
Pukul 5 pagi, Bellova sudah bangun, dan sudah melihat Abraham tidak ada di bawah, saat dia melihat nya tidur di sofa sebelum nya.
“Apa dia sudah berangkat kerja? Padahal aku sudah sengaja bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan nya, tapi…
Bellova merasa sedih lagi karena di abaikan.
“Apa ini hanya perasaan ku saja?” tanya nya dalam hati dengan wajah sedih nya.
Karena tidak ada yang ingin di kerjakan nya, dia hanya duduk di sofa tempat di mana Abraham tidur malam itu, terus berpikir, dengan perubahan Abraham yang seperti nya berusaha menjauhi nya.
“Padahal dia kan tidak bisa berangkat kerja kalau belum sarapan, dan dia selalu bilang selalu menyukai masakan ku.” Ucap nya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
***********
“Hhhooaamm…” Abraham menguap sambil mengemudikan mobil nya, menuju tempat kerja.
“Ternyata berangkat jam segini dingin juga ya, padahal AC nya sudah di matikan.” Ucap nya, walau begitu kaca mobil nya di biarkan terbuka karena dia yang sedang menghisap rokok mint nya.
Beberapa hari kebelakang, Abraham lebih sering merokok, mungkin karena merasa bosan atau ada yang di pikirkan.
__ADS_1
Bbruumm…bbrruummm…
Suara mobil Abraham yang sudah berhenti di depan kantor polisi. Petugas yang sift nya hampir habis terkejut melihat kedatangan atasan nya, yang sangat pagi sekali.
“Itu pak Abraham, tumben sekali dia datang sepagi ini.” Bisik petugas di sana pada rekan nya.
Mereka mengintip dan melihat apakah benar yang di katakan rekan nya, kalau Abraham sudah datang.
Setelah menutup pintu mobil, Abraham melangkah masuk ke kantor, dengan pakaian yang masih sama dengan sebelum nya, seragam polisi yang belum di ganti, walau memakai jaket dari luar.
“Selamat pagi.” Sapa nya dengan rambut berantakan nya.
Abraham langsung masuk keruangan nya, tidak perduli dengan tatapan aneh dari anak buah nya.
Klik…
Menutup pintu ruangan dan duduk di kursi, menyandarkan kepala nya, melihat keatap, sesekali menghela napas, hingga tanpa di sadari nya dia terlelap lagi.
**********
Rafhael yang sedang duduk santai di ruangan Ina, perusahaan Adam Company. Tidak mengganggu kakak sepupu nya yang masih sibuk mengurus pekerjaan nya, meskipun dia memiliki banyak pertanyaan.
__ADS_1
Tok…tok..tok..
Seseorang mengetuk pintu.
Klik…
“Bu Ina, 15 menit lagi aka nada pertemuan dengan klient kita bu, saya juga sudah menyiapkan semua nya.” Metta, memberitahukan jadwal berikut nya.
“Oh, oke. Aku akan kesana. Tolong panggilkan Sakya dan Zafran ya.” suruh Ina.
“Baik bu.” Metta melirik Rafhael yang tersenyum ramah pada nya, lalu keluar dan menutup pintu.
“Hey, apa kamu selalu seperti itu?” Ina yang sedari tadi memperhatikan dua orang yang ada di hadapan nya.
“Maksud nya kak?” tanya Rafhael melihat kebelakang, di mana Ina berada.
“Pake tanya lagi. Apa kamu selalu tersenyum seperti itu pada semua wanita?” Ina memperjelas pertanyaan nya, sekaligus merapikan dokumen yang ada di meja nya.
“Apa ada yang salah kak? Lagipula kita kan memang harus tersenyum dan ramah pada semua orang, agar mereka menyukai dan tidak membenci kita.” Jawab Rafhael santai, juga tersenyum.
“Hhhmmm… kalau kau nanti sudah punya kekasih dan menikah, jangan gampang tersenyum seperti itu, nanti banyak yang salah paham pada makna senyuman mu itu.” Ina memberi nasihat.
__ADS_1