KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 97


__ADS_3

Satmaka yang lagi sibuk nya di kantor mendapat panggilan telepon, awal nya di abaikan tapi karena sudah beberapa kali nomor itu menghubungi, dia mengangkat nya juga tanpa melihat siapa yang menghubungi nya.


“Hallo, ini siapa?” tanya Satmaka sambil fokus pada berkas nya.


“Hallo, pak Satmaka, saya dokter Farhan.”


Satmaka langsung menghentikan pekerjaan nya dan fokus pada dokter itu, karena dia merasa pasti ada yang penting yang akan di sampaikan.


“Dokter Farhan, ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya nya bangkit berdiri.


“Begini pak Satmaka, saya ingin memberitahukan pada anda, kalau adik perempuan anda, Fenara..


“Ada apa dengan nya?”


“Adik... anda sudah meninggal pagi tadi.” Ucap dokter Farhan khawatir.


“Apa? Kenapa…kenapa bisa terjadi dokter?”


“Sebaik nya anda datang saja kesini sekarang untuk memeriksa nya. Saya akan jelaskan semua pada anda.” Jawab dokter itu yang tidak bisa menjelaskan melalui telepon.


“Baik, saya akan kesana sekarang.” Setelah menjawab akan datang, Satmaka menutup telepon nya.


Dia menangis dan meremas rambut nya, kesedihan begitu di rasakan.


Dengan terburu-buru, dia keluar dari ruangan tanpa memakai jas nya, hanya kunci mobil dan ponsel nya saja.

__ADS_1


Semua karyawan nya melihat heran, ada apa dengan bos nya yang berjalan begitu cepat, di tambah lagi raut wajah nya yang sangat sedih dan panik.


Satmaka mengeluarkan ponsel, menghubungi seseorang.


Sedikit lama baru mendapat jawaban dari panggilan nya.


“Hallo Satmaka, ada apa? Seperti nya ini belum waktu…


“Shinta, aku akan menjemput Rakha sekarang.” Ucap Satmaka memotong ucapan Arshinta.


“Tapi dia belum selesai sekolah nya, 30 menit lagi. Ada apa Maka?” tanya Arshinta merasa ada sesuatu.


Satmaka yang sudah berada dalam lift, mengatur napas sebelum menjawab pertanyaan wanita itu.


“Fenara, adik ku, tadi barusan dokter mengatakan kalau dia.. dia baru saja meninggal, jadi.. aku ingin menjemput Rakha dan akan kerumah sakit.” Jawab Satmaka dengan suara gemetar.


“Hhaahh… iya, kau boleh ikut. Aku sedang dalam perjalanan kesana.” Jawab Satmaka.


Lift nya sudah berhenti, dia berlari mengambil mobil nya untuk segera keluar dan ketempat Arshinta.


Arshinta yang mendengar kabar dari Satmaka merasa ikut merasakan kesedihan.


“Ada apa bu Arshinta?” tanya Ruly yang melihat Arshinta dalam keadaan sedih.


Arshinta melihat asisten yang sudah lama di percaya nya.

__ADS_1


“Adik Satmaka tadi pagi meninggal Rul, aku harus kesana bersama Rakha.” Jawab nya dengan nada pelan.


“Ya ampun bu, saya turut berduka cita ya bu. Ibu sebaik nya langsung menjemput Rakha saja, biar saya yang mengurus sisa nya.” Ucap Ruly.


Arshinta mengangguk kan kepala. Dia hanya mengambil ponsel dan tas kecil nya saja dan langsung keluar setelah pamitan dengan Ruly, dia akan menjemput Rakha di kelas nya.


***********


Monik yang baru saja tiba di kantor polisi dengan membawa makanan yang sudah di pesan bersama satu orang yang bekerja dengan nya.


Baru saja turun dari mobil, beberapa polisi itu sudah mendekati nya, sambil membantu membawakan makanan yang di bungkus rapi.


“Terima kasih pak.” Monik mengucapkan dan tersenyum.


Mereka membawa nya kedalam, yang kebetulan hanya ada Adley, karena Ridwan sedang berada di lapangan, sementara Abraham sedang dalam perjalanan menuju kampung halaman Bellova.


Tatapan mereka bertemu, memang ada polisi lain juga di sana, tapi yang paling di kenal Monik ada beberapa saja, termasuk Adley.


“Selamat siang pak Adley.” Sapa Monik menghampiri nya.


Adley yang duduk setengah di atas meja, sedang membuka buku besar, buku berisi catatan penting.


“Siang.” Jawab nya tanpa menoleh pada Monik, padahal sebelum nya dia sudah melihat nya.


“Dimana pak Ridwan dan pak Abraham? Aku tidak melihat nya.” Tanya nya dengan melihat di sekitar nya.

__ADS_1


“Abraham sedang keluar kota, dan Ridwan juga lagi kerja di lapangan, sebentar lagi juga datang.” Jawab nya bersikap acuh.


“Oohh…” jawab Monik mengangguk.


__ADS_2