
Sesekali pria itu diam-diam mencuri pandang melihat Bellova, yang sibuk memeriksa tasnya yang hampir ketinggalan.
“Ehem… nama anda siapa Nona?” tanya pria itu membuka obrolan.
“Saya? Nama saya Bellova, nama anda siapa tuan?” tanya Bellova setelah menjawab pertanyaan pria itu, dan masih tersenyum.
“Ya ampun, senyumannya…” gumamnya dalam hati.
“Saya Denis, Denis Alean.” Ucap Denis memperkenalkan dirinya.
“Nona Bellova jangan memanggilku ‘tuan’, rasanya berat mendengarnya.” Pinta Denis menggaruk telinga
kanannya.
“Oke, tapi anda juga jangan memanggilku ‘Nona’ lagi, panggil nama saya saja, Bellova.”pinta Bellova juga.
Denis melihatnya sambil tersenyum, “Baiklah Bellova.” Jawabnya dan fokus ke jalan raya lagi.
“Wanita ini sangat cantik dan ramah, tidak seperti Angel dan wanita-wanita lain yang pernah aku temui.”
Gumam Denis dalam hati, sesekali masih saja melirik Bellova.
“Cantiknya sangat natural. Hm… sepertinya… aku tertarik padanya.” Ucapnya lagi dalam hati tersenyum kecil.
Sementara itu Bellova mengeluarkan ponsel dan mencari aplikasi WA untuk mengabarkan suaminya Abraham.
“Oh ya No- maksudku Bela, apa saya bisa meminta nomor ponselmu?” tanya Denis tanpa ragu.
__ADS_1
Bellova memandangnya dengan heran.
“Jangan salah paham, saya hanya ingin anda mendapat perawatan dengan baik, dan saya juga ingin bertanggung jawab atas perbuatan ku.” Denis menjelaskan lagi, menggaruk pipinya.
“Kenapa aku merasa gugup dengannya ya?” tanyanya dalam hati melirik Bellova.
Bellova diam sejenak, berpikir dan mempertimbangkannya.
“Maafkan saya Denis, saya tidak bisa memberikan nomor saya pada anda, tapi anda jangan khawatir,
semuanya baik-baik saja kok. Ini hanya luka kecil, mungkin karena lukanya baru, jadi terasa sakit.” Bellova menolak secara pelan agar Denis tidak tersinggung.
Ada sedikit kekecewaan dari wajah Denis, diapun diam sejenak. Melihat itu, Bellova merasa tidak enak
hati.
“Tapi saya masih tidak bisa bernafas dengan tenang Bella, saya ingin memastikan keadaan anda. Saya…
“Bukan…. Bukan kok, anda tidak melakukan kejahatan, itu kan hanya tidak disengaja.” Dengan cepat Bellova menjelaskannya.
Denis masih diam.
“Saya benar-benar tidak apa-apa, dan saya juga tidak bisa memberikan nomor ponsel saya pada anda, saya mohon anda bisa mengerti.” ucap Bellova dengan harapan Denis mengerti dan tidak memaksanya.
“Aku tidak boleh memaksanya, jangan sampai dia menjauh dan salah paham padaku, pelan-pelan saja.” Gumam Denis dalam hati.
“Pelan-pelan saja? Bagaimana bisa? Rasanya aku ingin memilikinya langsung, seperti wanita-wanita yang menginginkan ku.” Ucapnya lagi dalam hati.
__ADS_1
“Tapi kalau aku memaksanya lagi, dia akan lari dariku.”
Pikiran dan pertimbangan Denis bercampur.
“Baiklah kalau begitu Bella, saya tidak akan memaksa anda.” Ucapnya mengalah. Bellova tersenyum merasa lega.
“Tapi, jika suatu saat kita bertemu lagi, kamu harus memberikan nomor ponselmu padaku ya?” pinta Denis.
Bellova diam sesaat, “Baiklah.” jawabnya.
“Wah… benar ya? saya orang baru di sini, jadi saya ingin menambah teman, saya merasa sangat kesepian
dan butuh teman.” Ucap Denis senang dengan jawaban Bellova.
“Iya, saya janji akan memberikan anda nomor ponsel saya.” Ucap Bellova.
“Paling tidak kau bisa bertanya pada Abraham meminta ijin, kalau tidak bisa, Abraham pasti ada jalan keluarnya.” Ucap Bellova dalam hati.
************
Ting…
Sebuah pesan masuk di ponsel Abraham yang berada diatas meja.
Abraham meraih ponsel dan membaca pesan.
“Bram, maafkan aku tidak bisa mengantar makan siang hari ini, karena aku baru saja mengalami kecelakaan, dan sekarang aku dalam perjalanan kerumah sakit.” Isi pesan Bellova.
__ADS_1
Bragh…
Abraham berdiri spontan mendapat pesan dari isterinya, Adley dan lainnya sampai terkejut mendengar gebrakan meja dari Abraham.