
Bellova memperhatikan terus Abraham yang sangat serius memotong apel.
“Bagaimana dengan Arshinta dan Satmaka? Apa mereka baik-baik saja?” tanya Bellova tidak ingin suasana diam yang membuatnya canggung.
“Mereka tidak terluka parah sepertimu, jadi mereka baik-baik saja.” Jawab Abraham yang masih serius memotong apel.
“Arshinta itu tangguh dan hebat. Tapi walaupun begitu aku tetap khawatir padanya.” Ucapnya lagi tanpa melihat Bellova.
Bellova tahu, kalau Abraham sangat sayang pada dua saudara perempuannya.
“Tapi saat ini yang lebih membuatku khawatir adalah dirimu, ini makan lah, aaaaaaaa….” Abraham memberikan potongan pertama pada Bellova yang kaget dengan ucapan Abraham.
Mendadak mendapatkan potongan buah, membuatnya langsung membuka mulut dan mengunyahnya.
“Kau khawatir padaku? Kenapa?” tanyanya sambil terus mengunyah, nada nya biasa saja bertanya, tapi dia berharap jawaban Abraham menyenangkannya.
“Bagaimana aku tidak khawatir dengan mu, kau kan isteriku. Sudah sewajarnya kan. Bagaimana rasa apelnya? Manis tidak?”
“Apel nya manis kok. Terima kasih.”
Abraham ingin memberikan potongan apel lagi.
“Aku ingin jeruk.” Pinta Bellova, dan Abraham langsung memberikan jeruk setelah meletakkan apel di piring.
“Biji jeruknya buang disini saja.” Abraham meletakkan telapak tangannya di depan mulut Bellova, untuk menampung biji jeruk yang ada di mulut Bellova.
__ADS_1
“Biar aku-
“Sudah, letakkan disini saja.” Pinta Abraham lagi.
Wajah Bellova sedikit merah, karena permintaan Abraham. Akhirnya biji jeruk sudah di keluarkan dan ada di telapak tangan Abraham.
Beberapa jeruk sudah dimakan Bellova.
“Aku mau pisang.” Pinta Bellova.
Abraham pun mengambil pisang barangan, salah satu jenis pisang yang berwarna kuning. Segera dikupas
dan diberikan pada Bellova yang menunggu.
“Buka mulutnya.” Abraham sudah bersiap-siap memasukkan pisang.
“Mama…” Abraham melihat Mama dan Bibinya yang baru saja masuk membuka pintu.
“Haduh… maafkan kami ya, datang mengganggu kemesraan kalian.” celetuk Lisna.
“Iya, mana lagi makan pisang, jadi enggak enak nih.” Sahut Cleo.
“Bagaimana ya, apa kita keluar saja?” Eva pun merasa bersalah.
“Jangan ma!” pinta Abraham dan Bellova bersamaan.
__ADS_1
Eva dan yang lainnya saling tatap-tatapan dengan kalimat dari anak dan menantunya.
“Ehem, bagaimana keadaanmu menantuku? Apa masih sakit?” Eva melanjutkan langkahnya kearah Bellova.
“Sakit sedikit kok ma. Mama dan bibi mau buah? Ini masih ada banyak.” Tawar Bellova.
“Oh, tidak usah sayang, kau makan saja. Hey Bram, lanjutkan dong memberinya pisang, dia sudah menunggu tuh.” Eva menepuk bahu Abraham.
Karena Abraham yang penurut, dia memberikan pisang tadi yang sudah di lepas dari kulitnya.
Eva dan sahabat-sahabatnya kembali saling bertatap-tatapan. Abraham memang biasa saja, berbeda dengan Bellova, wajahnya semakin memerah menahan malu.
“Apa kalian sempat bertemu dengan Papa?” tanya Eva agar tidak canggung.
“Papa? Tidak, apa Papa ada disana?” tangan Abraham berhenti sejenak dengan pertanyaan mamanya.
“Kata pamanmu Revand dan Vicky, Papamu sudah menangkap Bossa, yang juga ada disana, mungkin saat itu kalian sudah pergi kerumah sakit.” Cleo yang menjawab pertanyaan Abraham.
“Bossa? Tapi aku tidak melihat ada Bossa disana.” Ucap Abraham.
“Tentu saja kau tidak melihatnya, Papamu kan tahu saja di mana letak persembunyian orang itu.” tambah
Lisna lagi, dan diacungi jempol dari Eva dan Cleo, Isabella hanya tersenyum melihat ipar dan temannya itu.
“Sebaiknya kalian pulang kerumah kita dulu, sekalian papa ingin berbicara dengan kalian semua.” Ucap Eva.
__ADS_1
“Apa karena Arshinta dan kak Ina yang penasaran dengan identitas Papa?” tebak Abraham, dan dibalas dengan anggukkan kepala Eva, Lisna, Cleo dan Isabella.