
Selama perjalanan pulang tidak ada obrolan. Sekalipun Bellova tidak melihat atau melirik Abraham yang dengan terang-terangan menatap nya. Wanita itu hanya menatap sisi kiri.
“Apa leher mu tidak pegal lihat kearah kiri terus?” Abraham membuka obrolan.
Bellova hanya menggelengkan kepala tanpa bersuara.
“Kamu kenapa sih? Marah? Ngambek?” Abraham bertanya lagi sesekali melihat nya.
Tidak ada respon, wanita itu hanya diam.
“Hm.. berarti benar kan, kalau kamu sedang marah dan ngambek?” tebak nya.
“Kamu marah karena aku mengajak mu pulang?”
Bellova akhir nya melihat Abraham, seperti ingin bicara tapi di tunda, melihat sisi kiri nya lagi.
Melihat itu Abraham menghela napas, fokus pada jalan raya.
“Sumpah deh, aku tidak tahu ada apa dengan mu, apa yang terjadi, apa yang kau inginkan kalau kau sendiri tidak memberitahukan padaku. Kalau kau marah, aku pun bisa marah, karena aku tidak bisa diabaikan tanpa alasan.” Ucap Abraham yang juga mulai kesal.
Wajah gadis itu sekarang sudah menatap kedepan, namun menundukkan wajah nya dalam diam.
__ADS_1
“Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan ku.” Jawab nya dengan suara pelan, menundukkan wajah memainkan jari tangan nya.
“Memang nya apa yang terjadi sebelum nya? Apa ada yang membuat mu kesal? Ada yang mengganggu mu tadi?” tanya Abraham dengan nada pelan.
“Aku hanya tidak suka ada wanita lain yang bertanya tentang mu, aku tidak mau mereka menyukai mu.” Jawab nya dengan pelan lagi.
“Hah?”
“Apa kau cemburu?”
Bellova tidak yakin dengan apa yang di tebak suami nya, tapi dia sudah mulai menatap Abraham.
“Hhmm… ya ampun Lov, itu nama nya cemburu, tidak usah di ingkari lagi, wajar kamu cemburu karena aku suami mu dan kau pasti tidak mau kan perempuan lain menaruh perasaan padaku.”
Bellova mengangguk.
“Tapi kamu atau aku tidak bisa menutup mata mereka yang menatap kita, kecuali mereka buta. Mereka suka, benci atau terpesona dengan kita adalah hak mereka, dan kita juga punya hak untuk menolak atau menerima.
Tapi kau tenang saja, aku sampai saat ini tidak membalas perhatian perempuan manapun kok.” Ucap nya lagi dengan yakin.
“Kalau….kalau suatu saat nanti aku…. Aku jatuh cinta pada Abraham, bagaimana?” walau dengan gugup Bellova bisa menyelesaikan pertanyaan nya.
__ADS_1
Abraham yang melihat dengan dahi mengernyit. Diam untuk beberapa saat.
“Lebih baik kau jangan jatuh cinta pada ku, karena aku takut aku tidak bisa membalas nya. Biarkan aku yang lebih dulu mencintaimu,” jawab nya dengan serius.
“Apa sekarang kau sudah jatuh cinta padaku? Jawab yang jujur.” Pertanyaan Abraham yang serius membuat Bellova gugup.
Bellova menggelengkan kepala, “Tidak, aku belum jatuh cinta pada mu.” Jawab nya yakin walau gugup.
“Bagus, lebih baik begitu. Aku hanya tidak mau menyakiti perasaan dan harapan mu nanti.” Abraham merasa senang.
“Lalu, untuk apa pernikahan kita ini?” tanya Bellova menundukkan wajah nya lagi.
“Pernikahan bisa berjalan tanpa cinta, Lova. Tidak usah di pikirkan. Yang penting kita saling menghormati, menjalankan peran masing-masing, sebagai suami dan isteri. Kamu mengerti kan?” dengan gampang nya Abraham menjawab pertanyaan Bellova.
“Jadi, harus kau yang lebih dulu mencintaiku? Tidak adil.” Suara pelan Bellova.
“Apa? Apa yang kau katakan?” tanya Abraham yang tidak bisa mendengar dengan jelas.
“Tidak, tidak ada.” Jawab nya menggelengkan kepala.
“Seperti nya aku harus mulai jaga jarak dengan nya, agar dia tidak sakit hati nanti.” Gumam Abraham dalam hati.
__ADS_1