
Setelah memakan beberapa waktu lama nya, akhir nya pengantin baru itu tiba di kantor polisi, di mana Abraham bekerja. Baru saja turun dari mobil, sudah mendengar suara banyak orang di dalam, suara yang dia kenal itu milik siapa. Dengan cepat dia masuk kedalam, setelah membukakan pintu untuk Bellova.
“Entah ini lucu atau bagaimana, tapi yang jelas aku tidak bisa menahan tawa.” Ucap Ridwan menahan tawa nya.
“Ada apa ini?” Abraham sudah masuk kedalam ruangan. Ruangan yang terpisah dari warga dan tahanan yang ada di dalam sel.
Ridwan, dan yang lain nya melihat asal suara bersamaan.
“Ehem, jadi begini pak…
Ridwan pun menjelaskan kejadian yang baru saja terjadi.
“Pppfftt..” terdengar suara seseorang yang menahan tawa di belakang mereka.
Ternyata Bellova yang tidak sengaja tertawa kecil, tapi suara nya terdengar, dia menjadi pusat perhatian termasuk Abraham yang sebelum nya memijit batang hidung karena kejadian yang terjadi.
“Ma..maafkan saya-
Abraham mengangkat telapak tangan, agar Bellova tidak melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
“Jadi… seorang polisi yang menyamar sebagai penjual narkoba menangkap polisi yang menyamar sebagai pembeli narkoba?” Tanya Abraham menunjuk kedua polisi yang menyamar itu dengan jari telunjuk nya.
“Benar.” Adley menjawab.
“Apa kalian tidak saling kenal?”
“Pak Abraham, saya sudah katakan kalau saya adalah polisi juga, tapi mereka tidak percaya, padahal saya sudah menunjukkan lencana dan borgol yang saya bawa, malahan mereka menuduh bahwa saya pencuri dan penipu.” Polisi yang menyamar sebagai pembeli membela diri.
Ridwan, Adley dan beberapa polisi yang ada di sana mengalihkan wajah nya karena tidak mau tertawa di depan dua kubu yang ternyata satu posisi, mereka menutup mulut agar tidak ketahuan sedang tertawa, begitu juga Bellova, yang merasa sangat lucu.
Mengapa Bellova selalu ada di kantor polisi, terkadang ikut mendengar berita dan cerita kasus kejadian, itu adalah ijin dari Abraham, maka nya wanita itu mendapat ijin istimewa untuk mengikuti nya.
“Wajah ku sampai babak belur nih di pukul.” Polisi yang di tangkap menjukkan wajah nya yang sudah membengkak.
“Ya, maafkan saya pak, untuk biaya pengobatan nya saya akan menanggung sampai anda sembuh.”
“Padahal di sana ada penjahat yang sebenar nya, tapi kita malah di kecohkan dengan kesalah pahaman ini.”
“Ah, sudah lah. Ini sebagai pembelajaran saja. Untung saja aku kenal dengan pak Yanto, kalau tidak, mungkin sudah menjadi tahanan.” Ucap Abraham menatap mereka.
__ADS_1
“Seperti nya mereka sudah tahu kalau ada mata-mata atau melakukan penyamaran, pasti mereka akan menjadi lebih berhati-hati lagi kalau bertransaksi.” Ucap Bellova yang tanpa sadar berbicara, dengan nada polos dan santai nya.
“Hah?” suara serentak yang keluar dari mulut semua anggota polisi yang ikut berkumpul, melihat Bellova yang tiba-tiba bersuara.
Bellova gugup, Abraham mengernyitkan dahi nya.
“Aduh… maafkan saya karena ikut campur.” Ucap nya menggaruk kepala.
“Ehem, benar yang di katakan isteri ku, pasti mereka akan lebih waspada.” Abraham mendehem.
“Hm.. ‘isteri’.” Ledek Venam.
“Ada apa venam? Kau keberatan?” balas Abraham menatap tajam Venam.
“Oh, tidak pak, hehehhehe..” tawa kecil Venam.
“Apa menurut kalian ini ada hubungan nya dengan Bossa?” Abraham mengalihkan topik.
“Aku yakin tidak ada, karena beberapa waktu ini tidak ada pergerakan dari nya melalui pengawasan ku.” Jawab Venam.
__ADS_1