KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 211


__ADS_3

Bellova belum melihat Abraham masuk.


“Kalian duduk saja dulu di sini, aku akan membuat minuman ya.”


“Ibu ikut membantu Bell,” si Ibu pun ikut dari belakang meninggalkan suami dan anak nya duduk di sofa.


“Ayah, kursinya empuk sekali, lebih empuk dari tempat tidur kita. Sandra tidur di sini saja ya Yah.” Sandra menepuk-nepuk sofa merasakan keempukkan.


“Jangan lakukan itu Sandra, nanti kalau rusak bagaimana? Itu mahal loh.” Ayah nya melarang agar puterinya menghentikan menepuk sofa.


Brugh…


Abraham datang dengan dua tas pakaian yang besar, yang terbuat dari kain juga, di lengan kiri dan kanan, kedua tangannya juga menggenggam plastik kresek berwarna hitam, ukuran nya juga besar.


“Ya ampun nak Abraham, kau bisa membawa semua dalam satu kali ya.” Ayah mertua berdiri, membantu


menurunkan tas pakaian.


Abraham hanya tersenyum saja untuk menjawab ucapan Ayah mertuanya.


“Di mana Lova yah?” tanya nya melihat sekitar.


“Katanya ingin membuat minuman bersama Ibumu juga.”


“Ayah duduklah, jangan berdiri saja.” Suruh Abraham duduk lebih dulu.


Ayah Bellova pun duduk, di samping anak-anaknya yang sudah duduk dengan sopan, tapi tatapan mereka masih menyapu ruangan.


Abraham melepas jaket nya, hingga terlihat jelas seragam Polisi yang di kenakan.

__ADS_1


“Kak Abraham, Dino tinggal di sini saja ya, nanti Dino bantu pekerjaan rumah di sini.” Bujuk Dino, masih berharap. Dia sengaja pindah tempat duduk di dekat Abraham.


Abraham tidak marah dengan ucapan adik ipar nya, justru dia tersenyum kecil.


Ayah mertua dan Sandra gugup, takut kalau Abraham gerah dan marah.


“Boleh. Dino bisa tinggal disini kok.” Jawab Abraham mengusap kepala Dino yang dengan polosnya meminta.


“Yes…”


“Ayah, Sandra juga ingin tinggal di sini.” Sandra membujuk ayah nya.


“Sandra juga boleh tinggal disini.” Abraham yang mendengar langsung menjawab.


“Benarkah kak? Kakak tidak bohong kan?” Sandra memastikannya lagi, wajahnya sudah terlihat berseri.


“Kalau kalian mau, kalian tinggal disini saja, tidak usah di kampung lagi. Rumah ini ada tiga kamar lagi kok. Kalau Bellova merindukan kalian, tidak perlu jauh-jauh kan?” Abraham mengajak keluarga mertua nya untuk menetap di Jakarta.


“Tapi Nak-


“Apa di kampung ada yang berharga? Tanah, sawah?” tanya Abraham tanpa ragu.


“Tidak ada.” Jawab Ayah menggelengkan kepala.


“Kalau begitu?”


Bellova datang beserta ibunya, membawakan minuman dingin dan panas untuk Ayah dan adik-adiknya.


“Kakak, aku mau yang dingin.”

__ADS_1


“Aku juga.”


Adik-adiknya lebih dulu berebut minuman.


“Satu-satu, jangan rebutan, semuanya kedapatan kok. Malu tuh di lihat kak Abraham.” Ibunya menasihati anak-anaknya yang masih kecil.


Bellova mengambil kopi untuk Abraham dan memberikannya.


“Terima kasih.”


“Ibu, kata kak Abraham, Dino dan Sandra bisa tinggal di sini.” Ucap Dino meminum jus buahnya.


Ibu mertua melihatnya.


“Benar, aku yang mengajak mereka tinggal disini, sebaiknya kalian juga tinggal disini.” Ucap Abraham yang mengerti tatapan Ibu mertuanya.


“Tapi nak, kami tidak ingin merepotkan mu.”


“Tidak ada yang di repotkan kok Bu.” Jawab nya meletakkan gelas kopi setelah meneguknya.


“Tapi mereka sekolah, dan sebentar lagi ujian kenaikkan kelas.” Ibu mertua menambahkan lagi.


“Benar juga ya. Kalau begitu, bagaimana kalau habis ujian saja?” tanyanya pada Dino dan Sandra.


Dua anak remaja itu memasang wajah cemberut, karena tidak ingin kembali ke kampungnya.


Sedangkan orang tuanya tidak ingin merepotkan lebih banyak lagi menantunya yang memang sudah banyak


memberikan kebaikan pada mereka.

__ADS_1


__ADS_2