
“Apa? Ada yang menyerang kalian? Siapa? Dan bagaimana…..
Arshinta menjauhkan ponsel nya, mendengar suara kakak nya Abraham yang bertanya dengan suara yang keras karena panik.
********
Perjalanan Arshinta bersama Satmaka dan Rakha harus tertunda lagi. karena beberapa orang yang tidak mereka kenal berusaha menyerang, hingga pada akhir nya, tujuan akhir adalah kantor polisi, tempat Abraham di tugaskan.
Adley dan Ridwan sudah menjemput para pengganggu ke kantor polisi.
Bukan Abraham nama nya kalau tidak mengamuk saat dia tahu ada orang yang mencelakai adik perempuan nya Arshinta, padahal Arshinta tidak mengalami luka, tapi tidak membuat kakak nya begitu saja melepaskan mereka.
Setelah mereka masuk dalam sel, mereka di siksa Abraham dulu, menanyakan siapa yang sudah menyuruh nya. Setelah puas melampiaskan emosi, Abraham keluar dari sel dan menyusul Arshinta dan Satmaka yang menunggu di ruangan nya.
Ceklek…
Abraham membuka pintu.
“Kak, apa mereka mengaku siapa yang menyuruh?” tanya Arshinta bangkit dari duduk nya.
“Jangan tanyakan itu dulu, bagaimana dengan dirimu? Apa ada yang terluka?” Abraham bertanya sambil melihat adik nya dengan khawatir.
“Tidak ada. Masih utuh semua kok, nih lihat..” Arshinta menunjuk tangan, kaki dan kepala nya.
“Dari mana pistol mu?” tanya Abraham, menunjuk pistol kecil yang sudah di sita nya.
“Oh, itu dari papa, hadiah ulang tahun yang ke 24 tahun….ups….” tanpa sadar, Arshinta mengatakan hal yang seharus nya di rahasiakan.
Bukan cuma Abraham saja yang kaget, bahkan Satmaka saja sampai melihat Arshinta karena terkejut.
“Hadiah ulang tahun yang seperti ini? Ada-ada saja.” Setelah pistol di lihat dengan puas, di letak kan di atas meja.
“Shinta, kau harus lebih berhati-hati, dan jangan membuat keributan. Mungkin mereka ada dendam dengan mu. Kakak tidak mau kamu terluka, kalau sampai papa mendengar ini, bisa marah tak terkontrol nanti.” Nasehat Abraham.
“Maka nya kakak harus merahasiakan ini ya…” Arshinta meletak kan jari telunjuk di bibir nya.
“Lagi pula kak, Aku tidak mungkin mencari masalah, seandai nya mereka tidak memulai duluan, Shinta mu ini tidak akan melakukan itu. tapi ngomong-ngomong, apa kakak sudah tahu apa belum? Tadi tidak di jawab pertanyaan ku.” Tanya Arshinta yang masih penasaran.
Abraham melihat adik nya yang sangat penasaran. Dia tahu, kalau adik nya itu tak akan diam selama belum mendapatkan jawaban.
__ADS_1
“Mereka anak buah Shadow atau Bossa.” Jawab Abraham.
Arshinta tidak terlalu terkejut.
“Shadow? Orang yang pernah membuat papa marah karena menculik ku waktu itu?” tanya Arshinta, Satmaka juga penasaran, karena dia juga adalah korban semasa kecil.
“Iya, dan Shadow itu adalah nama kelompok mafia yang di ketuai Bossa.” Jasab Abraham, kedua tangan nya di lipat di depan dada nya.
“Tapi untuk apa mereka menangkap atau menyerang kami? Apa mereka sengaja atau….ingat dengan kami?” tanya Satmaka, yang duduk sambil memangku Rakha.
“Kemungkinan untuk ingat dengan kalian itu sangat kecil, mereka hanya ingin merampok dan menculik kalian sebagai korban atau tumbal, dengan membawa kalian bertiga, itu sudah lengkap bagi nya, apalagi ada Rakha kan? Karena ada info, kalau Bossa sedang menyukai darah anak kecil.” Jawab Abraham.
Penjelasan dari Abraham membuat Rakha gemetar, dia tahu apa dari maksud pembicaraan om ganteng yang sering di panggil nya itu. Satmaka memeluk erat anak nya yang ketakutan.
