KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 195


__ADS_3

Berkat kerja keras Aditya dan Satmaka, Abraham bisa di angkat dan di baringkan di samping Bellova.


Aditya pun cepat untuk memeriksa keadaan mereka berdua.


“Sejak kapan mereka pingsan? Apakah secara bersamaan begini?” Tanya Ina yang tahu Bellova juga pingsan.


“Entahlah, kami juga tidak tahu, saat baru datang, Abraham sudah ada di depan pintu.”


“Seperti nya mereka sama-sama tidak tahu kalau mereka sama-sama pingsan, belum sempat bertemu sudah pingsan.” Ucap Satmaka yang memperhatikan Abraham.


“Bagaimana ini? Padahal sebentar lagi kan acara resepsi mereka. Apa kita tunda saja dulu?” Arshinta meminta pendapat dari kakak nya.


Ina dan lain nya juga tidak bisa memberi jawaban, karena mereka juga tidak tahu harus melakukan apa.


Selama pasangan itu belum bangun, Arshinta, Ina dan pasangan nya masih setia menunggu dengan khawatir.


“Aku yakin mereka sedang bertengkar.” Tebak Aditya yang menyadari nya.


“Kenapa kau mengatakan seperti itu?” Arshinta yang ingin tahu.


“Adley mengatakan padaku kalau akhir-akhir ini sikap Abraham berbeda, di tambah lagi sering pulang larut malam dan tidak menerima makan siang dari Bellova. Itu sih menurut ku ya, sebaik nya kita tanyakan saja nanti


pada mereka berdua.” Jawab Aditya yang sedikit tidak yakin.

__ADS_1


“Apa ada yang mau kopi atau sesuatu? Aku akan kedapur.” Arshinta menawarkan kopi pada mereka yang masih menunggu.


“Aku mau.”


“Aku juga.”


“Aku teh saja Shin.”


Ternyata mereka menerima tawaran Shinta.


“Baiklah, di tunggu ya.” Arshinta pun segera kedapur seorang diri.


Aditya baru saja selesai memeriksa mereka berdua.


“Mereka terkena gejala Tifoid, atau tipes. Demam mereka juga sudah lumayan tinggi, kita tidak tahu sejak kapan mereka demam. Selain itu mereka juga menderita Maag. Hhmm… kenapa bisa bersamaan juga penyakit nya.”


Aditya berpikir penyebab apa yang terjadi di antara dua pasien nya.


Arshinta sudah datang dengan membawa 4 gelas di atas nampan, Satmaka pun langsung membantu untuk menurunkan satu persatu gelas nya agar Arshinta tidak terlalu berat.


“Dit, apa sakit mereka?” Arshinta bertanya karena belum tahu.


“Maag, dan gejala Tiphus, untung saja kalian cepat datang, kalau tidak bisa lebih parah lagi. Itu salah satu yang membuat mereka pingsan, dan aku yakin kalau mereka sudah pingsan lebih lama sebelum kalian datang.” Jawab Aditya mengambil gelas kopi untuk di minum.

__ADS_1


“Ya ampun..”


“Ehem, sebentar lagi Rakha pulang sekolah, sebaiknya aku pergi dulu untuk menjemput nya.” Satmaka berdiri.


“Aku ikut ya.” Arshinta pun ingin ikut.


“Kalau kau pergi, siapa yang menjaga mereka? Aku hanya sebentar saja, setelah menjemput Rakha, kami akan datang kesini lagi.” Satmaka tidak ingin membuat Arshinta kelelahan.


Arshinta tidak memaksa nya. Dia menuruti ucapan Satmaka.


“Habiskan dulu kopi mu, aku kan sudah membuatkan nya.” Pinta Arshinta, memberikan satu gelas untuk kekasih nya itu.


Satmaka tidak bisa menolak, dia menerima dan meminum nya dengan perlahan karena masih lumayan panas.


Dua pasang itu masih sabar menunggu dan menjaga saudara dan ipar nya yang masih belum sadar. Mereka hanya diam, tidak ada yang di bicarakan, sesekali memperhatikan Abraham dan Bellova, yang sudah dalam satu


selimut.


Tap…tap…tap….


Terdengar suara langkah kaki yang cepat mengarah ke kamar, tempat di mana Abraham dan semua nya berada.


Arshinta dan yang lain nya saling menatap, seakan-akan penasaran dengan langkah kaki siapa itu.

__ADS_1


__ADS_2