KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 104


__ADS_3

Abraham yang mau tidak mau harus menginap di rumah kecil dan sederhana milik keluarga Bellova. Tempat untuk nya tidur sangat di prioritaskan, baik dari kebersihan, kenyamanan dan keempukan kasur yang akan di gunakan, mereka memperlakukan Abraham seperti pejabat penting atau penyelamat. Padahal Abraham sudah berulangkali agar tidak memperlakukan nya seperti itu, dia sangat tidak suka dan risih, tapi mereka selalu menjawab, ‘Anda sudah menolong kami’, jawaban yang berulang-ulang di berikan.


Biasanya kalau tidak masuk kerja, Abraham akan bangun sedikit siang, dia sangat suka tidur. Tapi kalau suasana nya berisik, tentu saja dia tidak lelap tidur, seperti pagi ini, jam masih menunjuk di angka 6 pagi, tapi bunyi peralatan masak dan bau bumbu sudah menggelitik di hidung, dan gendang telinga nya, mau tidak mau diapun harus bangun dari mimpi nya.


“Apa yang mereka lakukan pagi-pagi begini. Apa mereka tidak tahu ada yang masih tidur, haduh..” Ucap nya menyingkap selimut.


Dia berjalan ke arah di mana suara itu muncul.


“Bella, kamu harus pisahin makanan buat tuan Abraham, jangan kasih yang gosong.” Ucap ibu nya.


“Iya bu, lagi pula tidak ada yang gosong kok makanan nya.” Jawab Bellova.


“Pokok nya jangan sampai kurang pelayanan kita, dia sudah sangat baik membantu.” Ucap si ibu yang memotong ayam dengan parang, pisau besar.


“Iya bu, ibu konsen di ayam nya saja, jangan bicara saat memotong ayam, biar tidak tertukar.” Ucap Bellova khawatir.


“Apa yang kalian lakukan? Berisik sekali.” Abraham yang muncul dari belakang.


“Nak Abraham?”

__ADS_1


“Pak Abraham? Anda sudah bangun? Biasa nya anda bangun siang kalau tidak bekerja.” Ucap Bellova melihat pada nya.


“Apa aku bisa tidur dalam keadaan seperti ini? Aku pikir ada perang di sini.” Jawab Abraham.


“Ma…maafkan kami pak, kami pikir anda tidak terganggu, kami akan melakukan nya dengan pelan, anda bisa kembali tidur saja lagi.” Balas Bellova melirik ibu nya.


“Sudah lah, mana bisa aku tidur lagi kalau sudah terbangun.” Jawab Abraham.


Dia melihat kondisi dapur yang kecil dan terbuka, mereka yang masih memasak menggunakan kayu bakar sehingga banyak asap yang keluar. Bellova menggoreng sembari menggiling cabai juga. Tatapan Abraham menyapu bersih semua yang ada di sana.


“Siapa yang membelah kayu kalau kayu nya habis?” Tanya Abraham berjalan ke arah tempat pembelahan kayu.


“Lalu kalau kayu nya habis, bagaimana?” Tanya Abraham lagi.


“Kami akan mencari nya ke hutan yang ada di sana.” Jawab Bellova juga.


“Pakai mobil atau motor?”


“Jalan kaki Pak, karena kalau mobil atau motor susah masuk kesana, dan lagi pula jarang warga di sini punya mobil atau motor, lebih banyak punya sepeda dayung.” Jawab Bellova lagi.

__ADS_1


Abraham mengerti, sejenak entah apa yang dia pikirkan.


“siapa di antara kalian yang bisa bawa motor?” Tanya Abraham.


“Hanya saya saja pak, selain itu tidak ada.” Jawab Bellova.


“Hanya kamu? Kenapa kamu bisa pakai motor?”


“Karena di rumah bapak ada motor, jadi saya sering latihan belajar mengendarai nya.” Jawab Bellova.


“Oh, jadi kau yang membuat motor nya banyak goresan, pantas saja.” Ucap Abraham dalam hati.


“Pak Abraham sudah lapar ya? ini makanan nya sebentar lagi siap kok, tinggal…


“Tidak usah terburu-buru, aku juga belum lapar.” Abraham menjawab memotong ucapan ibu nya Bellova.


Abraham mengambil posisi dan kapak untuk membelah kayu.


“Ya ampun pak Abraham, tidak usah melakukan itu, nanti tangan anda terluka.” Larang Bellova

__ADS_1


__ADS_2