
Besok nya apa yang di katakan Abraham terbukti, dia, Adley juga bersama beberapa rekan nya datang kerumah kediaman Agus Wido, dan memakai seragam polisi.menggunakan dua mobil, satu mobil pribadi untuk di kendarai Abraham, dan yang satu nya lagi untuk orang yang akan di jemput ke kantor polisi.
Mereka sengaja tidak membunyikan suara polisi, akan tetapi sepanjang jalan menuju rumah itu, sudah banyak tetangga yang datang melihat dan penasaran apa yang terjadi.
Abraham belum melakukan penangkapan tersangka, tapi untuk menjemput suami isteri yang saat ini masih berstatus sebagai saksi. Mau tidak mau mereka harus mau, kalau tetap menolak, Abraham akan memaksa nya, apapun yang terjadi.
“Nyonya, ada mobil polisi dan polisi di luar, apa yang harus kita lakukan?” tanya pelayan perempuan yang selama ini bertemu dengan Abraham maupun Venam.
“Seperti biasa, kau yang harus bertemu dengan mereka, dan aku akan pura-pura sekarat. Usahakan agar mereka tidak bisa masuk, siapapun itu.” ucap majikan nya.
“Ba…baik nyonya, saya akan kebawah menemui mereka.” Si pelayan yang sebenar nya sudah gugup dan takut terpaksa mengikuti perintah majikan nya. Dia sebenar nya tidak mau bersandiwara lagi, tapi karena di ancam, akhir nya dia mau menuruti nya.
Tok…Tok…Tok…Tok…
Adley mengetuk pintu, masih sopan.
Ceklek…
“Ada apa?” tanya pria berbadan besar dan bertatto yang membuka pintu.
“Hallo pak, selamat siang, apa anda yang bernama pak Agus Wido?” tanya Adley yang masih menyapa dengan sopan.
“Bukan! Kalian cari siapa ya?” tanya nya lagi dengan suara yang keras.
“Kami dari kepolisian, kami ingin membawa tuan Agus Wido dan isteri nya, apa…
“Tidak ada! Kalian pergi saja sana!!” orang yang sok jago itu mendorong Adley hampir terjatuh, untung saja Abraham menahan tubuh teman nya agar tidak terjatuh.
“Tolong anda sopan, kami adalah polisi, dan…
“Bodo amat! Mau kalian polisi pun kami tidak takut, kalian pergi dari sini sebelum…
Bbbrrruuugghhh….
__ADS_1
Abraham seketika menendang dada orang yang menyebalkan itu, dia jatuh tersungkur ke tanah, teman-teman nya datang membantu nya berdiri.
Abraham dan lain nya melihat ada beberapa pria bertubuh gemuk ada di sana, seperti nya mereka sengaja di sewa si pemilik rumah.
Dengan sombong nya mereka mengepalkan tangan hingga mengeluarkan suara.
“Ck…ck..ck..ck…apa kalian di bayar untuk sok jago seperti ini? Di bayar berapa sih kalian?” tanya Abraham menggelengkan kepala nya.
“Kalian sebaik nya menyingkir…
“Tidak! Bawa mereka juga ke kantor sebagai bukti!” suruh Abraham pada Adley.
Mendengar perintah seperti itu dari atasan nya, Adley beserta yang lain nya menangkap ke empat pria yang di sewa itu.
Ke empat pria itu saling melihat, seakan memberi kode.
Hingga akhir nya mereka melakukan perlawanan karena tidak mau di bawa ke kantor polisi. Hal itu membuat Venam marah, tangan nya sudah gatal ingin memukul juga.
Drap…Drap…Drap…
Langkah kaki tiga orang itu berjalan dengan cepat. Pelayan wanita pun dengan cepat menghalau nya.
“Pak apa yang…
“Bawa orang ini juga!” tanpa menyelesaikan ucapan si pelayan itu, Abraham langsung memberi perintah untuk membawa pelayan itu juga ke kantor polisi. Pelayan itu memberontak juga, tidak mau ikut.
