KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 92


__ADS_3

Ponsel Abraham bergetar. Bibir nya tersenyum, karena melihat siapa yang memanggil nya, Bellova.


“Dia menghubungiku lagi? kenapa? Apa dia merindukan ku?” gumam Abraham masih belum menjawab panggilan ponsel nya.


“Aku tunggu saja dulu, biar dia terus menghub…


Ponsel nya berhenti berdering dengan cepat.


“Cepat sekali berhenti nya? Apa dia tidak bisa menunggu lagi?” gerutu Abraham karena Bellova mematikan panggilan nya.


Dddrrtdd…Dddrtt…Dddrrtt…


Ponsel nya berdering lagi, Abraham langsung menjawab dengan cepat.


“Hallo, ada apa?” jawab Abraham ketus tapi sebenar nya dia tidak ingin panggilan nya berhenti.


“Hallo pak Abraham, bapak lagi ada di mana? Bagaimana keadaan bapak sekarang? Apa bapak baik-ba…


“Diam! Hhhaahh… apa kamu tidak bisa kalau bertanya itu satu satu, jangan langsung borongan kayak gini.” Abraham memijit kening nya.


“Maafkan saya pak. Bapak lagi ada di mana sekarang? Seperti nya tidak di dalam rumah.” Tanya Bellova dengan pelan dan nada nya juga tidak cepat.


“Aku lagi ada di rumah sakit, ada..


“Apa?? Bapak di rumah sakit? Kenapa pak? Apa bapak terluka? Kenapa..


“Kamu itu ya, apa kebiasaan bertanya mu itu tidak bisa hilang sedikiiiiiittt saja. Dengarkan dulu penjelasan ku.” Abraham memotong


ucapan Bellova yang banyak.


“Aku seperti menjelaskan sesuatu pada pacarku yang sedang salah paham.” Batin Abraham.


Tidak ada suara di Bellova.


“Hey, kamu masih di situ tidak? Kenapa diam?” panggil Abraham.


“Saya masih di sini pak, bapak kan bilang akan menjelaskan nya, jadi saya diam saja dulu, daripada nanti di marahi lagi sama bapak.” Jawab Bellova pelan.


“Ya ampun… wanita ini.” Gumam Abraham menepuk kening nya.


Setelah Abraham menghela napas.


“Aku bertemu dengan wanita yang di pukuli di tengah jalan, lalu aku bawa dia kerumah sakit untuk segera di obati. Jadi bukan aku yang


terluka. Kabar ku baik-baik saja, dan sekarang aku akan pulang kerumah.” Abraham menjawab pertanyaan Bellova satu persatu.

__ADS_1


“Hallo? Kenapa diam?” Abraham merasa tidak ada suara.


“Hallo pak, saya masih di sini. Saya kan sedang mendengar suara bapak yang lagi bicara. Tapi syukurlah bapak tidak apa-apa dan tidak terluka, padahal saya..


“Kenapa aku senang kalau dia menghubungi ku? Apalagi kalau dia sedang berbicara, yah.. walaupun terkadang suara nya itu berisik di telinga.” Batin Abraham tersenyum.


“Begitu pak, jadi saya khawatir bapak akan sedih.” Ucap Bellova yang sedari tadi berbicara namun di abaikan Abraham.


“Apa? Maksud nya gimana? Khawatir aku sedih? Kenapa aku harus sedih?” Abraham bertanya setelah sadar dari lamunan nya.


“Iya, saya takut kalau bapak sedih karena berita yang tidak menyenangkan itu. Saya yakin kalau bapak orang yang baik dan tidak mungkin


menyiksa orang lain sampai mati, paling mereka hanya terluka saja.” Bellova menjelaskan lagi.


Abraham masih duduk di dalam mobil nya sambil berbicara pada gadis itu.


“Ternyata berita nya sudah sampai di sana ya.” batin Abraham.


“Jadi, apa menurut mu aku akan sedih dengan berita itu? kalau aku sedih, apa yang akan kau lakukan untuk menghiburku?” tanya Abraham


bercanda, karena bibir nya tersenyum.


Bellova diam, Abraham menunggu dengan penasaran.


hati nya.


