
“Aku sudah mencari informasi tentang Bossa, tapi entah kenapa beberapa hari ini berita nya kosong, tidak ada terdengar aktifitas nya.
Informasi terakhir adalah anak buah nya yang melakukan acara penyambutan untuk Bossa.” Jawab Adley.
“Dia pintar, sengaja diam untuk meredakan aksi nya. Lalu bagaimana dengan anak buah yang kita tangkap beberapa hari yang lalu?” tanya
Abraham.
“Masih tidak mau mengaku, mereka tidak mengatakan di mana Bossa berada.” Jawab Adley serius.
Tok…tok…tok..
Abraham melihat Ridwan yang mengetuk pintu.
“Ini sarapan nya pak.” Ridwan memberikan bungkusan makanan yang di pesan Abraham.
“Letak kan di atas meja.” Suruh Abraham yang masih mengecek laporan.
“Saya permisi dulu pak Abraham.” Adley pamit keluar, bersamaan dengan Ridwan.
Ketika Adley dan Ridwan keluar dari ruangan Abraham, seorang wanita berdiri membelakangi mereka, Adley dan Ridwan tahu siapa wanita itu.
“Ck… ya ampun, kamu ngapain lagi sih di sini? Apa kamu tidak ada pekerjaan?” Adley kesal melihat Monik yang datang.
Monik berbalik kearah Adley dan Ridwan. Sambil tersenyum ke arah Ridwan.
“Selamat pagi pak Ridwan.” Sapa Monik pada rekan Adley yang berdiri di samping nya.
“Pagi nona Monika.” Jawab Ridwan membalas senyuman Monik.
“Ini aku bawakan sarapan untuk anda, pak Ridwan.” Monik memberikan kotak makanan untuk Ridwan.
“Wah.. terima kasih nona Monik.” Ridwan menerima kotak makanan dengan senang.
Adley, duduk di kursi meja kerja nya, wajah nya di tekuk, entah apa yang ada dalam pikiran nya.
“Ini, apa anda yang memasak nya nona Monik?” tanya Ridwan.
“Panggil Monik saja pak.” Suruh Monik.
“Kalau begitu anda juga panggil saya Ridwan, okey?” pinta Ridwan.
“Mmm…okey..” Monik mengangkat jempol tangan nya.
“Iya, ini aku yang memasak nya. Bagaimana rasa nya? Enak tidak?” tanya Monik penasaran.
__ADS_1
“Masakan nya sangat enak, rasa nya juga tidak ada yang kurang, pokok nya sangat…sangat…enak, hehehehe..” jawab Ridwan memuji masakan Monik.
Dua orang itu tertawa dan tersenyum bersama.
“Ehheemm… kalau kalian mau pacaran, pindah sana! Dan kau Ridwan, ini masih jam kerja kan? Apa kau mau atasan kita marah?” Adley yang
tidak suka melihat adegan itu.
Ridwan dan Monik saling menatap.
“Kalau begitu, aku pulang dulu ya.” pamit Monik.
“Eh, tunggu dulu nona Monik, saya mau kembalikan kotak makanan yang kemarin.” Ridwan segera mengambil kotak makanan Monik.
Diam-diam Adley memperhatikan Monik, dan sekalipun gadis itu tidak pernah melirik nya walau sekilas.
“Ini, kotak makanan nya.” Ridwan kembali dengan membawa kotak makan yang sudah di cuci bersih.
Monik menerima sambil tersenyum.
“Kalau begitu aku pamit dulu ya, oh ya… boleh tidak, nanti siang aku datang lagi membawa makan siang kamu?” tanya Monik semangat.
“Bo…boleh kalau anda tidak keberatan.” Jawab Ridwan yang senang mendengar nya.
“Oke, sampai jumpa nanti siang ya. Aku pergi dulu.” Monik pamit pada Ridwan saja, mengabaikan Adley yang berharap di ajak bicara, ternyata di lewati begitu saja.
“Orang nya sudah pergi, kenapa masih tersenyum seperti orang gila?” ledek Adley.
Ridwan tersadar dan melihat Adley.
“Anda tahu tidak pak Adley, masakan Monik itu sangat enak sekali. Dan saya juga senang, dia memberikan saya kotak makanan seperti ini.”
