KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
Episode 82


__ADS_3

Abraham baru tiba di kantor polisi tempat nya di tugaskan.


Melihat wajah nya itu, banyak yang tidak berani untuk melakukan kesalahan secara tidak sengaja, mereka hanya menyapa ala kadar nya


saja.


“Selamat pagi pak Komisaris Abraham.” Adley memberi hormat pada atasan nya.


“Hhhmm..” jawaban yang singkat lalu pergi ke ruangan nya.


Adley mengikuti dari belakang.


“Apa anda baru mengantar nona Bellova?” tanya Adley tanpa ragu.


Abraham melihat kebelakang, lalu menganggukkan kepala nya.


“Wah, aku pikir anda akan menahan nya agar tidak pergi.” Ucap teman nya, dengan nada pelan.


Abraham diam mengabaikan ucapan rekan nya. Dia malah fokus pada buku catatan kriminalitas.


Kantor polisi yang tidak pernah sepi dari penjahat yang masuk, baik di tangkap atau di antarkan itu.


“Apa nona Bellova tidak akan kembali lagi ke sini?” tanya Adley lagi.


“Ck… apa pekerjaan mu hanya mempertanyakan itu? apa kau perduli atau ada rasa pada nya?” Abraham balik menyerang dengan pertanyaan.


“Bukan begitu pak Abraham, aku hanya merasa sayang saja wanita seperti dia harus pergi dan jauh dari anda. Kan cuma wanita itu saja yang membuat anda nyaman, dan yang paling penting bisa mengurusi anda dengan benar, hehehehehe..” jawab nya menggaruk kepala.


“Lihat pakaian anda, saya yakin ini masih sisa dari hasil pekerjaan nona itu, masih rapi. Tapi lihat saja nanti seminggu kedepan, pasti kusut, hahahahaha…” ledek Adley menarik ujung baju Abraham.


Adley berhenti meledek karena di pelototin Abraham, merasa salah tingkah.


“Ma..maafkan saya pak. Saya…


“Pak Adley, ada seseorang yang mencari anda di luar.” Ridwan datang mencari Adley yang ada di ruangan Abraham.


“Siapa yang datang mencari ku?” tanya nya tidak tahu.


“Seorang wanita cantik. Anda sebaik nya keluar dan lihat saja sendiri.” Jawab Ridwan yang tidak ingin memberitahukan langsung.


Adley akhir nya keluar dari ruangan atasan nya, sementara Abraham menggelengkan kepala melihat Adley, dia teringat dengan ucapan rekan nya itu.


Seorang wanita berdiri sambil membelakangi arah di mana Adley akan muncul.


Tap…


Langkah Adley berhenti, melihat punggung wanita yang berdiri di hadapan nya.


Adley tidak memanggil wanita itu, tapi wanita itu merasa ada seseorang yang berdiri di belakang nya, hingga berinsiatif untuk berputar.


Wanita itu tersenyum, “Selamat pagi pak Adley.” Sapa wanita yang ternyata itu adalah Monika.

__ADS_1


“Ck..” Adley berdecak tidak suka melihat wanita yang ada di hadapan nya.


“Ngapain kamu ke sini? Apa mau buat laporan?” ledek Adley yang sedikit mengerti tujuan nya datang.


“Aku datang kesini untuk membuat laporan kehilangan.” Jawab Monik dengan semangat dan masih tersenyum.


“Haduh… kalau mau bikin laporan kehilangan kan bisa dengan orang lain, ada petugas kan di sini? Kenapa kau malah memanggil ku..


“Karena anda pencuri nya.” Ucap Monik dengan suara sedikit keras, da santai.


Mendengar suara itu, semua mendengar dan menatap mereka berdua.


“Apa-apaan yang kau katakan? Jangan bercanda di tempat seperti ini. Dan…


“Aku tidak bercanda kok, hehhehehe… oh ya, ini aku bawakan sarapan pagi lagi buat anda.” Monik memberikan bekal makanan yang sudah di bungkus dengan rapi di dalam kotak makanan.


Adley tidak mengambil, dia masih berdiri melihat Monik yang masih mengulurkan kotak makanan ke arah nya.


