
“Pinggirkan saja mobilnya dulu! Aku ingin memberikan mereka pelajaran.” Pintanya bersikeras.
Tiba-tiba mobil di belakang yang mengikuti mereka berhenti mendadak, seperti ada yang menghalangi mereka. Karena penasaran, Satmaka menghentikan mobil, itupun karena permintaan Arshinta juga.
“Apa yang terjadi?” Arshinta mengeluarkan kepala dari jendela, melihat kejadian di belakangnya.
Seorang pria berjalan mendekati mereka.
“Nona Arshinta, silahkan anda lanjutkan lagi perjalanan anda, di sini biar kami yang membereskannya.” Ucap pria dengan postur tubuh tinggi, sebelah matanya tertutup dengan kain, seperti bajak laut.
Walau dirasa ragu, Arshinta tetap ingin tahu.
“Kalian dan mereka siapa? Apa kalian sama?” tunjuk Arshinta.
“Tidak Nona, kami adalah anak buah tuan Lucifer. Kami di tugaskan untuk menjaga kemanan dan keselematan Nona Arshinta.” Jawabnya dengan nada tegas, sama seperti Papanya.
Arshinta mengernyitkan dahi saat orang itu mengatakan kalau mereka adalah anak buah Papanya.
“Seberapa hebatnya Papa? Tidak, maksud ku… siapa sebenarnya Papa?” tanyanya dalam hati, masih menatap anak buah yang mengamati rekan-rekannya bekerja.
__ADS_1
“Shinta, kita pergi saja dari sini ya? kan sudah ada yang mengatasi mereka sekarang.” Bujuk Satmaka.
Arshinta menatap Satmaka, berpikir sejenak. Ada banyak pertanyaan di kepalanya. Apakah harus di tanyakan pada pria yang mengaku anak buah Papanya, atau langsung bertanya pada Papanya.
Dilihat lagi Rakha yang masih mengamati pertengkaran, bukannya takut, tapi dia malah senang menonton perkelahian itu.
“Baiklah, ayo kita pergi.” Jawabnya mengalah.
“Hati-hati dijalan Nona, beberapa dari kami akan menjaga anda sampai tujuan anda, jadi anda jangan khawatir.” Ucap si pria tinggi membungkukkan tubuhnya sedikit.
Setelah mengucapkan itu, Arshinta pergi, dia masih melihat melalui kaca, orang-orang yang mencari masalah itu di keluarkan dari mobil dan di hajar hingga mereka babak belur.
**********
Baru beberapa langkah, dia heran melihat dua orang pria yang seperti mengamatinya dari belakang, tapi tidak menyerang. Awalnya Abraham ingin mengabaikannya saja, tapi karena penasaran dan risih, dia mendekati dua orang pria itu juga.
Saat Abraham berjalan mendekati mereka, mereka tidak lari atau menghindar.
“Kalian-
__ADS_1
“Selamat siang tuan muda.” Sapa hormat mereka dengan membungkukkan tubuhnya sedikit.
Abraham heran, dia melihat kesekitarnya, tidak ingin membuat orang-orang lain menatap aneh padanya.
“Tuan muda? Apa kalian..” tunjuknya.
“Benar tuan, kami adalah anak buah tuan Lucifer. Kami di tugaskan untuk melindungi dan menjaga anda.” Jawab salah satu diantara mereka.
“Melindungiku? Tidak usah, aku kan bisa menjaga diri-
“Mohon maaf tuan muda, tapi ini adalah perintah dari tuan Lucifer. Kalau kami tidak melakukannya, kami akan mendapat hukuman.” Jawabnya lagi menjelaskan.
Abraham menggaruk kepala, tidak ingin mereka mendapat hukuman dari Papanya, karena dia tahu bagaimana cara Papanya menghukum orang yang tidak becus bekerja.
“Baiklah, tapi tolong jangan mencolok begini, aku jadi tidak nyaman. Secara, aku adalah laki-laki, Polisi lagi, kalau rekan Polisiku tahu kan, agak malu.” Keluhnya mengalah.
“Baik tuan muda.” Jawab mereka, membungkukkan badannya lagi serentak.
“Ya ampun, sudahlah, aku pergi dulu.” Abraham segera pergi, tidak bisa berlama lagi karena tatapan beberapa orang padanya.
__ADS_1
Abraham yang datang hanya memakai kemeja hitam biasa, tidak memakai seragam kerjanya terus berjalan
melewati beberapa ruangan, tidak perduli dengan tatapan orang lain.