
“Lalu……. Bagaimana cara kalian akan mengatasi nya?” tanya Arshinta menaikkan salah satu alis dengan senyum licik nya.
Tidak ada perlawanan lagi, semua nya diam membisu. Mereka hanya saling menatap.
“Jangan kalian pikir aku tidak tahu dengan apa yang kalian lakukan. Walaupun kalian bekerja di sini berapa tahun pun, aku tidak perduli, selama dia melakukan kesalahan yang sama berkali-kali….. akan aku pecat. Aku
punya banyak mata-mata loh di sini, di antara kalian, dan bukan cuma Ruly saja yang aku miliki!
Suasana diam. Tidak ada yang berani melihat wajah Arshinta.
“Untuk guru-guru yang tidak ada nama yang di sebut kan tadi, segera lakukan tugas kalian. Dan ini juga bisa menjadi peringatan buat kalian, agar tidak mengikuti jejak ‘guru-guru’ bren***k seperti mereka!!”
Arshinta mengatakan dengan tegas, seolah itu adalah kejadian yang terakhir di sekolah nya. Satu persatu guru itu pergi.
Sekarang tatapan pandangan Arshinta fokus pada guru baru.
Mereka juga gugup dan khawatir, padahal belum melakukan apa-apa.
“Maafkan aku atas kejadian tadi, aku hanya tidak ingin ada guru yang seperti mereka. Tapi selama kalian tidak melakukan pengajaran yang di luar dari prosedur mengajar, kalian tenang saja. Aku hanya marah dan ganas pada mereka yang membangkang, melawan dan penjahat!”
Mereka menganggukkan kepala.
“Kalian juga silahkan mulai mengajar nya. Ruly, berikan jadwal mereka.”
*************
“Abraham….. lihat ini….
Adley berlari ingin memberitahukan Abraham dengan cepat. Langkah kaki nya yang panjang dan suara dari sepatu keras nya, terdengar jelas. Siapapun yang mendengar akan merasa berisik dan menutup telinga.
“Bram, aku baru saja menemukan informasi tentang wanita yang di temukan selamat 5 tahun yang lalu.”
“Maksud nya? Wanita apa?” Abraham lupa dengan apa yang di ucapkan rekan nya itu beberapa hari yang lalu.
“Itu loh, wanita yang korban penculikan secara besar-besaran, dan yang masih selamat itu. sudah ingat kan?” tanya Adley
menatap serius pada nya.
“Oh…. Iya, ada informasi dari nya?”
“Ada, nama wanita itu ternyata adalah Fenara Kamaniai Harun, kau tahu kan siapa dia?”
__ADS_1
Adley menunggu respon dari Abraham.
“Maksud mu…. Itu adalah….adik perempuan nya… Nathan?.... Satmaka?” Abraham menaikkan jari telunjuk nya pada Adley.
Adley menganggukkan kepala nya, karena apa yang di katakan Abraham benar.
“Tapi kan….. wanita itu sedang di rumah sakit jiwa, dan bagaimana kita bisa mencari informasi dari nya? Dan aku juga yakin kalau
Satmaka tahu, dia pasti akan marah dan tidak mengijinkan kita bertanya pada adik nya itu.”
“Iya juga sih…. Dia pasti sangat trauma, dan penyakit nya kambuh lagi….. tapi…. Tidak ada salah nya kan, kalau kita menemui wanita itu,
sekalian kita ajak Satmaka nya, kita tidak usah memberikan pertanyaan pada nya,
hanya cukup memperhatikan nya saja. Aku rasa Satmaka tidak akan keberatan.”
Ucap Adley.
“Iya, kau benar. Kalau begitu aku akan bertanya dulu pada Satmaka, kalau dia setuju, kita akan kesana.”
