
“Jadi, jangan merasa orang asing di keluargaku, karena kau sekarang adalah isteriku dan bagian dari diriku juga.” Abraham merapikan rambut Bellova yang melambai-lambai terkena angin malam. Posisi mereka juga masih berdiri saling berhadapan.
Bellova bisa merasakan belaian tangan Abraham di kepalanya. Bukan hanya rambut saja yang di usapnya,
sekarang kedua tangannya juga mengusap kedua pipi Bellova dengan lembut. Mengusap-usapnya beberapa kali. Hingga saat jempolnya menyentuh bibir Bellova, tatapannya mengarah ke daerah itu.
Deg… deg… deg… deg…
Detak jantung Bellova yang keras saat tatapan mata Abraham yang masih belum pindah dari bibirnya.
Beberapa saat suasana hanya diam dan hening, terdengar suara angin yang berhembus melewati mereka.
Bellova semakin panik, saat merasakan kekuatan dari tangan Abraham yang menariknya untuk lebih dekat
dengan wajah Abraham. Karena tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya mengikuti arusnya saja. Entah sadar atau tidak Abraham melakukannya, yang jelas Abraham seperti terpana dan terpesona pada bibir Bellova.
Cup…
Kedua bola mata Bellova berputar kekiri, kekanan,dan kedipan beberapa kali saat bibirnya dan bibir Abraham sudah bersentuhan. Untuk pertama kali mereka sudah berciuman selama mereka kenalan dan menikah.
__ADS_1
Tap..
Abraham langsung melepas ciumannya, dan melapas bahu Bellova. Dia tersadar dan membuka matanya.
“Ma… maafkan aku, maksud ku… aku, ah… sudah lah. Lebih baik kau masuk kekamar, anginnya… sangat kencang.” Ucap Abraham yang gugup dan malu, dia lebih dulu masuk kedalam kamar karena perasaan anehnya.
Bellova yang seakan masih belum sadar dan bingung, masih merasakan bibirnya yang basah karena ciuman itu. Dia menyentuh bibirnya beberapa kali, seperti tidak percaya dengan kejadian yang tadi. Wajahnya sangat merah, detak jantung yang awal nya sangat cepat perlahan kembali normal setelah Abraham melepas ciuman itu.
“Apa… apa ini yang namanya ciuman? Tapi… tapi kenapa dia melakukannya?” tanyanya dalam hati masih
memnyentuh bibirnya.
“Love? Apa kamu mau tidur diluar? Masuklah, aku akan menutup pintunya.” Panggil Abraham lagi karena masih belum melihat isterinya masuk.
“Apa yang sudah kulakukan? Kenapa… kenapa aku melakukan itu?” gumam Abraham dalam hati, merasakan kegelisahan yang juga baru kali itu dirasakan.
Bellova sudah berdiri di samping tempat tidur, dimana Abraham sudah berbaring lebih dulu membelakanginya, mungkin karena merasa malu makanya tidur seperti itu.
Lalu Bellova tidur, tanpa sadar dia tidur menghadap punggung Abraham, rasanya dia ingin menyentuh punggung yang lebar itu, baru sedikit saja dia langsung menarik tangan untuk membatalkannya.
__ADS_1
Srek…
Bellova memutar tubuhnya hingga membelakangi punggung Abraham, mereka berdua tidur dengan saling membelakangi. Dan malam itu mereka sebenarnya sama-sama tidak bisa tidur karena masih memikirkan kejadian yang mereka alami.
“Aku tidak bisa tidur.” Batin Abraham.
“Aku tidak bisa tidur.” Batin Bellova.
“Badan ku pegal tidur seperti ini.” Batin Abraham.
“Aku tidak bisa tidur seperti ini, badanku pegal.” Batin Bellova juga.
Sret…sret..
Secara bersamaan mereka memutar posisi tubuh mereka. Tatapan mereka saling bertemu.
“Masih belum bisa tidur?” tanya Abraham menatap Bellova.
“I.. iya. Apa kamu juga tidak bisa tidur?” balas Bellova.
__ADS_1
Abraham mengangguk kepala.
Tanpa sadar Abraham mengangkat tangan ingin mengusap pipi Bellova, isterinya bisa melihat tangan suaminya yang mulai mendekati wajahnya, dia hanya diam membiarkan.