
“Dan jangan tidur di tempat lain lagi seperti sebelum nya. Kau harus tidur di kamar ku, semenjak kita menikah dan sampai seterus nya, selama kita menikah.” Ucap Abraham lagi.
Bellova ingin menolak dan bertanya, Abraham tahu hanya dengan menatap tatapan mata Bellova.
“Jangan bertanya lagi, karena aku sudah memberi jawaban nya juga kan?” Abraham langsung menjawab pertanyaan yang akan di tanyakan Bellova.
Bellova diam, menundukkan wajah nya.
“Aku tidak akan menyentuh mu sebelum jatuh cinta pada mu. Jadi kau jangan takut, kalau tanpa sadar aku menyentuh mu saat tidur, harap maklum, karena itu kebiasaan ku tidur.” Abraham menjelaskan nya lagi.
“Kecuali kalau kau menggoda ku.” Ucap Abraham dengan suara pelan, agar Bellova tidak mendengar nya.
Bellova mengangguk kan kepala.
Setelah mereaka selesai makan malam, Abraham masih berbicara dengan Adley melalui ponsel nya, Bellova membersihkan piring kotor dan meja makan nya. Sesekali mereka bertemu dalam lirikan secara bersamaan. Abraham hanya tersenyum saat melihat Bellova, itu normal menurut nya, tapi tidak dengan Bellova yang tersipu malu.
“Jadi begitu saja. Jangan sampai mereka tahu rencana kita. Ingat kan Venam juga. Aku akan menutup telepon nya.” Ucap Abraham mengakhiri obrolan nya.
“Baiklah pengantin baru, pasti sudah tidak sabar ya, hehehhe.” Ledek Adley.
“Diam lah.” Balas Abraham dan langsung menutup telepon nya.
__ADS_1
Di lihat jam di layar ponsel nya.
“Sudah jam 11 malam ternyata. Aakkhhh….” Dia merentangkan tangan sambil menghela.
Saat dia berjalan ke kamar, di lihat Bellova yang masih sibuk di dapur.
“Hey? Apa yang kau lakukan lagi?” Tanya nya.
“Maafkan aku, aku sedang membersihkan dap-
“Apa lagi yang mau kau bersihkan? Ini sudah bersih dan rapi, apa kau mau membongkar lemari itu dan memasang nya lagi? kurang kerjaan? Meja ini saja sudah bisa di jilat saking bersih nya.” Ledek Abraham menunjuk meja.
Bellova tidak tahu lagi harus jawab apa.
Bellova masih diam.
“Ck, Lov? Kamu tidak dengar? Apa mau aku gendong sampai ke kamar?” Ancam Abraham.
“Ba…baik…baik, aku datang.” Jawab Bellova gugup.
“Tinggalkan kain lap nya dong, apa mau di bawa ke kamar?” Tunjuk nya pada kain kecil di tangan Bellova.
__ADS_1
“Ah, iya..maaf.” Dengan cepat isteri nya meletakkan kain itu dan langsung menyusul Abraham.
Abraham menggaruk kening dan menghela napas melihat tingkah Bellova.
Mereka berdua pun sudah berada di dalam kamar.
***********
Keesokan hari nya, beberapa jam sebelum Rakha menyelesaikan pelajaran nya, Satmaka sudah menunggu di ruangan Arshinta. Sengaja agar mereka bisa berjalan bersama menuju rumah besar Arshinta.
“Menurut mu, apa mereka menyukai ku?” Satmaka bertanya di saat Arshinta memeriksa catatan nya.
“Entahlah. Bisa saja mereka suka, atau tidak suka. Itu tergantung dari cara mu meyakinkan mereka.” Jawab Arshinta pura-pura mengabaikan.
“Bagaimana kalau mereka tidak menyukai ku?” Tanya nya berharap.
“Yah… mau bagaimana lagi ya, aku harus menuruti mereka dong. Aku tidak mau menjadi anak yang durhaka.” Jawab Arshinta melirik Satmaka yang terlihat gugup.
Arshinta berusaha menahan senyum nya.
“Apa kau tidak mencintai ku? Kalau tidak, berarti cintaku tidak terbalas dong, cinta sepihak.” Ucap Satmaka dengan suara pelan, seperti kecewa.
__ADS_1
“Pppfftt… hahahhaha..” Tawa Arshinta menatap wajah lucu Satmaka.