
Semua tetangga yang keposudah bubar, itupun karena pekerjaan Aris dan Hendra yang mengusirnya.
“Apa kalian akan menginap disini? Dan ini juga sudah malam.” tanya Lila, Ibu mertuanya.
“Tidak bu, kami harus kembali ke Jakarta.” Sahut Abraham melirik Bellova yang mengerti dan menganggukkan kepala.
“Hm… baiklah.” Ibunya menghembuskan napas, tidak ingin memaksa menantu dan puterinya menginap.
“Kalau begitu, kami pulang dulu ya Ibu, dan Ayah. Nanti kalau kalian memerlukan sesuatu, kabari saja pada ku atau pada Bellova.” Tunjuknya pada Bellova.
“Kakak, setelah kami lulus sekolah, kami boleh kan tinggal di Jakarta?” tanya Dino yang segera menghampiri kakak dan kakak iparnya.
“Tentu saja, kan kakak juga sudah berjanji.” Abraham yang menjawab.
“Terima kasih kak Bram.” Dino memeluk Abraham, tidak hanya dia, adik-adiknya juga berjalan memeluk Abraham. Abraham dan isterinya saling menatap dan tersenyum.
“Ya sudah, kalian hati-hati dijalan ya.” jawab si Ayah berdiri ingin mengantarkan mereka sampai depan pintu.
Sekali lagi Bellova dan Abraham berpamitan mencium tangan dua orang tua itu.
Aris dan Hendra mengikuti mereka dari belakang.
__ADS_1
Abraham dan Bellova dalam satu mobil, Aris dan Hendra juga sudah mengikuti dari belakang dengan mobil. Di dalam mobil pun Abraham masih harus menjawab panggilan telponnya dari rekan kerja. Seperti keadaan yang mendesak.
Bellova tidak ingin mengganggu. Dia hanya melihat sisi jalan.
Tetangga pun tidak berhenti memandangi mereka. Tidak jauh dari rumahnya juga terlihat beberapa pria dengan tubuh yang tinggi seperti menjaga mobil mereka yang hendak lewat.
“Siapa mereka? Kenapa mereka berdiri disana?” gumamnya dalam hati.
Dia ingin bertanya pada Abraham, tapi suaminya masih sibuk berbicara dengan seseorang dari ponselnya.
10 menit kemudian Abraham memasukkan ponsel kedalam saku bajunya, dan menoleh melihat Bellova yang masih melihat sisi kiri.
Bellova langsung menoleh melihat Abraham, mengernyitkan dahi karena tidak mengerti maksudnya.
“Aku sudah menyuruh beberapa anak buah untuk menjaga mereka selama disini. Sebenarnya sih Papa yang
menyuruhku, tapi aku juga sudah berencana untuk melakukannya.” Abraham menjelaskan lagi karena merasa kalau isterinya pasti ingin bertanya.
“Oh.. tapi, kenapa?”
“Hm.. aku tahu kalau kalian tidak nyaman kan tinggal disini? Lihat saja kejadian yang tadi, tetanggamu itu langsung datang karena kita datang dengan seperti ini. Ah… menyebalkan.” Jawabnya menghela napas.
__ADS_1
“Apa kau tidak suka kalau anak buah kita disini-
“Suka kok, aku suka.” Dengan cepat Bellova menjawab pertanyaan Abraham sebelum berubah pikiran.
“Hahahaha… sudah ku duga, kau pasti suka.” Tawa Abraham karena merasa lucu dengan tingkah Bellova.
Bellova tidak tersenyum, dia menatap jalan dengan diam sesaat.
“Terima kasih ya.”
“Jangan ucapkan itu lagi.”
“Aku tidak bisa tidak mengucapkannya. Karena aku akan merasa tidak nyaman dan membuatku susah bernapas.” Balas Bellova dengan wajah yang masih menunduk.
Abraham diam meliriknya.
“Ya sudahlah. Paling tidak jangan mengucapkan kata ‘maaf’ saja.” Jawab Abraham pasrah.
“Nanti kalau adik-adik lulus sekolah, kita akan menjemput mereka semua ke Jakarta, kita akan pilihkan sekolah yang terbaik untuk mereka. Arshinta memang memiliki sekolah, kalau kau mau, mereka bisa sekolah disana, tapi kalau kau tidak ingin,kita bisa carikan di sekolah lain.” Ucap Abraham lagi.
“Iya.” Jawaban yang singkat.
__ADS_1