Ucap Ridwan masih belum berhenti tersenyum.
“Bisa saja itu masakan dari restaurant terkenal kan? Atau pelayan nya yang memasak. Aku tidak percaya kalau dia yang memasak itu.” respon Adley yang masih tidak percaya.
Ridwan tidak suka dengan komentar Adley, tapi dia diam saja dan kembali ke meja kerja nya.
“Aku yakin, bukan dia yang memasak itu. Selama aku tidak melihat nya langsung, aku tidak percaya.” Batin Adley.
**********
Saat Abraham dan Adley sedang bertugas di lapangan, saat itu juga anak buah Bossa, yang di pimpin Felix datang ke kantor polisi, dengan
menyamar sebagai sepasang orang tua dengan pakaian dari desa.
__ADS_1
Saat itu yang menjaga adalah Ridwan dan beberapa petugas yang lain nya.
“Selamat siang pak polisi.” Sapa seorang perempuan kurus dengan rambut yang sudah memutih, berjalan dengan tongkat dan tubuh nya yang membungkuk.
“Siang bu, ada yang bisa saya bantu?” tanya rekan Ridwan.
“Saya, orang tua dari tahanan di sana, saya ingin berbicara dengan anak saya pak.” Jawab si ibu, dengan nada gemetar.
“Orang tua dari anak buah Shadow?” gumam petugas.
“Ada urusan apa ibu menemui nya?” tanya petugas.
“Saya…saya ingin..hhikks..hhikkss…berbicara pada nya…kenapa…kenapa…dia jadi..orang jahat..” si ibu menangis mengeluarkan air mata.
“Sudah lah bu, jangan menangis, anak kita sudah dewasa, kita sudah tua, jadi kita tidak bisa selama nya menjaga anak nakal itu.” sang suami mengelus punggung isterinya, sama seperti si wanita tua itu, rambut putih dan memakai tongkat.
Melihat itu, petugas kepolisian pun mengijinkan mereka berdua untuk berkunjung dan berbicara pada anak buah Bossa yang ada di dalam
penjara, mereka juga melihat kedatangan dua orang tua itu.
Petugas itu mengantarkan sampai di depan sel, walaupun sedikit lambat.
“Boleh saya lihat apa yang anda bawa itu?” tanya petugas, melihat bungkusan yang di bawa dua orang itu.
“Silahkan pak polisi, ini hanya makanan kesukaan anak saya.” Si ibu memberikan barang bawaan nya.
Saat di buka, ternyata isi nya adalah makanan lengkap dengan sayuran dan lauk. Hanya ada satu kotak saja, juga sebotol air minum. Makanan itupun sudah di aduk-aduk untuk melihat apakah ada benda yang di sembunyikan atau tidak.
Merasa tidak ada yang di curigai, petugas membiarkan dua orang itu untuk mengunjungi anak nya.
Tentu saja si petugas tetap mengawasi nya.
“Dede…kenapa..kamu..masuk penjara lagi…hhikkss…hhikkss..” si ibu menangis di depan sel.
“Ma…maafkan saya bu, saya selalu bikin ibu marah dan malu.” Tedy yang di panggil Dede ikut berpura-pura.
Dua orang tua yang mengaku keluarga si Dede menangis bersama, mereka juga tampak mengeluarkan air mata. Orang-orang yang ada di sana merasa prihatin dengan orang tua itu.
“Ini salah saya, saya tidak bisa…tidak bisa membuat kalian bangga pada saya, maafkan saya..” Tedy menangis sambil menggenggam tangan si ibu.
Si ibu mengusap air mata nya, mengatur napas agar normal.
“Pak polisi, apa saya bisa memberikan makanan kesukaan anak saya? Anggap…anggap saja ini yang terakhir kali untuk anak saya.” Pinta si ibu.
“Silahkan bu, saya akan menyampaikan nya secara langsung.” Jawab petugas menerima bungkusan itu.
__ADS_1
“Terima kasih ya pak Polisi, seandai nya saja anak saya belajar dengan benar, dan bisa jadi polisi seperti anda, saya akan merasa bangga sekali, tidak seperti…seperti sekarang, hhiikkss…hhikkkss… membuat kami orang tua nya merasa sangat malu.” Ucap si ibu, melirik pada Tedy.