
“Ya ampun anak muda ini, sudah di bilangin jangan coba-coba menyinggung Shadow, tapi malah membuat nya marah. Apa dia pikir dia bisa melawan orang itu? kalau kayak gini kan aku dan yang lain nya akan kena masalah.” Ucap Irwan Prasetyo panik.
************
Abraham baru saja tiba di kantor, wajah nya datar, tapi kalau di singgung akan cepat marah. Baru masuk, Ridwan sudah melihat pertama
kali.
“Selamat pagi Pak.” Ridwan memberi hormat mengangkat tangan.
“Hhmm..” jawab nya mengangguk kan kepala.
“Ada apa pak? Pagi-pagi wajah nya sudah di tekuk seperti itu, sama dengan pak Adley, apa kalian lagi ada masalah asmara?” tebak Ridwan.
“Mulut mu itu Ridwan, pergunakan dengan baik, siapa pula yang punya masalah asmara?” balas Abraham tidak merasa sama seperti yang di
katakan anak buah nya.
Ridwan langsung menutup mulut nya.
“Di mana Adley?” tanya Abraham, mencari orang itu di sekitar nya.
“Tadi ada di sini kok pak, mungkin lagi di bel…nah, itu dia, panjang umur, baru di certain orang nya sudah nongol.” Tunjuk Ridwan.
“Selamat pagi pak Abraham.” Ucap Adley, sama seperti yang di lakukan Ridwan sebelum nya, dan Abraham pun menjawab hanya mengangguk kan kepala lagi.
“Pak Abraham, siang ini akan ada pertemuan dengan Jenderal Polisi, pak Irwan Prasetyo dan Santoso Cakra, Komisaris Besar Polisi, jam 10
pagi.” Ucap Adley memberi laporan.
Abraham mengangguk kan kepala nya lagi.
“Menurut anda, kenapa atasan kita datang pak Abraham?” tanya Adley.
Abraham melihat Adley dan Ridwan yang juga menunggu jawaban.
“Pasti ini ada hubungan nya dengan penangkapan Shadow.” Jawab Abraham yakin.
__ADS_1
“Apa menurut anda, beliau akan marah karena pada kita karena kita belum berhasil menangkap Shadow?” Ridwan pun ikut bertanya.
Abraham menggelengkan kepala, “Justru mereka akan marah kalau kita berhasil menangkap nya. Hhaahh… sudah lah, persiapkan saja semua.” Jawab Abraham, duduk di kursi kerja.
Adley pun kembali melanjutkan pekerjaan nya, Ridwan, yang berada di tengah, heran melihat dua rekan kerja yang tampak tidak bersemangat.
********
Rakha setiap hari selama Satmaka berada di luar kota, selalu di urus Arshinta, baik untuk mandi, makan dan tidur, semua di urus Arshinta. Mereka berdua tidur bersama di satu ranjang.
Di sekolah pun sama, Arshinta mengantar dan menjemput nya, sebelum berangkat kesekolah, dia selalu membuat kan bekal sarapan dan makan siang untuk anak sahabat nya itu. Orang yang melihat akan berpikir kalau Rakha adalah anak kandung Arshinta.
Setelah mengantar Rakha masuk dalam kelas, Arshinta kembali ingin masuk ke ruangan nya.
“Selamat pagi bu Shinta.” Sapa salah satu pelajar yang sekolah di sekolah nya.
“Pagi Reny.” Jawab Arshinta tersenyum ramah.
“Bagaimana kabar kamu? Apa ada masalah di sekolah lagi?” tanya Arshinta, berhenti melangkah ingin meluangkan waktu sedikit untuk murid nya.
“Kabar saya baik, begitu juga dengan keluarga saya bu. Mereka sangat senang karena ibu menghapus biaya pendidikan saya. Saya tidak ada masalah kok di sekolah.” Jawab Reny, salah satu murid yang mendapatkan kemurahan dari Arshinta.
“Saya juga membuka les untuk anak-anak tetangga saya, menghitung dan menulis.” Ucap Reny.
“Wah.. hebat dong. Semangat ya..” balas Arshinta.
“Apa ada guru-guru yang menyimpang Ren?” bisik Arshinta.
