
Bellova dan Abraham sudah tiba di Bank, setelah mobil di parkirkan, mereka turun hendak masuk kedalam. Kantor cabang Bank XXX yang kecil dan banyak orang yang sudah mengantri.
“Kamu tunggu di sini saja, aku akan isi formulir nya dulu.” Ucap Abraham.
Bellova pun duduk bersamaan dengan yang lain yang sedang menunggu juga.
Karena postur tubuh Abraham yang tinggi dan enak di pandang, banyak mata tertuju pada nya. Hanya butuh beberapa menit Abraham mengantri, lalu duduk di samping Bellova karena menunggu giliran nya.
“Apa kalian suami isteri ya? kalian sangat cocok sekali.” Celoteh salah satu custumer yang sedang menunggu juga.
“Tidak, kami hanya rekan kerja saja.” Jawab Abraham santai, memang jawaban nya benar. Bellova pun ingin menjawab yang seperti itu.
“Oh begitu, kalau boleh tahu apakah wanita itu sudah menikah? Karena saya punya anak laki-laki…
“Itu bukan urusan ku, silahkan anda tanyakan langsung pada nya.” Abraham memotong ucapan si ibu yang menawarkan anak laki-laki nya, mencoba mencari informasi tentang Bellova.
“Ooh… iya, maaf.” Ucap si Ibu merasa bersalah. Bellova pura-pura tidak mendengarkan nya saja.
Tidak lama tiba giliran Abraham untuk maju menyelesaikan urusan nya.
Karena uang yang di ambil Abraham sangat banyak, petugas menawarkan pengamanan dan kantong kecil untuk menjaga keamanan nya, tapi Abraham menolak nya karena dia membawa mobil.
Semua melihat kantongan yang di bawa Abraham, tidak membuat Abraham takut dan khawatir.
“Ayo pulang.” Ajak nya pada Bellova yang masih duduk melihat nya.
__ADS_1
“Pak Abraham, apa tidak apa-apa anda membawa uang sebanyak itu?” Tanya Bellova yang merasa khawatir.
“Kenapa? Apa kau takut? Tenang saja.” Jawab Abraham yakin.
Bellova melihat ada beberapa pasang mata yang mengarah kepada nya, seakan mereka menjadi target.
Akhir nya mobil pun pergi meninggalkan lokasi, dan benar saja, ada dua motor yang mengikuti mereka dari belakang, beberapa kali Bellova melihat mereka dari kaca spion.
“Apa yang kau lihat? Apa ada kekasih mu di belakang?” Tanya Abraham.
“Tidak Pak, tapi seperti nya ada yang mengikuti kita. Semenjak kita keluar dari Bank tadi.” Jawab Bellova.
“Biarkan saja, sampai mana mereka akan mengikuti kita.” Ucap Abraham yang masih tetap tenang dan santai.
“Pak, mereka berhenti di depan. Bagaimana ini.” Bellova semakin khawatir.
Abraham melihat Bellova, “Kamu yakin tidak pada ku? Kamu tahu kan kalau aku ini polisi yang hebat? Apa kau pikir aku akan kalah dengan mereka?” Tanya Abraham memberi keyakinan pada Bellova.
Bellova mencoba menjawab dengan menatap mata Abraham, sebenar nya mereka akan bertatap-tatapan untuk beberapa waktu, kalau bukan salah satu dari mereka yang sudah mengetuk jendela kaca mobil, mereka tidak akan sadar ada orang lain.
Abraham menghela napas.
“Kamu tunggu di sini, akan aku urus mereka dulu. Cari masalah saja.” Ucap Abraham turun dari mobil.
Bellova tidak bertanya lagi, dia menjadi yakin kalau Abraham bisa menyelesaikan nya.
__ADS_1
Bellova hanya duduk diam sambil memperhatikan Abraham.
“Serahkan uang yang ada pada mu!” Ancam pria yang mengikuti nya sedari tadi.
“Kalau aku tidak mau bagaimana?” Ancam Abraham balik.
“Kalau tidak, kau dan isteri mu akan mati di tangan kami.” Jawab nya sambil menunjukkan pisau kecil yang biasa di gunakan untuk mengiris bawang.
“Hhmm… dia itu bukan isteri ku. Dan lagi kenapa kalian berani menghadang orang hanya dengan pisau yang seperti itu? cari mati itu nama nya.” Jawab Abraham melihat pisau.
“Jangan banyak bicara, serahkan uang kalian!” Teriak nya.
“Kan aku bilang, aku tidak mau kasih.” Jawab Abraham santai melipat tangan di depan dada nya.
“Sialan… jangan salah kan kalau ka…
Brughh…
Abraham langsung memberikan tinju nya pada mereka, hanya dengan satu kaki saja bisa mengalah kan satu orang yang mengancam nya dengan pisau.
Rekan nya datang membantu teman nya yang jatuh, agar
berdiri.
“Rasakan,” Ucap Bellova yang mengamati mereka.
__ADS_1