
Akhir nya Abraham berhasil mendapatkan hotel yang dirasa nya berbeda dengan hotel sebelum nya yang di temui. Walaupun Bellova tidak mengatakan kalau dia sangat mengantuk, Abraham selalu memperhatikan nya yang beberapa kali menguap.
Mereka segera memesan satu kamar untuk berdua, tidak ada karyawan yang bertanya atau menawarkan sesuatu yang aneh pada nya. Maka nya dia memilih hotel itu dari pada mencari yang lain lagi.
Ceklek…
Abraham yang membuka pintu kamar, mendahulukan Bellova masuk.
“Kamu tidak usah mandi, cuci muka saja, karena ini sudah tengah malam, nanti kamu sakit. Aku akan memesan makanan.” Ucap Abraham sambil meraih telepon yang ada dalam kamar nya, sebagai alat untuk terhubung dengan
bagian hotel.
Bellova tidak membantah, dia melakukan apa yang di katakan suami nya.
Abraham memperhatikan Bellova yang masuk ke kamar mandi.
“Kenapa aku sangat emosi saat si bren***k itu menilai dia pel***r? dan kenapa aku malah menganggap pernikahan itu sangat penting?” Tanya Abraham dalam hati.
Abraham segera memesan makanan sederhana saja, nasi goreng dan dua botol air mineral.
__ADS_1
Bellova yang sudah keluar dari kamar mandi, membersihkan wajah dan mengganti pakaian nya, karena seharian memakai pakaian yang sama.
“Anda tidak mencuci wajah Pak?” Tanya Bellova pada Abraham yang sudah berbaring di tempat tidur, dengan bertumpu kedua tangan nya di lipat sebagai bantalan di kepala nya.
“Sudah di bilangin jangan panggil ‘Pak’, gimana sih.” Gerutu Abraham.
Bellova menggaruk kepala, “Maafkan saya pak… eh maksud saya… Abraham.” Ucap Bellova.
Abraham turun dari ranjang, ingin ke kamar mandi.
“Sebentar lagi makanan nya akan di antar, kamu terima saja ya.” Ucap nya sembari terus melangkah.
Bellova menganggukkan kepala, mengerti.
Shadow yang merasa geram dan marah, karena pergerakan mereka sering di gagalkan dari pihak Deadly Poison. Setiap mereka bertindak, Deadly tahu kemana dan apa yang hendak mereka lakukan. Entah siapa yang membocorkan rencana mereka.
“Breng**k! berani-berani nya mereka cari masalah dengan ku. Cepat cari tahu apa hubungan mereka dengan si polisi itu! dan cari tahu, siapa pimpinan nya dan tempat mereka tinggal.” Suruh Shadow pada anak buah nya.
Audrey, yang berada di sana mendengar rencana mereka, dia sempat terkejut, karena Deadly Poison mencari lawan, yang biasa nya tidak akan bergerak atau ikut campur, kecuali menyinggung keluarga atau sahabat nya.
__ADS_1
Di saat Audrey sedang berpikir, Bossa memperhatikan raut wajah nya. Berpikir kalau dia adalah mata-mata untuk membocorkan rahasia mereka.
“Kalian semua keluar dari sini! Kecuali Felix.” Suruh Bossa.
Audrey yang tidak tahu apa-apapun ikut keluar, ekor mata Bossa memperhatikan nya sampai keluar pintu.
“Ada apa tuan?” Tanya felix setelah keadaan kosong, hanya ada mereka berdua.
“Apa ada yang mencurigakan dari wanita jal*ng itu?” Tanya Bossa menunjuk pada Audrey.
“Tidak ada tuan, dia hanya terus berada di kamar dan sesekali melakukan tugas yang anda berikan pada nya.” Jawab Felix.
“Dan kenapa kau masih belum menghabisi nya? Apa yang kau lakukan selama ini??” Tanya Bossa dengan suara keras.
“Maafkan saya tuan. Audrey tahu kalau dia akan di singkirkan. Seperti yang anda perintahkan pada saya, harus melenyapkan nya tanpa jejak.” Jawab Felix.
Bossa merasa ada masuk akal juga dengan jawaban nya.
“Tetap ikuti pergerakan nya. Cari informasi tentang nya sebelum mengikuti ku.” Suruh nya pada Felix.
__ADS_1
“Baik tuan.” Jawab Felix.
Setelah memberikan perintah, Felix di suruh keluar dari ruangan nya.