KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 76


__ADS_3

“Apa karena aku tidak makan ya? baik lah, aku akan makan. Tolong maafkan aku dan jangan marah, aku tidak mau kita putus. Jangan marah ya sayang, aku tidak bisa putus dari mu.” Bujuk Icha memegang tangan Adley.


Adley tidak memberikan jawaban, dia diam.


“Kalau sampai kita putus, tidak ada yang bisa menjaga dan menemani ku lagi. pokok nya jangan sampai kami putus.” Gumam Icha.


Icha makan dengan lahap, Adley hanya diam memperhatikan nya.


“Cepat habiskan makan malam mu, aku akan mengantar mu pulang.” Ucap Adley, menyendok kan makanan nya.


“Aku menginap di sini saja ya? ini kan udah malam, aku takut pulang…


“Makanya aku akan mengantarmu pulang. Dan aku tidak bisa membiarkan mu menginap di sini.” Ucap Adley.


“Kenapa? Kita kan pacaran…


“Pacaran kan? Bukan suami isteri.” Balas Adley cepat.


“Tapi kan…


“Icha! Aku sudah capek dengan sikap mu. Selama ini aku diam dan menuruti permintaan mu, aku pikir kau akan berubah. Kau lebih memilih ponsel mu dari pada aku? Aku tahu kalau kau sudah memiliki pria lain di belakang ku kan?” ucap Adley.


Beberapa kali Adley memang sudah tahu kalau Icha memiliki hubungan dengan pria lain. Dia tahu bukan hanya dari pemberitahuan rekan kerja nya, tapi dia juga pernah melihat langsung. Tapi setiap di tanya, Icha selalu


memberikan jawaban yang tidak masuk akal. Dan Adley melupakan itu bukan berarti dia bodoh atau lemah.


Icha menangis, walau sambil makan, berharap agar Adley memaafkan nya.


“Ck… kalau kau sudah selesai makan nya, katakan pada ku, aku akan ke kamar.” Adley berdiri.


“Sayang….


Adley mengabaikan kekasih yang menarik tangan nya, menahan nya untuk tidak pergi, tapi Adley melepas genggaman tangan Icha. Melihat itu, Icha menghentak kan kaki nya.


Di lain tempat, di kediaman Monika, gadis muda itu makan malam seorang diri, kedua orang tua nya yang sibuk dengan kesibukan


masing-masing, sudah 2 minggu mereka tidak pulang kerumah.


Untung saja Monika memiliki pelayan di rumah nya. Setiap makan malam atau sarapan, dia dan pelayan nya duduk dan makan bersama di meja


makan, tidak ada perbedaan di antara mereka, namun kalau ada orang tua nya, para pelayan tidak berani, meski di paksa Monik.


“Nona Monik, ini udang goreng nya, udang nya masih segar dan besar loh. Nona kan sangat suka udang dan kepiting.” Salah satu pelayan nya menghidangkan udang besar, yang sudah di kupas dari kulit keras nya.

__ADS_1


“Ayo makan bersama saja, jangan ada yang tidak kenyang ya. Tidak boleh tidur kalau makanan nya masih ada sisa. Pokok nya harus di habiskan.” Perintah Monik yang sudah duduk di kursi, sementara piring nya di isi makanan oleh pelayan.


********


Di rumah Abraham, Bellova sedang menyiapkan makan malam di meja, menunggu majikan nya turun untuk makan. Wajah nya yang masih pucat, takut kalau majikan nya masih marah. Suara langkah kaki terdengar di belakang Bellova, saat dia menoleh, Abraham sudah berada di belakang nya, dan sangat


dekat.


“Ah.. pak Abraham..”saking terkejut nya, dia mundur dan menginjak kaki Abraham yang hanya memakai sandal tipis berbulu.


“Maaf pak, maafkan saya. Saya tidak sengaja…


“Sudah lah.” Abraham mengabaikan, dia duduk di kursi tempat dia makan.


Bellova masih berdiri, tidak berani duduk.


“Kamu ngapaian berdiri sih? Bikin sakit mata.” Ucap Abraham yang merasa risih.