***********
Oksana dan Gwen saat ini sudah berada di perusahaan Adam Company. Mereka sebagai model dari pakaian hasil terbaru dari desainer yang berada dalam naungan perusahaan yang Ina kelola. Semua karyawan menyukai kerja sama dengan dua model cantik, itu karena menurut mereka, kedua gadis muda itu sangat ramah dan bisa di ajak bekerja sama.
Ina memperhatikan dari belakang. Sesekali memberikan semangat pada dua orang yang sudah di anggap seperti adik sendiri.
“Apa kalian tidak ada kerjaan?” tanya Ina dengan melipat tangan di depan dada.
Ina yang berdiri di belakang fotografer yang sedang mengambil gambar.
“Tidak ada bos, pekerjaan ku sudah selesai.” Jawab Sakya yang berdiri di samping Ina.
“Sama bos, aku juga… paling tinggal tunggu jam pulang kerja nya saja.” Zafran pun menjawab sama seperti rekan nya. Tanpa merasa bersalah dan santai, mereka berdua seperti bos perusahaan yang menyaksikan pemotretan.
Ina menghela nafas nya. Tidak tahu harus bilang apa lagi.
Padahal pertanyaan itu kan sebagai sindiran di gunakan untuk mereka berdua.
Tapi mereka malah menjawab seperti tidak takut.
“Nona Oksana cantik ya…
__ADS_1
“Tidak, lebih cantik nona Gwen…..
“Nona Gwen memang cantik, tapi masih lebih cantik lagi nona Oksana. Lihat kaki nya, sangat panjang kan….
Sakya dan Zafran kesal dengan perbedaan pendapat.
“Cukup! Kalian kembali bekerja sekarang!!” ucap Ina dengan tegas.
“Tapi kan bos…
“Siapa yang membantah, akan aku pecat sekarang juga! Besok tidak usah masuk kerja!” ancam Ina memegang pinggang.
Sakya dan Zafran cemberut, kecewa karena tidak bisa melihat dua wanita yang sangat cantik itu.
“Masih tidak mau kerja nih? Jadi…
“Iya..iya bos, kami akan kembali bekerja bos….. ampun bos ku..” ucap Sakya melipat tangan di depan Ina.
Mereka berdua akhir nya pergi, sedangkan Ina merasa puas.
Apa yang di katakan Ina tidak benar. Hanya saja dia tidak ingin ada gossip dari karyawan lain tentang pembedaan karyawan.
***********
Jamilah dan guru-guru yang di coret dari daftar mengajar di sekolah milik nya, sudah keluar dan meninggalkan sekolah. Semua nya merasa kesal dan tidan bisa menerima dengan pemecatan yang di anggap memalukan nya.
Arshinta kembali duduk di ruangan. Tidak lama,Ruly datang dengan membawa kan es krim pesanan nya.
“Bu Shinta, ini es krim dan brownies pesanan anda.” Segera di letakkan di atas meja Arshinta.
“Terima kasih ya Rul.” Cepat di buka kemasan es krim, dan menyendokkan ke dalam mulut nya.
“Hhhhaaahh…… enak banget. Rasa nya adem….”
“Bu Shinta, apa anda tidak takut dengan perlawanan dari mereka?” tanya Ruly yang merasa khawatir.
“Perlawanan apa dan siapa?” tanya nya sambil menyendokkan lagi es krim cup di tangan nya.
“Seperti yang ada tahu, mereka sangat marah dan benci dengan perlakuan anda. Saya takut nya mereka akan balas dendam pada anda.”
“Coba saja kalau mereka berani, aku tidak takut. Masih untung kan aku hanya mengeluarkan mereka saja, aku tidak menyuruh mereka mengembalikan uang yang mereka curi dari sekolah ini, tidak di penjara juga.” Jawab Arshinta dengan sangat santai.
__ADS_1
“Memang ya, ibu Arshinta ini sangat santai orang nya. Aku dengar dia sudah belajar banyak tentang bela diri, jadi buat apa aku harus khawatir pada nya.” Gumam Ruly tersenyum sendiri.