
“Hoam…Hhmm… di mana dia?” Abraham terbangun, di lihat di samping nya yang kosong, mencari sosok Bellova.
Dia yang sebelum nya berbaring di tempat tidur nya, bangun mengubah posisi duduk sambil menggaruk kepala, tentu saja dengan telanjang dada.
“Apa dia ke kamar mandi? Tapi tidak ada suara air.” Ucap nya pelan, sembari turun dari ranjang.
Dia menempelkan telinga di depan pintu kamar mandi, tidak ada suara.
Tok…Tok..
“Love…Love… apa kamu ada di dalam?” Tanya Abraham mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban.
Di ketuk lagi, tetap tidak ada jawaban.
Akhir nya dia membuka pintu yang ternyata tidak terkunci.
“Tidak ada. Jadi dia ada di mana? Apa di dapur?” Tanya nya sendiri saat melihat kamar mandi yang kosong.
Abraham menutup kembali pintu nya dan pergi keluar kamar mencari Bellova sambil menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal.
Tap…tap…tap..
Langkah kaki nya sambil mencari Bellova. Di cari di kamar Bellova sebelum nya juga tidak ada, kosong.
Tap…
__ADS_1
Langkah nya berhenti di ruang depan, tempat di mana Bellova tidur sambil memegang kain kecil yang kotor. Duduk di lantai.
“Apa yang dia lakukan di sini? Apa dia sedang membersihkan meja sampai tertidur?” Ucap Abraham suara pelan.
Dengan menghela napas, dia mendekati Bellova. Duduk jongkok di depan Bellova yang masih tertidur. Kepala nya bertumpu di meja.
Melihat rambut Bellova yang hampir menutupi wajah nya, Abraham menyelipkan di belakang telinga isteri nya itu. Belum sampai di situ, dia mengusap jari nya di pipi Bellova yang masih tertidur.
“Apa aku bangunkan saja dia?” Gumam nya.
Setelah memikirkan nya, dia memutuskan untuk menggendong wanita itu.
Hap…
Bellova yang sudah berada dalam gendongan nya. Sekarang dia berjalan membawa Bellova menuju kamar.
Perlahan di letakkan Bellova di atas ranjang, persis di samping nya, lalu di selimuti.
“Hhmm… besok saja kita bicarakan ini ya. Sekarang kita tidur saja dulu.” Ucap nya membaringkan diri nya di samping Bellova.
Malam itu, Bellova tidak tahu kalau Abraham mencari dan menggendong nya hingga ke kamar. Dan sekarang mereka berdua juga sudah tidur untuk beberapa jam sampai matahari terbit.
************
Sementara di tempat lain, Audrey yang masih kebingungan dengan apa yang terjadi pada nya.
“Tuan, saya tidak mengerti maksud anda.” Ucap Audrey.
__ADS_1
“Aku bisa saja langsung membunuh mu. Tapi… aku tidak puas nanti, jadi mari kita bermain-main dulu ya.” Jawab Bossa tersenyum sinis.
“Tu.. Tuan, kalau saya ada salah, tolong beritahu apa it-
Plak..
Bossa menampar nya dengan keras, menginjak tangan Audrey, menarik rambut dan menendang bahu Audrey.
Malam itu, Audrey di jadikan tontonan di depan semua anggota nya. Sekaligus sebagai peringatan untuk yang lain nya.
“Berani-berani nya kau datang pada ku dan memata-matai ku!” Teriak Bossa.
“Tuan, ada apa den-
“Kau adalah sepupu dari Lucifer! Deadly Poison! Dasar pela**r!, aku akan membunuh mu di sini!” Teriak Bossa mengangkat tangan nya.
“Apa? Jadi Audrey adalah mata-mata di sini?”
“Dan dia ternyata sepupu dari si Lucifer?”
“Wah.. gawat ini. Orang itu sangat kejam.”
“Kau benar, tapi sudah lama kan mereka tidak bertindak?”
“Ada apa? Kenapa Lucifer bisa ikut campur?”
Bisik dan pertanyaan para anggota nya sembari melihat Audrey yang sudah kesakitan menahan sakit.
__ADS_1