KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 169


__ADS_3

Karena masih belum ada jawaban, Abraham bertanya lagi.


“Kamu kenapa diam?”


“Aku tidak tahu harus jawab apa.” Ucap nya ragu.


“Loh, aneh kamu. Tinggal jawab saja sesuai dengan yang kamu inginkan.” Balas Abraham yang tidak mengerti.


Bellova diam, berpikir.


“Memang nya kamu pulang jam berapa?” Bellova mengangkat wajah nya bertanya pada Abraham yang menunggu jawaban.


“Hmm… sekitar jam enam atau tujuh malam, karena masih banyak kerjaan di kantor.” Jawab nya berpikir.


“Apa kamu keberatan kalau aku ikut bersama mu dan pulang bersama?” tanya Bellova melihat Abraham.


“Ya ampun, kenapa aku bertanya seperti itu? apa yang akan di pikirkan nya.” gumam Bellova dalam hati, sedikit merasa malu.


Abraham sekilas tersenyum.


“Oh, kau mau bersama ku ya?” ledek Abraham.


Bellova tidak menjawab, dia mengalihkan tatapan nya ke sisi kiri jalan.


“Tidak apa-apa kalau kau mau ikut bersama ku, asalkan tidak terpaksa ya.” ucap Abraham lagi.


“Aku tidak terpaksa kok, aku hanya senang saja dekat dengan-

__ADS_1


Tak…


Tanpa sadar dan merasa malu, Bellova melempar pandangan nya lagi ke sisi kiri jalan.


“Hahahaha…. Maksud mu, kau senang dekat dengan ku ya?”


Bellova tidak menjawab.


“Hm? Iyakan?” tanya Abraham lagi, melihat Bellova, menggoda nya.


Bellova tetap diam.


“Hah, lucu sekali, dia pasti merasa malu, daun telinga dan pipi nya saja sampai merah begitu.” Ucap Abraham dalam hati.


“Ya sudah, kalau kau mau bersamaku, its oke, no problem selama itu mau kamu.” Abraham mengijinkan Bellova untuk ikut dengan nya.


“Kenapa?” Bellova membalikkan wajah nya, menatap Abraham.


“Di sana kan banyak penjahat yang masuk, hampir setiap hari dengan kasus yang berbeda. Dan kau akan melihat nya juga, apa kau tidak takut pada mereka?”


“Tidak.” Jawab spontan Bellova menggelengkan kepala.


Abraham terkejut dengan jawaban isteri nya yang polos dan jujur itu.


“Tidak? Tapi mereka pasti ada yang sudah terluka di hajar massa atau polisi, dan pasti ada darah.” Ucap Abraham.


“Tidak takut. Karena aku sudah pernah melihat adegan yang lebih menyeramkan dari yang pernah kulihat di kantor polisi.” Jawab Bellova lagi.

__ADS_1


“Maksud mu… saat kau di culik itu? si Bossa?”


Bellova menganggukkan kepala.


Abraham menghela napas nya, fokus pada jalan raya.


“Dan kau tidak trauma ya.”


“Awal nya sih trauma, takut dan terbayang gitu, bahkan tidak nafsu makan. Aku sampai tiga hari tidak makan dan minum karena teringat dengan potongan daging dan darah. Bos penculik bahkan menempelkan daging mentah itu ke bibir kami, memaksa kami untuk memakan nya. Saat itu aku sampai menangis karena tidak mau memakan nya, walau di tampar pun aku-


“CUKUP!!”


Bellova langsung diam.


“Apa dia marah padaku?” gumam Bellova.


“Harus nya aku tidak perlu bicara yang menjijikkan itu.” gumam nya lagi.


Padahal Abraham merasa kasihan pada Bellova setelah mendengar ucapan isteri nya itu. Setir kemudi mobil nya di genggam dengan erat, melampiaskan emosi dalam genggaman nya.


“Tapi sekarang kau sudah tidak mengingat nya lagi kan?”


“Tidak, karena kau datang dan menyelamatkan kami. Apalagi saat kau menolong ku yang hampir di bunuh, padahal aku pikir kau sama jahat nya seperti mereka, karena ada di sana, ternyata kau adalah polisi yang menyamar, hehehehhe. Aku bisa lega saat itu.” Bellova berbicara dengan santai bahkan tertawa kecil.


“Akhir nya kau bisa bicara panjang juga ya Lova.”Abraham melirik Bellova.


“Hm..”

__ADS_1


__ADS_2