
“Kenapa marah? Kan memang benar kalau aku adalah keturunan bos mafia.” Ucap Abraham memberi respon.
“Iya, tapi bagaimana mereka bisa tahu? Dan memangnya kenapa?” tanya Venam masih kesal.
“Dan anda lihat di sini ‘ Komisaris Abraham sudah beberapa kali melakukan pembunuhan sadis, yang tidak jauh berbeda dengan orang tuanya yang pemimpin kejahatan terbesar di dunia, bahkan posisinya adalah hasil suap yang besar dari keluarga mafianya’. Bagaimana bisa mereka berasumsi seperti ini? Rasanya aku ingin menyeret mereka dan membawanya ke hutan untuk membunuhnya!” gerutu Venam.
“Benar! Aku sepakat dengan mu Venam. Sebaiknya kita culik mereka, aku juga jadi terpancing emosi.” Balas Ridwan mendukung Venam.
Venam dan Ridwan menepukkan tangannya.
************
Di lain tempat, Lucifer juga membaca koran yang baru saja di beli pelayannya. Berita yang sama di berikan Venam pada Abraham.
Marah? Tentu saja Lucifer merasakan itu.
Dia mengambil ponsel yang selalu dibawa nya. Mencari nomor seseorang yang ingin di hubungi.
“Aris! Hancurkan kantor berita yang sudah merusak nama Abraham, jangan membunuhnya tapi beri mereka pelajaran.” Perintahnya pada Aris yang mengangkat panggilannya.
“Baik tuan.” Jawab Aris dengan yakin.
Setelah berbicara seperti itu, Abraham meletakkan ponselnya kembali di atas meja.
__ADS_1
Bellova datang, dengan nampan berisi kopi dan potongan buah untuk papa mertuanya.
“Papa, ini kopi dan buah untuk papa.” Bellova meletakkannya ke atas meja, di samping ponsel mertuanya.
“Terima kasih menantuku.” Adam segera mengambil gelas kopi dari Bellova dan meminumnya.
“Saya permisi kembali kedapur lagi ya Pa.” Bellova memeluk nampan.
“Mm. Apa kau nyaman tinggal disini?” tanya papa mertuanya.
“I.. iya pa.” jawab Bellova gugup.
“Baguslah. Kalau ada yang kau inginkan kau bisa meminta pada mamamu dan Abraham. Jangan sungkan.”
“Iya pa, terima kasih.” Sahut Bellova dengan tersenyum dan melangkah menuju dapur, dimana di sana ada Ibu dan Ibu mertuanya. Sedangkan Satmaka, Arshinta kembali bekerja, dan sekalian mengantar Rakha ke
sekolah.
**************
Aris dan Hendra datang ke salah satu kantor berita koran. Perusahaan yang sudah memiliki nama besar di dunia berita. Mereka juga membawa beberapa anak buah. Tanpa ijin dan sopan,mereka masuk ke kantor dengan membawa tongkat besi di tangannya. Mereka memukul meja, layar besar, computer dan semua barang-barang mereka hancurkan.
“Aaahhh… apa yang mereka lakukan?”
__ADS_1
“Siapa mereka? Kenapa mereka melakukan itu?”
Pertanyaan dari mereka yang bekerja di perusahaan itu.
Aris dan yang lainnya dengan sengaja memang melakukan keributan dan kekacauan.
Karyawan-karyawan disana berusaha menghindar dari amukan Aris, dan juga dari pecahan-pecahan barang yang mereka hancurkan.
Beberapa security pun datang untuk menghentikan mereka.
“Berhenti! Apa yang kalian lakukan?”
“Siapa kalian? berhenti!”
Security- security itu berusaha menghentikan mereka, tapi mereka kalah karena jumlah Aris yang lebih banyak dari mereka.
“Cepat kalian hancurkan tempat ini!” teriak Hendra pada anak buahnya.
“Siap bos!” jawab mereka serentak mengangkat tongkat besinya.
Teriakan-teriakan dari mereka semakin keras, keluar dari tempat posisi mereka bekerja.
“Ada apa ini? Apa yang kalian lakukan?” tanya seorang wakil dari perusahaan itu. Seorang pria tua kurus dan tinggi dengan rambut yang sudah memiliki uban.
__ADS_1
“Kami akan menghancurkan tempat ini! Mau apa kau? Apa kau mau kami hancurkan juga?” jawab anak buah Lucifer dengan sombong.