
Baru saja sepasang suami isteri itu tiba di depan sebuah toko perhiasan, penampilan nya dari luar terlihat jelas kalau itu adalah salah satu toko perhiasan yang terkenal, tentang harga? Tentu saja sangat mahal namun
berkualitas tinggi.
Bellova tercengang melihat bangunan yang masih di depan itu.
“Ayo masuk.” Ajak Abraham.
“Kamu yakin kita kesini?” tanya nya masih seakan tidak percaya.
“Iya dong, masa sih aku nyasar. Ayo,” menarik salah satu tangan Bellova.
“Selamat sore tuan dan nyonya.” Sapa salah satu karyawan toko saat membuka pintu masuk nya.
Abraham membalas dengan tersenyum dan menganggukkan kepala.
Bellova yang masih tercengang dengan penampilan dalam nya, di mana banyak perhiasan nya juga yang di pajang di atas dengan di batasi kaca, belum lagi dengan yang di pajangkan di etalase yang berjejer dengan banyak jenis dan model. Bukan hanya perhiasan saja yang ada, beberapa kamera CCTV juga terlihat sebagai keamanan nya saja.
“Apa ada yang kamu suka di atas?” tanya Abraham karena melihat Bellova yang masih melihat keatas.
Bellova menggelengkan kepala nya.
“Tuan mau mencari cincin yang seperti apa? Biar saya bantu untuk mencari nya.” Tanya si penjaga toko dengan ramah dan sopan.
“Cincin pernikahan.” Jawab nya singkat.
“Sebentar saya akan mencari yang terbaik dan paling laris.” Si karyawan meninggalkan Abraham dan Bellova yang masih memperhatikan.
Abraham ke kiri, Bellova ke kanan.
__ADS_1
“Ini cocok untuk mu Bel, coba lihat.” Abraham menunjuk kalung yang cantik.
“Sangat cantik, tapi terlalu mewah, aku tidak suka.” Jawab nya menggelengkan kepala.
Abraham tidak bisa memaksa.
“Yang ini bagaimana? Sederhana tapi menawan.” Tunjuk nya lagi.
Bellova menggelengkan kepala nya lagi.
Tidak lama kemudian karyawan yang kata nya akan mencarikan cincin seperti yang di inginkan pengunjung nya datang dengan membawa beberapa koleksi di tangan nya.
“Ini silahkan di lihat tuan. Cincin ini sudah banyak di pesan dan di minati.”
Abraham memanggil Bellova lagi untuk memilih langsung.
Terlihat dari respon wajah Bellova yang di perhatikan Abraham, kalau dia tidak menyukai nya.
Bellova mengangguk.
“Hhhmm…. Ternyata kalau wanita yang memilih lama juga ya.” canda nya menggaruk kepala.
“Maaf-
“Sudah, jangan di teruskan. Kita cari yang lain saja. Tapi kalau di sini tidak ada, kita cari di tempat lain.” Abraham masih bersabar.
Bellova menarik ujung jaket suami nya sembari menggelengkan kepala.
“Jadi kamu masih mau cari di sini saja?” tebak nya lagi.
__ADS_1
“Iya.” Jawab nya mengangguk.
“Ya sudah, carilah.”
“Aku tidak boleh merepotkan nya. Dia sangat sibuk.” Ucap nya dalam hati.
Beberapa karyawan pun ikut membantu nya untuk memilih cincin. Dan tetap belum membuat tertarik Bellova.
Abraham berbisik pada karyawan wanita yang tadi membawakan contoh cincin pernikahan, dan karyawan itu menganggukkan kepala. Bellova juga memperhatikan itu.
Cukup lama wanita itu memilih sepasang cincin, Abraham beberapa kali menguap dan melihat jam di tangan nya.
Di ujung etalase, langkah dan pandangan Bellova berhenti, tertuju pada cincin yang di cari nya.
“Seperti nya dia sudah menemukan nya.” Gumam Abraham yang sedari tadi memperhatikan nya.
Bellova menoleh kebelakang, di mana Abraham berada.
“Aku mau yang ini.” Tunjuk nya.
“Akhir nya.” Gumam nya menghela napas.
Abraham berjalan dan ingin melihat bagaimana dan seperti apa yang di sukai isteri nya itu.
“Hm? Kamu yakin mau yang ini?” tanya nya mengernyitkan dahi.
Bellova mengangguk.
“Apa…apa harga nya mahal? Kalau begitu, di ganti-
__ADS_1
“Tidak,tidak, kau bisa memiliki nya.” Abraham menahan rencana Bellova.
“Berapa lama lagi aku harus menunggu.” Batin nya.