
Abraham yang makan malam bersama orang tua tanpa dua saudara perempuan nya, sangat menikmati masakan mamanya. Setelah Abraham tahu kebenaran tentang jatidiri papa nya, sedikit ada rasa ketenangan batin dan pikiran nya. Beberapa kali Abraham menambah makan di piring nya.
“Oh ya Bram? Bagaimana dengan nona cantik yang pernah kau bawa waktu itu? apa dia masih ada?” tanya mama nya.
“Masih ada kok ma. Dia rajin banget masak, dan makanan nya sangat enak, sama seperti masakan mama ini.
“Kamu tidak galak pada nya kan?” ledek mama nya.
“Enggak lah ma, aku selalu baik dan ramah pada nya, hanya sekali saja aku kelepasan marah nya.” Jawab Abraham mengambil sayur dengan sendok.
“Kenapa?” Mamanya melihat Abraham.
“Dia memasuk kan keranjang sampah ke kepala ku.” Jawab nya santai.
“Pppfftthh..” mama nya menahan tawa.
“Aku juga sih yang salah, mengaggetkan dia dan terkejut.” Abraham mengakui kalau itu adalah kesalahan nya.
Lucifer hanya diam, dia mendengar dan menikmati makan malam tanpa berbicara.
*******
Setelah makan malam selesai, mereka mengobrol bertiga di ruang tamu. Tersedia juga kopi dan cemilan.
“Papa dengar kalau Bossa akan datang ke Indonesia, dua hari lagi kan?” tanya papa nya.
Abraham mengangguk kan kepala nya.
“Apa yang akan kalian lakukan?” tanya papa nya.
“Aku sudah menyuruh Adley dan yang lain nya mengawasi, lalu menangkap nya.” Jawab putera nya.
“Menangkap nya? Apa kau yakin? Lawan mu sangat kuat….
“Papa percaya saja pada ku, Abraham ini kan kuat.” Abraham meyakinkan papa nya.
“Baiklah, papa percaya pada mu, tapi kalau kau membutuhkan sesuatu, papa akan membantu mu.” Lucifer memberikan dukungan pada Abraham.
“Tenang saja nak, papa akan membantu mu dari belakang.” Gumam Lucifer.
“Pasti Adam tidak akan tinggal diam.” Eva berbicara di dalam hati melihat suami nya.
__ADS_1
************
Di kantor polisi, seorang pria dengan kasus membunuh baru di jemput dari lokasi persembunyian nya. Pria itu sudah babak belur hingga bengkak, kedua tangan nya juga sudah di borgol. Bersamaan dengan orang itu,
beberapa masyarakat juga keluarga si korban ikut datang mengantar nya ke tempat Abraham.
Suara terdengar berisik, Abraham yang berada di ruangan nya, merasa terganggu.
“Ada apa di luar?” tanya nya pada Adley.
“Biasa, paling juga ada penghuni baru di dalam sel.” Jawab Adley.
Tidak lama kemudian, ada lagi seorang pria yang juga sama dengan pria sebelum nya, wajah nya sudah babak belur. Kasus nya adalah karena di tuduh sebagai tersangka penipuan dan pemerkosaan, pria yang mengalami
keterbelakangan mental itu yang hanya di temani nenek nya seorang diri.
“Pak Polisi, cepat hukum orang ini, dia sudah membunuh anak saya..” pinta keluarga korban.
“Pak Polisi, cepat hukum si bre****k ini, dia sudah menipu dan memperkosa puteri saya.” Pinta keluarga korban yang lain nya.
“Pak Polisi, cucu saya tidak mungkin melakukan nya pak, cucu saya tidak tahu apa-apa. Tolong, saya minta keadilan anda pak..” si nenek yang memohon agar polisi percaya pada apa yang di katakan nya, sambil memeluk cucu
nya yang sudah babak belur.
“Tidak…
“Udah lah! Tidak usah cari alasan lagi, semua bukti sudah ada. Bahkan ****** ***** si Ranti saja ada di kantong celana cucu mu, mau
alasan apa lagi?” bentak pria yang tadi.
Si nenek menangis, sedih karena tidak ada yang percaya pada nya.
Ridwan dan rekan nya yang lain, mencatat data-data dari pelaku, korban dan saksi. Sambil mereka mencatat, mereka terus berteriak-teriak.
Abraham pun keluar dari ruangan nya, melihat dua orang pria yang babak belur, dan mereka juga melihat Abraham yang di samping nya sudah ada Adley juga.
Semua orang tahu, prestasi dan nama baik dari Abraham, polisi yang adil, tegas dan tidak takut dengan lawan.
“Pak Abraham, tolong percaya sama nenek, cucu nenek tidak salah…. Cucu nenek…
“Jangan percaya pak Abraham. Si orang tua ini berbohong untuk membela cucu nya yang salah.” Tetangga tadi memotong ucapan si nenek.
__ADS_1
“Benar pak, hukum berat saja orang ini..” beberapa tetangga yang juga ikut menyalahkan cucu si nenek tersebut.
Abraham melihat pria yang memang terlihat keterbelakangan mental, wajah manis dan polos nya terlihat walau sudah memar. Darah nya juga mengenai pakaian nya. Abraham berjalan mendekati pria autis, yang tersenyum pada nya.
Di belakang nya, tetangga geram pada pria itu.
Di samping nya, Abraham melihat pria yang di tuduh sebagai pembunuh, korban nya juga seorang wanita. Wajah pria yang di tuduh membunuh itu menunduk kan wajah nya, dia merasa malu. Abraham mengangguk kan kepala nya, sudah tahu dan mengerti siapa yang salah dan siapa yang di jadikan sebagai
kambing hitam nya.
Abraham duduk di kursi bagian pencatatan informasi data.
“Tolong, nenek dan cucu nya duduk di sini sebentar. Dan untuk pria itu, masuk kan ke sel.” Panggil Abraham.
Si nenek menuntun cucu nya untuk pindah tempat ke hadapan Abraham.
Dua orang yang di panggil nya pun datang, mereka duduk tepat di hadapan Abraham.
“Siapa nama kamu?” tanya nya pada pria yang autis.
“Na…nama…sa….ya… Apib…” jawab nya dengan lugu, wajah nya tersenyum sambil menggerak kan kepala nya.
“Nama lengkap kamu?” pertanyaan selanjut nya.
“Sap….pri..jal…..Yyyannntooo…” jawab nya lagi.
Si nenek yang duduk di samping cucu nya, sedikit tenang, apalagi Abraham yang langsung turun tangan.
“Nenek nama nya siapa?” sekarang giliran nenek dari Apib.
“Saya Sariwati Nur, pak Abraham.” Jawab nya dengan suara serak.
“Umur anda dan cucu anda berapa sekarang?”
“Saya 71 tahun, dan cucu saya 25 tahun, kedua orang tua nya sudah bercerai saat Apib masih bayi, dan kedua orang tua nya sudah menikah
kembali, dan memiliki anak lagi.” ucap nenek Sari dengan wajah sedih dan menangis.
Terlihat jelas, kerutan di wajah si nenek yang sudah membungkuk, kulit tubuh nya juga kering dan kurus. Kain yang lusuh menutupi kepala nya sebagai topi, rambut nya yang memutih bahkan sudah botak di bagian depan nya. Sangat memprihatinkan sekali.
Sementara si apib, cucu nya, walau wajah dan tubuh nya sudah terluka dan memar, dia terus tersenyum polos, dan tidak tahu apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
Tetangga yang ngotot menyalahkan Apib sangat geram dan kesal, karena perlakuan Abraham yang lembut dan tenang saat bertanya pada nenek dan cucu nya.