik kerah baju pria yang sudah tidak berdaya itu. Wajah nya juga sudah membengkak, darah sudah keluar dari lubang hidung.
Adley menghempaskan tubuh orang itu.
“Pergi!!” teriak nya.
Teman nya segera mengangkat teman nya yang sudah babak belur, dan mereka segera pergi.
Adley menepuk tangan nya, dan berbalik ke arah Monica dan teman nya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Adley.
Karena dirasa tidak ada jawaban, Adley menyentuh pipi Monica yang merah karena tamparan itu, menggerak-gerak kan ke kiri dan kekanan.
Desy dan Tari melihat Monica, mereka heran kenapa Adley menghampiri Monica, dan memegang pipi nya.
“Apa karena pipi mu yang sakit ini, membuat mu tidak bisa bicara?” tanya Adley lagi.
Monica tetap tidak menjawab, tapi tetap menatap nya.
“Ck….sudah lah, sebaik nya kalian pulang saja…” suruh Adley, melihat Desy dan Tari.
Adley melihat barang belanjaan yang di minta pacar nya, sudah jatuh berantakan, bahkan ice lemon tea nya sudah pecah.
Dia memegang pinggang menatap pesanan itu.
“Apa itu pesanan mu? Apa rusak berat ya?” tanya Monica, mendekati Adley.
Adley berbalik melihat Monica.
“Akhir nya bicara juga kau. Aku pikir tidak bisa bicara lagi.” ucap Adley melihat nya sekilas.
Monica mengambil barang itu, memeriksa nya.
“Makanan dan…. Minuman? Ini untuk siapa?” tanya Monica, melihat isi dalam plastic.
“Untuk pa….
__ADS_1
“Oh, untuk majikan mu itu ya…?” ledek Monica, memotong ucapan Adley.
Adley tidak suka dengan ucapan Monic. Dia pergi meninggalkan Monic, masuk kembali ke dalam mall yang ada di dekat nya.
“Kalian pulang sendiri ya..” suruh nya pada kedua teman nya.
Si supir Monic yang sudah datang, turun membuka pintu.
“Pak, antarkan kedua teman ku ini pulang ya, aku masih ada urusan..”
“Tapi non…
“Sudah, pergi saja.” Monic berlari mengejar Adley yang sudah berjalan sedikit jauh dari nya.
Tap…Tap..Tap….
Monica berlari hingga sudah berada di samping Adley. Adley melihat wanita itu.
“Kau? Ngapain lagi sih?” tanya nya dengan sinis, masih berjalan.
“Aku mau ngucapin terima kasih karena kamu tadi sudah menolong ku.” Ucap Monic, dia tersenyum.
“Mmm… sudah pergi lah.” Jawab nya singkat terus berjalan ke depan.
Monica memonyongkan bibir nya, tapi terus berjalan mengikuti Adley.
Adley berhenti, kesal karena wanita itu terus mengikuti nya.
“Berhenti lah mengikuti ku, pulang sana!” ucap Adley.
“Aku ingin membantu mu, karena aku, pesanan majikan mu jadi hancur, jadi biar aku ganti rugi ya…” bujuk Monica.
“Tidak usah, aku tidak perlu, apa kau pikir aku tidak punya uang. Pergi sana!” Adley menolak tawaran dari Monica.
Monica tidak mau mengalah, dia terus mengikuti Adley. Pria itu sampai menggelengkan kepala nya.
Mereka masuk kedalam toko makanan, di sambut pelayan yang ada di dalam.
Monica yang memainkan tali tas nya, melihat sekitar, hingga mengikuti Adley ke salah satu menu.
“Selamat sore Pak, mau pesan apa?” salah satu karyawan toko menyapa Adley.
“Siang mba, saya mau pesan…
Adley memesan semua makanan pesanan Ica, sedangkan Monic melihat ke kiri dan ke kanan. Banyak yang melihat mereka.
“Baik, total nya XXX ya pak.” Ucap petugas kasir.
Adley ingin mengeluarkan dompet nya.
“Ini mba, pakai kartu saya saja.” Monic langsung memberikan kartu kredit nya untuk membayar biaya pesanan Adley.
“Tidak usah!...
“Sudah, tidak apa-apa, pakai ini saja…” bujuk nya.
__ADS_1