
“Tapi, kami bisa pulang sendiri, dan lagipula kami tidak ingin merepotkan kalian.” tolak Ayah Bellova lembut.
“Tolong jangan tolak bantuan kami. Kita kan sudah menjadi satu keluarga, jadi jangan anggap menjadi beban.” Eva menyentuh tangan Ibu Bellova, berusaha membujuk mereka agar menerima tawarannya.
Orang tua Bellova saling menatap, seakan saling bertanya, dan suaminya pun menganggukkan kepala, menerima tawaran besannya.
Akhirnya mereka mau dengan bantuan Adam.
*************
Denis yang sedang membaca koran di kamar apartemenya.
‘KOMISARIS ABRAHAM EVANO RAMESES, ADALAH SEORANG PUTERA DARI SALAH SATU MAFIA SADIS YANG HOBI MEMBUNUH!’. Judul koran dengan huruf besar dapat di bacanya dengan jelas.
“Bukan salah satu mafia, tapi Boss mafia! Apa mereka tidak tahu siapa si Lucifer itu? dasar bodoh sekali mereka.” Ucap Denis menaikan ujung sudut bibirnya.
“Hhmm… mereka berniat untuk memberikan hukuman mati pada Lucifer ya. Aku yakin sekali mereka sangat membenci Lucifer, makanya mengusulkan hukuman mati. Hhahh… baguslah kalau begitu, pekerjaanku jadi bertambah kan?” ucapnya tersenyum.
__ADS_1
************
Semua sudah berada di rumah Adam, termasuk anak-anaknya juga sudah berkumpul. Mereka menunggu di meja makan sampai semua makanan di keluarkan dan anggotanya juga sudah lengkap.
Para pelayan juga semakin sibuk menyiapkannya. Sekedar informasi, Lucifer tidak suka terlalu banyak orang baru yang bekerja atau berada di rumahnya selain keluarga besarnya. Jadi para pelayan yang bekerja dengannya adalah sebagian dari isteri-isteri anak buahnya yang sudah di data Aris dan Hendra, tentu saja itu
permintaan dari Lucifer. Itupun mereka ada disana selama berkumpulnya seluruh keluarganya. Namun jika hanya ada mereka berdua saja, Eva dan Adam hanya ada beberapa saja di sana, sekedar untuk membersih-bersih rumah dan menjaga keamanan di luar.
“Hhmm… aromanya enak sekali, sampai tercium dari kamar.” Arshinta baru saja meletakkan book*ngnya di kursi.
Arshinta, Rakha juga terlihat akrab dengan Ina, karena menurut Ina, Rakha anak yang sangat lucu dan menggemaskan.
Satu persatu semua sudah duduk, dan yang masih sibuk lalu lalang adalah Eva dan Bellova. Karena mereka berdua yang mahir memasak dan tahu menu makanan yang enak.
“Dimana mama dan Bellova?” Abraham mencari.
“Ini… ini, kami sudah datang.” Eva dan Bellova datang dengan membawa menu lain di tangan mereka.
__ADS_1
“Apa masih banyak lagi ma? Biar Bram bantu.” Abraham berdiri bersiap ingin membantu.
“Tidak usah, sudah semuanya kok. Yang kami bawa ini menu terakhirnya, jadi kamu duduk saja. Love,
kamu juga duduk sana, kamu sudah bekerja keras membantu mama memasak.” Suruh Eva pada Bellova yang baru saja meletakkan menu ke atas meja.
Abraham menggeser kursi agar Bellova bisa duduk disampingnya, dan disampingnya duduk Eva, mama
mertuanya.
“Ayo… ayo dimakan.” Eva mulai menyendokkan makanan ke piring suaminya lebih dulu, begitu juga dengan Bellova melakukannya pada Abraham.
Karena tidak mau kalah dan hanya memperhatikan saja, Arshinta dan Ina pun melakukannya pada pasangannya seperti yang di lakukan Bellova dan Eva.
Mereka hanya makan tanpa berbicara. Mungkin karena saking laparnya. Hanya terdengar suara gesekan
antara piring dan sendok. Dan para pelayan juga berdiri tidak jauh dari mereka untuk berjaga-jaga jika majikan memanggil mereka. Sesekali celoteh anak-anak disana membuat mereka tersenyum dan tertawa kecil.
__ADS_1