
“Untuk apa?”
“Untuk semuanya. Kau sudah banyak melakukan sesuatu yang baik untukku dan keluarga ku. Belum pernah
ada yang memperlakukan kami dengan baik seperti yang di lakukan kau dan keluargamu. Setiap hari kami hanya di pandang hina, rendah dan cacian.” Suara Bellova yang bergetar dan tidak berani menatap Abraham yang serius menatap dan mendengar suaranya.
“Itu kan sudah menjadi kewajibanku sebagai suami, menantu dan kakak ipar. Jangan di pikirkan sampai
membuatmu segan dan tidak enakkan.” Abraham menepuk pelan tangan Bellova.
Bellova melihat Abraham, kagum padanya.
“Tapi-
Bellova berhenti bicara karena Abraham sedang menerima panggilan telepon.
Dia menoleh melihat sisi kiri jalan sambil mendengar percakapan Abraham dengan rekan kerjanya.
“Oke, sebentar lagi aku akan kesana.” Kalimat terakhir Abraham dan menutup ponselnya.
“Tuan dan Nyonya, sudah sampai di tujuan.” Si supir memberitahukan.
Mobil mereka berhenti tepat di depan rumah kecil milik orang tua Bellova.
Aris dan Hendra juga sudah turun, mereka mengurus adik-adik Bellova selama awal perjalanan.
Semuanya sudah turun, dan hendak masuk kedalam rumah.
“Wah… Lila dan Rio dari mana?”
“Apa kalian habis jalan-jalan ya?”
__ADS_1
“Siapa mereka?”
Tetangga yang langsung menyerbu mereka dengan melemparkan banyak pertanyaan. Pertanyaan mereka bukan karena khawatir, tapi rasa ingin tahu.
“Oh, kami habis dari Jakarta, kerumah menantu dan besan.” Jawab Lila membalas dengan bangga.
“Enak ya.” sahut tetangga melirik rekannya yang berdiri disampingnya.
“Tentu saja.”
“Apa itu karena kau menjual Bella? Iya kan?” sindir tetangganya dengan berbisik.
Brugh..
Lila mendorong tetangga yang nyinyir padanya hingga jatuh dan tertduduk di tanah. Semua melihatnya.
“Ups… tangan ku gatal kalau dengar nyinyir yang gak enak. Rasanya pengen nampar dan menjambak rambutnya.” Ledek Lila menggaruk telapak tangannya.
“Ibu, jangan dengarkan omongan mereka, ayo kita masuk.” Bellova mengajak keluarganya untuk masuk
kedalam rumah.
Abraham melihat Aris dan Hendra, seakan memberi kode pada mereka. Dan mereka membalas dengan
menganggukkan kepala secara serentak. Lalu Abraham pun masuk kedalam rumah menyusul isterinya.
Si tetangga yang merasa kesal masih menatap kearah rumah Bellova.
“Pasti Bella sudah di jual.”
“Iya, mana mungkin dia bisa menikah dengan orang kaya dan tampan seperti pria itu.”
__ADS_1
“Dan-
“Ehem, ehem, bisa kalian ikut dengan kami sebentar?” Aris mulai mengerjakan pekerjaan barunya.
***********
Semua tetangga yang kedapatan berada di depan rumah kecil keluarga Bellova sudah di kumpulkan. Mereka
penasaran, kenapa di kumpulkan oleh orang-orang berpakaian dan berkacamata hitam. Wajah mereka terlihat kasar dan kejam. Orang-orang itu sangat ketakutan.
“Sebenarnya kalian dikumpulkan di sini karena kami ingin memperingati kalian. Tuan muda kami tidak ingin
isteri dan mertuanya tidak nyaman dan takut berada di sini, jadi….
Brugh…
Aris menarik seorang pria yang sebelumnya sudah menebar gossip tentang Bellova dan mendorongnya.
Adegan itu menjadi pusat tontonan semua orang dan mereka ketakutan.
“Ini belum seberapa, tapi kalau kalian masih ingin merasakannya, silahkan! Karena kami dengan senang
hati akan menghajar kalian hingga babak belur.” Ucap Aris.
Karena di kelilingi anak buah Lucifer, orang-orang itu menjadi ketakutan.
“Apa kalian paham maksudku?” tanya Aris dengan tatapan tajam.
“Pa… pa.. paham pak.” Jawab mereka serentak dan gugup.
“Bagus, sekarang kalian bubar, jangan menghalangi udara segar yang ingin masuk. Tuan muda kami sangat sensitive dengan suara pengganggu.” Perintah Aris.
__ADS_1
Tidak memerlukan waktu yang lama, semuanya bubar dengan cepat. Aris dan Hendra tersenyum karena sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan mudah.