Reny menggelengkan kepala nya dengan yakin, “Tidak ada bu, berkat ibu tidak ada guru-guru yang seperti bu Jamilah dan kawan-kawan nya.
Saya dan lain nya semangat dan senang sekolah di sini. Tapi, apa ibu Shinta tidak rugi, kalau saya dan beberapa murid lain nya di lepaskan dari biaya sekolah?” tanya Reny, merasa tidak enak hati.
“Tidak apa-apa kok, kan ibu Arshinta mu ini punya banyak uang, tidak akan kekurangan, hehehehehe. Sekarang, kalian harus belajar yang benar, kejar cita-cita dan impian kalian.” Ucap Arshinta memberi semangat pada nya.
“Baik bu, dan terima kasih buat kebaikan ibu Shinta.” Balas Reny, tersenyum senang dan ramah.
“Kalau begitu kamu masuk kelas sana, sebentar lagi bel nya masuk.” Suruh Arshinta, melihat jam di tangan nya.
__ADS_1
“Baik bu, saya permisi dulu.” Reny pamit dan pergi meninggalkan Arshinta yang masih menatap punggung nya.
******
Di kantor polisi tempat Abraham dan lain nya, sedang sibuk dan ramai. Abraham dan Adley, ikut bertemu dengan beberapa atasan nya yang
datang berkunjung di kantor nya.
“Pak Kompol Abraham Evano Rameses, saya senang dengan kinerja anda beberapa bulan terakhir ini. Semua penjahat pasti ketakutan
mendengar nama anda sekarang.” Ucap Irwan, Jenderal Polisi.
“Terima kasih pak Irwan. Semua ini juga karena kerja keras dan kerja sama tim kami.” Jawab Abraham sopan.
Irwan, walaupun memuji kinerja kerja Abraham, tapi dalam tatapan mata nya terlihat kalau dia tidak suka dengan Abraham.
“Saya datang ke sini, ingin menyampaikan pesan yang sangat penting untuk anda dan yang lain nya.” Ucap Irwan, membuat Abraham dan yang lain nya menatap serius pada nya.
Abraham dan Adley sebenar nya sudah tahu, apa tujuan utama kedatangan atasan nya itu.
“Tolong, agar anda bekerja sesuai kemampuan dan ruang lingkup anda saja, Kompol Abraham. Anda tentu tahu, bahwa tidak semua bagian
harus di urus pihak kepolisian. Saya tidak ingin, anda dan keluarga anda terlibat dengan dendam dari bos besar penjahat dunia.” Ucap Irwan, ucapan nya sangat serius.
“Bagus, seperti nya anda tidak malu dan ragu untuk mengatakan yang sebenar nya.” Ucap Abraham dalam hati.
“Saya dengar anda sudah berani mengusik kelompok Shadow dan Deadly Poison, anda pasti tahu kan pengaruh mereka apa. Saya tidak ingin hidup anda dan keluarga anda terancam bahaya….
“Kalau untuk Deadly Poison, tidak usah khawatir, karena mereka adalah kelompok papa ku.” Ucap Abraham lagi di dalam hati.
“Anda memiliki dua saudara perempuan, dan orang tua yang sudah tua, yang seharus nya bisa menikmati sisa hidup nya dengan tenang tanpa terancam.” Irwan menyinggung Abraham, pelan namun terpojok kan.
Adley melihat wajah Abraham, ingin melihat reaksi dari atasan nya. Dan ternyata wajah Abraham hanya datar, biasa saja. Tapi Irwan
tidak senang dengan raut wajah anak buah nya, Abraham.
“Anda tidak usah khawatir dengan keluarga saya pak Jenderal, karena mereka akan baik-baik saja. Tapi saya tidak bisa membiarkan kejahatan merajalela, karena tugas polisi adalah untuk melindungi rakyat dan menumpas
__ADS_1
kejahatan. Jika saya memungkiri itu, sama saja saya menutup mata dan membiarkan penjahat menyakiti rakyat yang tidak berdaya, dan saya menganggap diri saya mengkhianati pekerjaan saya.” Ucap Abraham, tenang namun tegas.
“Hebat! Anda sangat hebat sekali pak Abraham.” Ucap Adley di dalam hati.