“Kenapa mereka masih berkeliaran di luar?” tanya Arshinta.
“Sulit. Karena banyak pejabat dan aparat hukum yang melindungi nya. Maka nya kami sekarang sedang berusaha mengumpulkan banyak bukti dan saksi.” Jawab Abraham setelah menghela napas.
“Kak, orang seperti Bossa itu tidak usah di penjara, lebih baik di matiin saja, kalau papa, pasti dia….
Arshinta tidak melanjutkan ucapan nya, spontan dia menutup mulut nya.
Dengan cepat Arshinta menjawab, “Aku pasti senang..” jawab nya sambil tersenyum yakin.
“Kenapa kau senang? Kau tahu kan mafia itu seperti apa?” Abraham terkejut dengan jawaban adik nya.
“Sekalipun papa mafia dan membunuh orang, aku tidak perduli. Kata paman Vicky, papa itu kejam di luar saja, sering di khianati sama
rekan-rekan nya, tapi…. Sangat sayang pada mama, aku, kakak dan kak Ina. Itu adalah alasan…. Eh bukan, maksud ku kebenaran yang yang tidak bisa menimbulkan kebencian atau keraguan ku pada papa tercintaku…hehehehehe…” jawab Arshinta, dia tertawa kecil.
“Tapi aku adalah polisi, kau tahu tugas ku kan? Aku…
“Sama seperti Shadow, banyak polisi dan pejabat yang terlibat atau tahu kejahatan nya, tapi mereka mengabaikan kan? Jadi…. Anggap
saja kak Abraham juga seperti itu terhadap papa.” Sindir Arshinta.
Abraham tidak menyangka lagi Arshinta mengatakan hal itu.
Memang selama yang dia tahu, papa nya tidak pernah melakukan kesalahan, baik pada orang lain atau keluarga nya. Tapi Abraham adalah orang yang berpegang teguh pada keadilan pekerjaan nya.
__ADS_1
“Dan kalau seandai nya aku bertemu dengan Shadow, atau anak buah nya, aku pasti akan langsung membunuh nya!” ucap Arshinta dengan yakin.
********
Ucapan-ucapan yang di katakan adik nya selalu
terngiang-ngiang di telinga nya. Sebagai anak dia pasti tidak ingin menangkap papa nya, tapi sebagai petugas kepolisian, sudah tanggung jawab nya untuk menegak kan keadilan.
Setelah pulang dari pekerjaan nya, Abraham tidak pulang kerumah nya, sebelum nya juga sudah memberitahukan pada Bellova, kalau dia
tidak akan pulang ke rumah.
“Tidak apa-apa pak Abraham, tapi anda tetap berhati-hati dan jangan telat makan nya. Ingat pak, jangan terbawa emosi ya..” nasihat Bellova
saat Abraham ijin tidak pulang. Sedikit menggelitik di rasa.
Bbrrruummm……
Dia memarkirkan mobil nya di depan rumah keluarga besar nya, Eva dan Adam. Satpam di rumah itu tidak perlu bertanya atau meminta kartu identitas untuk masuk kerumah itu, karena mereka sudah tahu.
“Ini kan mobil dan motor paman Aris dan paman Hendra? berarti mereka ada di sini? Sedang apa?” gumam Abraham.
Dengan penasaran dia terus melangkah masuk.
“Wah…. Nak Abraham, kau datang? Di mana Arshinta dan Ina?” tanya Hendra, orang yang pertama kali menyadari kedatangan nya.
“Aku datang sendiri paman Hendra.” jawab Abraham, tatapan nya penuh pertanyaan.
Lucifer tahu apa yang ada dalam pikiran putera nya itu.
“Sini duduk lah tuan muda, sudah lama kami tidak melihat anda.” Panggil Aris.
“Jangan panggil tuan muda paman Aris, seperti dalam novel saja.” Abraham memang risih mendengar kalimat panggilan itu.
“Di mana mama pa?” tanya nya.
“Ada di dapur bersama Lisna dan Citra.” Jawab Lucifer.
Abraham diam, mencoba ingin bertanya, tapi masih berpikir.
__ADS_1
“Ada apa nak? Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Lucifer, yang sudah tahu apa yang ada dalam pikiran nya.