Brragghh…
Hanya sekali tendangan, pintu kamar nyonya rumah sudah terbuka dengan paksa, Abraham yang seorang diri terus berjalan dan sama seperti yang di katakan Venam sebelum nya, dia melihat ada seseorang yang sedang berbaring di atas tempat tidur, di tutupi selimut.
“Ck… hey nyonya Sri Lastri, segera bangun dan ikut kami ke kantor polisi sekarang.” Ucap Abraham pada sosok yang berbaring itu.
Tidak ada jawaban, membuat Abraham hampir hilang kesabaran nya.
__ADS_1
“Nyonya Sri Lastri, anda sebagai isteri dari pak Agus Wido, apa anda pura-pura tidak mendengarkan saya?... saya tahu kalau anda itu pura-pura sakit, anda saat ini masih sebagai saksi, tapi kalau anda tidak menuruti saya, anda dan suami anda bisa kami jadikan sebagai tersangka.” Ucap Abraham, dan masih juga di abaikan.
Karena sudah kesal, Abraham membuka selimut yang di pakai wanita itu, dan terlihat wanita yang seluruh tubuh nya di perban hingga seluruh wajah kecuali bagian mata, hidung dan mulut nya. Mata nya tertutup.
“Hehehehe… sandiwara apa lagi lah yang anda lakukan sekarang, membuat ku hampir tertawa keras. Saya akan menghitung sampai tiga tapi anda tidak merespon saya, maka saya akan membawa dengan paksa. Satu…… dua …. Oke..” Abraham langsung membawa tubuh yang tidak ada reaksi itu.
“Tolong…le..lepas…kan…saya…
“Waduh, saya pikir sudah mati, ternyata masih hidup ya?” ledek Abraham, dia sudah menggendong orang itu seperti mengangkut karung beras.
Dengan suara pelan, orang yang di gendong nya it uterus meronta meminta untuk di turunkan. Dan Abraham pun terus mengabaikan.
Abraham berhasil membawa semua yang ada di dalam rumah, dan anak buah nya juga sudah memeriksa keadaan di dalam rumah yang tidak ada penghuni lain selain keempat pria bayaran, seorang pelayan wanita dan nyonya majikan, mereka tidak menemukan pria yang menjadi saksi atau bisa juga sebagai tersangka utama nya, yaitu Agus Wido.
“Bawa mereka segera ke kantor polisi, aku dan Venam tetap berada di sini, Adley, kau langsung catat data mereka.” Suruh Abraham.
“Lalu masukkan semua nya kedalam penjara sampai aku datang, dua orang wanita ini berbeda tempat dengan yang pria nya.” Ucap nya lagi.
“Baik Pak!” balas Adley memberi hormat.
Tidak lama, Adley pergi bersama mereka, tinggal lah Abraham dan Venam.
Abraham pergi melihat kandang sapi yang berjumlah empat kandang itu, dan baru satu hari kotoran nya sudah sangat banyak.
“Yang pertama membuat ku curiga adalah kandang sapi ini, aku merasa seperti ada yang di sembunyikan di sini, lalu karena bau kotoran sapi sangat bau, mereka sengaja menutup nya dengan pura-pura beternak sapi.” Ucap Abraham melihat kandang sapi dengan sapi-sapi yang sedikit kurus.
“Lalu apa yang akan anda lakukan?” tanya Venam yang berada di samping nya juga ikut mengamati.
“Kita akan bongkar, pindahkan sapi nya dan periksa di bawah kotoran nya apakah ada tempat yang tersembunyi di bawah nya, untuk kamera CCTV, periksa, pasti ada video rekaman di dalam nya, selama pemeriksaan tidak ada yang boleh masuk ke dalam rumah ini kecuali pihak polisi dan Investigasi,
buatkan garis polisi. Bongkar juga septitank nya, oh ya…. Satu lagi, bagian kamar si majikan nya, aku mencium bau busuk di bawah tempat tidur nya,…. Juga di bongkar!” ucapan Abraham dengan serius menatap venam.
“Siap pak Komisaris!” ucap Venam dengan semangat dan yakin.
__ADS_1