Sekarang, Abraham yang gantian diam.


“Ehem, jadi, apa kau akan tetap menikah?” tanya Abraham dengan nada pelan.


“Iya pak, dua hari lagi saya akan menikah.” Jawab Bellova semangat.


“Apa sudah bertemu dengan calon nya?”


“Belum pak, nanti bertemu saat acara nya saja.” Jawab Bellova seperti tidak mempermasalahkan nya.


“Loh, bagaimana kalau nanti suami kamu jelek? Gendut?” tanya Abraham.


“Ya tidak apa-apa pak, lagi pula saya juga kan tidak cantik.”


“Siapa bilang kamu tidak cantik? Kamu cantik kok..” tanpa sadar Abraham memuji Bellova.


“Anda memuji saya pak? Wah.. saya..


“Bu..bukan, Adley dan teman-teman yang lain, mereka memujimu. Bagi ku kau hanya biasa saja.” Jawab Abraham gelagapan.

__ADS_1


“Ooh.. pak Adley juga tampan, dan baik. Sampaikan terima kasih saya sama beliau karena sudah mengatakan saya cantik.” Ucap Bellova.


“Ck, iya iya, nanti aku kasih tahu. Kalau begitu aku..


“Ya sudah pak, bapak pulang dan beristirahat saja, saya tutup telpon nya ya pak. Selamat malam.”


Klik…


“Buset, dia ngomong dari tadi dan langsung menutup telepon nya?” Abraham terkejut dan kaget. Dia menggelengkan kepala saking tidak percaya nya.


*************


Hubungan Arshinta dan Satmaka sudah semakin dekat. Terkadang Arshinta datang ke kantor Satmaka bersamaan dengan Raka, untuk makan siang bersama. Karena sering nya Satmaka datang, semua karyawan tidak heran dan akrab dengan nya, malah mereka menganggap dua orang itu sangat serasi dan cocok.


“Papa…” Rakha berlari menuju papa nya, setelah mereka mengetuk pintu dan masuk kedalam ruangan pribadi.


Satmaka keluar dari kursi meja kerja nya, menyusul anak nya yang berlari agar tidak jatuh.


“Kan sudah papa bilang jangan lari, kaki kamu masih kecil, nanti kalau jatuh gimana?” tanya Satmaka yang sudah menggendong anak nya.


“Kan ada papa, bisa menangkap Aka kalau mau jatuh.” Jawab bocah kecil yang menggemaskan.


Satmaka melihat Arshinta yang berdiri di hadapan nya. Mereka saling melempar senyum.


“Seperti biasa, Akha mau mengajak mu makan siang bersama.” Ucap Arshinta.


“Akha, atau kamu?” ledek Satmaka tanpa malu.


“Yaahh… iyakan saja lah, hehehhe..” jawab Arshinta tertawa kecil.


Satmaka dan Rakha duduk, mereka mengobrol sebelum keluar.


“Aku dengar, berita tentang Abraham, aku yakin itu tidak benar kan?” tanya Satmaka serius, dia memangku Akha.


Arshinta duduk, “Iya, tentu saja itu tidak benar. Mana mungkin kak Abraham melakukan itu, walaupun dia sangat emosian, tapi dia masih


ingat peraturan pekerjaan nya, tidak seperti ku.” Ucap Arshinta semangat menceritakan kakak nya.


“Pasti ada orang yang dengan sengaja menyebar berita yang bohong itu, karena kata kak Adley, tahanan itu mati karena keracunan, teman nya sendiri menyamar dan memberikan makanan pada mereka, lalu mati.” Ucap Arshinta yang sudah di beritahukan sebelum nya.


“Tapi Abraham tidak apa-apa kan?”


“Tentu saja. Dia itu tidak mau ambil pusing, yang lain sibuk menjelek-jelekan nya, dia nya malah asik sendiri, makan lah, tidur lah, mana


perduli dia. Kalau itu aku, hhmmm… sudah habis mereka babak belur. Aku akan mencari siapa dalang nya.” Jawab Arshinta semangat terpancing emosi.

__ADS_1


__ADS_2