
Eva dan Arshinta masuk kembali kedalam kamar Abraham, dengan membawa bubur ayam yang sudah di buat nya. Ina kembali ke kantor karena pekerjaan mendadak, hanya ada Adam dan Satmaka saja di bawah.
Saat mereka masuk, Abraham dan Bellova sudah diam, tidak ada suara tangisan lagi, hanya saja terlihat jelas wajah Bellova yang habis menangis.
“Ini, kalian makan bubur dulu, sebentar lagi Aditya datang untuk memeriksa kalian.” ucap Eva.
“Ma, aku suapin kakak ipar, mama suapin kak Abraham saja.” Arshinta berusaha membantu.
“Tidak usah Shin, aku-
“Kakak tidak boleh menolak, biar aku saja yang suapin.” Protes Arshinta.
“Keras kepala nya dengan Abraham sama ya.” gumam Bellova tersenyum.
Abraham tidak menolak untuk di suapi, maka nya Eva tidak berusaha membujuk nya lagi.
Setelah di tiup, baru mereka kasih kemulut Abraham dan Bellova.
“Oh ya, bagaimana dengan rencana resepsi pernikahan kalian? apa sudah beres?” tanya Eva yang penasaran, karena tinggal hitungan hari saja.
__ADS_1
“Sudah ma. Sebagian di bantu kak Ina dan Arshinta, selebih nya kami berdua yang mengerjakan nya.” Jawab Abraham mengunyah makanan.
“Apa keluarga Bellova sudah di hubungi?”
“Sudah, dua hari lagi mereka akan datang ke sini.” Jawab Abraham.
“Bagus lah. Tadi nya mama pikir ini di tunda dulu, karena melihat kondisi kalian, ternyata kalian sudah menyiapkan nya ya. Cekatan juga ya.” Eva merasa lega.
Eva dan Arshinta tidak mau membahas tentang apa yang mereka dengar secara sembunyi-sembunyi di balik pintu, karena mereka sudah yakin, semua nya sudah baik-baik saja.
“Berapa lama kami tidak sadarkan diri?” tanya Abraham teringat.
“Tapi, kenapa tangan mu di perban Lova?” Abraham sebelum nya sudah melihat perban di tangan Bellova, hanya saja masih menunggu untuk bertanya karena Bellova yang masih bercerita.
“Aku rasa saat memegang gelas, dan tanpa sadar mengenai tangan nya.” Arshinta yang menjawab.
“Iya, karena yang aku ingat, aku terbangun karena merasa haus, ternyata gelas nya kosong, mungkin aku pingsan saat ingin keluar dari kamar untuk ambil air minum.” Ucap Bellova, baru sadar melihat perban di tangan nya.
Abraham tidak bertanya lagi, karena sudah mendapat jawaban.
__ADS_1
“Aku dengar kalau bibi Audrey ada di rumah kita ma, apa itu benar?” Abraham bertanya hal yang lain.
“Iya, kata nya hanya sementara saja.”
“Mama dan papa tetap harus hati-hati, aku takut kalau Bossa marah dan berani datang kesana.” Ucap Abraham khawatir.
“Kamu tidak usah khawatir, ka nada papa kamu.” Eva memberi kode pada Abraham.
“Audrey itu siapa ma?” tanya Bellova yang penasaran.
“Oh, dia adalah sepupu papa kamu, bibi nya Abraham. Dia… dia dulu adalah anak buah nya Bossa.” Jawab Eva.
“Anak buah Bossa? Oh, wanita yang cantik dan berambut panjang? Yang selalu ikut bersama dengan Bossa?” tanya Bellova seperti tahu dan ingat.
Abraham melihat Eva, karena dia heran kenapa Bellova bisa menebak dengan benar.
“Iya, benar itu. Apa kamu pernah bertemu dengan nya?”
“Aku pernah melihat nya, saat aku di culik Bossa. Bibi itu sering di siksa dan dipukul Bossa dengan kejam.” Jawab Bellova.
__ADS_1