
“Mereka siapa?”
“Sepertinya mereka adalah keluarga dari Pak Komisaris, Pak Abraham.”
“Mereka terlihat hebat dan terkenal ya.”
“Iya, terlihat dari penampilan dan cara mereka berjalan tadi saat masuk.”
“Ternyata keluarga Pak Abraham sangat hebat dan mengagumkan.”
“Iya, makanya dia bisa mencapai jabatannya seperti yang sekarang karena latar belakang keluarganya.”
“Berisik sekali mereka. Tidak tahu apa-apa tapi asal bicara saja.” Gerutu Adley yang tidak suka mendengar ocehan tamu-tamu yang membicarakan Abraham.
“Biarkan saja, Abraham nya saja santai dan acuh, masa kita tidak bisa.” Venam berusaha menenangkan
Adley yang terlihat kesal.
“Rasanya aku ingin memberikan banyak peluru di mulut mereka.” Sahut Adley lagi.
“Hahahha… sayang pelurunya Dley, lebih biar kita ‘terbangkan’ pelurunya pada anak buah Bossa saja. Mengurangi pekerjaan kita lagi.” balas Venam lagi tertawa kecil.
Adley dan Venam melihat keluarga Abraham yang berkumpul, bertukar cerita dan bercanda. Mereka sangat dekat, sampai orang sekitarnya merasa iri.
“Tapi memang benar sih, Abraham memiliki keluarga yang hebat-hebat. Kalau mereka semua disini tahu
__ADS_1
siapa Abraham dan akar keluarganya, pasti mereka tidak akan berani menatap Abraham dengan tatapan sepele.” Venam meminum alkohol yang ada di gelas, di tangannya.
Adley mengangguk sepakat, karena dia dan beberapa yang lainnya tahu Abraham, Ina dan Arshinta dari sedari kecil.
Vicky Lee dan Cleo juga datang, langsung menghampiri keluarga besar, sama seperti yang dilakukan Revand sebelumnya.
Hanya Bellova dan keluarganya yang selalu terlihat gugup, minder dan tidak percaya diri. Walaupun dia tersenyum, sangat terlihat sekali itu dilakukan karena takut.
“Kamu kenapa? apa kamu sakit?” tanya Abraham karena melihat pasangan nya pucat.
“Ti… tidak kok, aku baik-baik saja.” Jawabnya berbohong.
Abraham tidak percaya, dia menggenggam telapak tangan Bellova yang sedang gemetaran dan dingin.
Satu persatu tamu dan keluarganya bergantian memberikan selamat pada mereka.
Anak-anak Aris, hendra, Lisa, William, Vicky dan Revand juga hadir. Mereka memberikan hadiah dan salam hangat yang akrab.
Melihat penampilan mereka, masih saja tidak habis-habis nya kekaguman yang di lihat tamu yang tidak tahu apa-apa tentang keluarga Abraham.
“Kakak iparku sangat cantik ya.” puji Alsava Nara, puteri dari Revand.
“Tentu lah, kan kak Abraham juga sangat tampan.” Sahut Claudia Gwen Lee, puteri dari Vicky Lee.
Mereka tahu, kalau kakak iparnya tidak nyaman. Mereka berinisiatif untuk mendekatkan diri dan akrab pada Bellova, agar iparnya itu bisa nyaman dan menerima kehadiran mereka. Abraham hanya melihat keadaan itu saja, dia tersenyum karena bisa dekat dengan pasangannya.
__ADS_1
Tap…tap…tap..
“Vicky.”
Vicky menoleh melihat kebelakang, ingin melihat siapa yang sedang memanggilnya.
“Audrey?”
“Vicky, aku sangat senang kau masih-
“Kau masih hidup? Aku pikir kau sudah mati bersama papamu yang kejam itu.”
Tak….
Seketika perasaan Audrey seperti di pukul. Senyum yang sangat susah di kembangkan itu pudar.
Perasaan tidak nyaman nya lagi semakin bertambah, karena tatapan tamu-tamu lain yang melihat rendah kearah nya.
“Vicky, aku…aku-
“Lucifer, kenapa dia ada disini? Apa dia mau melakukan pembalasan dendam?” Vicky yang masih kesal
mengabaikan Audrey.
Lagi, Audrey merasa sakit hati dan kecewa. Dia tahu kalau dirinya sangat bersalah, dan mungkin tidak layak untuk di maafkan.
__ADS_1