
Di markas Lucifer, yang sudah lama kosong itu sejak beberapa hari yang lalu, sudah banyak ‘tamu’ yang datang untuk merasakan ‘fasilitas dan pelayanan’ dari si ownernya.
Seperti saat ini, Lucifer baru saja selesai ‘bermain’ dengan Bossa, yang sudah tidak bernyawa lagi.
Kondisi tubuh Bossa juga sudah tidak berbentuk, kedua kaki, kedua tangan sudah terpisah. Dan baru saja memutuskan kepala Bossa dari tubuhnya, dengan gergaji. Selama proses penggergajian, suara gesekan gergaji dengan tulang badan terdengar dengan jelas, darah juga mengucur.
“Hah… bagian mana lagi yang harus aku potong?” Lucifer melihat bagian-bagian tubuh Bossa, merasa puas
tidak perduli lelah dan darah di tubuhnya yang juga berbau amis.
Anak buah nya ada beberapa yang masih bisa bertahan melihat adegan itu, tapi tidak sedikit yang mual dan muntah karena tidak tahannya.
“Apa diantara kalian ada yang butuh daging ini untuk dijadikan sup?” tanyanya pada anak buahnya.
“Ti…tidak..tuan!” jawab mereka dengan serentak dan kaget dengan pertanyaan tuannya, bahkan ada yang memegang perut untuk tidak muntah lagi.
“Lempar bangkai ini kekandang buaya yang baru kita beli itu, jangan terlalu dekat saat kalian memberikannya, supaya kalian tidak diterkam sebagai bonus.” Suruh Lucifer membersihkan wajahnya dengan tisu yang baru saja di berikan anak buahnya.
__ADS_1
Setelah Lucifer menyelesaikan tugasnya, sekarang adalah tugas anak buahnya, membersihkan peralatan, mengantarkan makanan untuk buaya, juga merapikan lokasi.
Tatapan Lucifer bertemu dengan tatapan Rock yang sudah gemetaran melihat adegan yang di luar nalar.
“Kenapa Rock? Apa kau menikmati tontonannya?” tanyanya sembari melangkah mendekati Rock yang masih
berbaring di tanah dengan kondisi sebelumnya.
“Tenang saja, kau akan sama seperti rekan mu itu, karena kau… sudah berani mengganggu dan membahayakan anak-anakku.” Kaki Lucifer sudah berada di kepala Rock, menekannya ketanah .
“What? child? he children? so they are Lucifer's son? what have i done? I'm so stupid (apa? anak? anak-anaknya? jadi mereka adalah anaknya Lucifer? apa yang sudah ku lakukan? bodoh sekali aku ).” Gumamnya dalam hati yang sudah gemetaran.
Dengan cepat mereka membawa Rock yang masih terikat kaki dan tangan.
“No..No… Im sorry Lucifer, please let me go, help me Lucifer! (Tidak… tidak… aku minta maaf Lucifer,
tolong lepaskan aku, tolong Lucifer!)” teriak Rock sembari tetap dibawa, Lucifer diam mengabaikan. Dia meminta ponselnya dari salah satu anak buah yang menjaga ponselnya.
__ADS_1
“Tuan, bagaimana dengan anak buah Bossa yang ada di sini?” tanya anak buahnya.
Lucifer melihat anak buah Bossa yang sudah gemetaran ketakutan.
“Berikan saja pada Abraham, biar dia yang urus.” Ucapnya lalu mengalihkan konsentrasinya pada ponsel.
“Aku akan tinggalkan sisanya pada kalian, jadi bereskan.” Ucapnya lagi melangkah.
Anak buah Bossa menghela napas karena merasa masih lebih beruntung daripada majikannya yang sudah mati.
************
Abraham dan yang lainnya sudah berada di rumah besar. Mereka sedang mengobrol sembari menunggu kedatangan Papanya, Adam. Revand dan Vicky juga sudah ada disana.
“Dengan kejadian ini pasti hubungan kalian lebih dekat dan romantis kan?” ledek Revand, melirik Abraham dan Bellova, mereka hanya membalas dengan senyum biasa saja.
“Selamat sore tuan Adam.” Sapa pelayan yang membukakan pintu.
__ADS_1
Lucifer langsung masuk kedalam tanpa tahu kalau anak-anaknya sedang berada diruang keluarga. Susana menjadi diam, hening, terkejut melihat penampilan si pemilik rumah yang banyak darah di pakaiannya.