“Iya pak, maaf.” Dengan cepat dia duduk.


Seperti biasa, dia selalu menyendok kan nasi dan lauk di piring Abraham, dan Abraham tidak keberatan, sudah terbiasa, bahkan porsi nasi


nya saja Bellova sudah tahu.


“Mmm… pak Abraham, saya….saya..” Bellova gugup untuk mengatakan nya. Suara nya terbata-bata.


“Ada apa? Kalau mau bicara ya bicara, jangan gantung-gantung gitu.” Abraham melihat Bellova yang masih gugup.


“Saya… saya mau ijin pulang kampung pak. Saya..


Tak…


Abraham melepas sendok makan, mulut nya berhenti mengunyah.


“Pulang kampung? Kapan dan berapa lama?” tanya nya berhenti mengunyah. Pertanyaan nya yang sangat serius membuat Bellova semakin gugup, padahal Abraham merasa santai bertanya, tapi wanita itu seperti ketakutan.


“Dua, dua hari lagi pak. Dan saya tidak tahu, kapan saya kembali kesini lagi, tapi mungkin tidak kembali kesini…


“Kenapa??” tanya nya mengkerutkan dahi nya.


“Orang tua saya menjodohkan saya dengan pemuda di kampung, dia orang nya baik dan tetangga saya,…


“Apa? Menikah? Kau kan masih muda, kenapa cepat sekali menikah nya. Apa kau sudah kenal lama dengan nya?” tanya Abraham, heran dengan jawaban Bellova yang jujur itu.

__ADS_1


“Belum sih pak, tapi kata keluarga saya orang nya baik, dan kata keluarga saya…


“Kata nya…kata nya…kata nya, berarti kau belum pernah bertemu dengan nya kan?” tanya Abraham.


Bellova menggelengkan kepala nya.


Abraham menghela napas nya.


“Dan kau mau menikah dengan pilihan keluarga mu itu? meskipun kau belum kenal atau suka?” tanya Abraham.


Bellova mengangguk kan kepala nya.


“Ck..” Abraham menggelengkan kepala, tidak mengerti dengan pikiran Bellova.


Tidak ada pembicaraan lagi. Abraham juga tidak melanjutkan makan nya. Dia diam, Bellova juga.


“Jadi… bagaimana pak…


“Ya mau bagaimana lagi, kalau itu mau mu, silahkan.. aku tidak bisa melarang nya kan.” Ucap Abraham, dia menarik kursi nya agar keluar dari kursi nya.


“Pak Abraham mau kemana? Makanan nya ini belum habis..


“Kau habiskan saja.” Ucap Abraham terus berjalan.


“Bisa-bisa nya kau membuat ku badmood.” Ucap Abraham dengan suara pelan.


“Kenapa pak Abraham pergi? Dan makanan nya masih banyak, biasa nya pasti habis. Apa aku melakukan kesalahan?” ucap Bellova, tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Abraham.


**************


“Sudah kok, Rakha sudah makan tadi. Ini sekarang dia sedang tidur.” Arshinta video call dengan Satmaka, sementara di samping nya Rakha sudah tertidur pulas memakai selimut.


“Terima kasih ya, sudah menjaga nya. Dia tidak merepotkan mu kan?” tanya Satmaka, yang masih memakai pakaian kerja dan masih berada di kantor.


“Enggak kok, sama sekali tidak di repotkan. Justru aku senang dia ada di sini, ada yang menemani ku. Tapi seperti nya kau masih


bekerja ya? ini sudah jam 9 malam.” Arshinta melihat kerah pakaian dari Satmaka.


“Iya, aku sengaja mengerjakan nya dengan cepat, biar bisa pulang lebih cepat. Dan bertemu dengan kalian juga.” Jawab Satmaka tertawa kecil.


“Iya ya, seperti nya Rakha juga sudah sangat rindu dengan mu. Tiap hari bertanya, kapan papa nya pulang.” Ucap Arshinta, mengusap kepala Rakha yang masih pulas.


“Hanya dia? Apa kau tidak rindu pada ku?” tanya Satmaka.

__ADS_1


__ADS_2