Beberapa detik mereka berdua diam, Monik merasa tidak nyaman, apalagi banyak yang memperhatikan mereka.


“Pak Adley, segera ambilkan itu.” suruh Ridwan yang merasa kasihan dengan Monik yang hampir malu.


“Kau saja yang ambil Ridwan, kan Kau juga yang sudah makan makanan dari nya sebelum itu.” ucap Adley, berbicara pada rekan nya tapi


tatapan nya mengarah pada Monik yang terkejut dengan ucapan Adley.


“Apa? Jadi sarapan yang aku bawakan itu…


“Tunggu…” Monik menahan tangan Adley agar tidak pergi.


Semua melihat adegan itu, adegan seperti di tv-tv yang tidak mau di tinggalkan kekasih nya pergi.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Adley dengan suara yang sedikit tinggi.


“Kenapa kamu memberikan makanan yang aku buat untuk mu pada orang lain?” tanya Monik.


“Kan aku sudah bilang, aku tidak mau, dan kau memaksa ku untuk mengambil nya kan? Jadi terserah aku mau memberikan nya pada siapa.”


Jawab Adley ketus.


“Tapi kan…


“Maka nya sekarang kasih saja kotak makanan yang kau buat ini untuk nya (menunjuk pada Ridwan) atau pada Abraham.” Ucap Adley.


Monik melepas tangan nya, menunduk kan wajah merasa malu dan sedih.


“Aku pikir… aku pikir kamu memakan makanan yang aku buatkan, aku pikir kamu menyukai nya…


“Bagaimana bisa aku menyukai nya sedangkan aku menolak.” Balas Adley.


Ridwan merasa tidak enak hati.

__ADS_1


Abraham mendengar suara mereka, tapi tidak mau ikut campur. Karena diri nya juga dalam keadaan galau.


“Eeehemmm, nona, sebaiknya anda…


“Apa benar?...


“Apa?” Ridwan bertanya heran.


“Apa benar kalau makanan itu anda yang makan?” tanya Monik, wajah nya menunduk menyembunyikan kesedihan nya.


“Aduh… gimana ya, sebelum nya saya…


“Ini..” Monik memberikan kotak makanan nya pada Ridwan, lagi.


“A.. apa ini?” tanya Ridwan heran, menggaruk kepala nya.


“Ambil lah. Dari pada… dari pada makanan nya terbuang dan sia-sia, lebih baik aku memberikan pada orang yang menghargai masakan ku.” Ucap nya dengan nada sedih.


“Tapi…


“Tidak apa-apa, ambil saja. Mungkin ini salah ku karena menyukai orang yang tidak bisa menghargai perasaan orang lain. Yah… nama nya perasaan, tidak bisa ku kendalikan, aku tidak ingin melakukan ini sebenar nya, tapi… aku tidak bisa menahan nya. Tapi… mulai sekarang, aku akan mencoba belajar untuk mencari orang yang bisa menghargaiku.” Ucap Monik.


Adley, Ridwan dan Monik berdiri dengan suasana canggung, adapun orang lain yang melihat hanya menatap aneh dan melewati nya.


Akhir nya Ridwan menerima kotak makanan dari Monik, sambil melihat reaksi dari Adley, tapi pria itu tidak bicara atau menatap pada nya


apalagi pada Monik.


“Apa, ini benar-benar tidak apa-apa kalau aku menerima nya..” Ridwan melirik Adley.


“Kau tuli ya? dia sudah memberikan pada mu, jadi jangan banyak protes.” Celetuk Adley.


Monik mengangkat wajah nya.


“Benar, tolong di ambil ya.” pinta Monik dengan tersenyum pada Ridwan.


Monik wajah nya berubah menjadi tidak sedih lagi.


Ridwan menerima nya tanpa ada perasaan tidak enak lagi.


“Terima kasih ya nona Monik.” Ucap Ridwan.


“Nama anda siapa?” tanya Monik girang.


“Sa….saya Ridwan.” Jawab nya gugup.


“Aku Monik, Monika Stefani.” Ucap nya memperkenalkan diri.


Mereka berdua berjabat tangan, dengan senang dan tersenyum.


“Ck..” decak Adley pergi meninggalkan dua orang itu.

__ADS_1


__ADS_2