KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 89


__ADS_3

Beberapa hari dari kasus kematian tahanan yang lebih dari dua orang itu menyebar sampai masuk berita. Banyak yang menyayangkan aksi


Abraham dan kawan-kawan nya dalam menyelidiki kasus dengan menginterogasi


secara kasar dan kejam.


Bahkan tempat nya bekerja menjadi ramai wartawan untuk mencari informasi.


“Ada apa ini kenapa ramai sekali? Banyak wartawan nya.” Monik yang baru tiba di depan kantor polisi untuk mengantar makan siang Ridwan.


“Pemirsa, saat ini kami sedang berada di depan kantor polisi tempat Komisaris Polisi, Abraham Evano Rameses bekerja. Keadaan saat ini sangat ramai dengan orang-orang yang meminta penjelasan dari kasus kematian beberapa tahanan  penjara….


“Sangat di sayangkan sekali, seorang Polisi yang menjadi panutan negara dan masyarakat melakukan tindak keji seperti ini, walaupun mereka adalah penjahat, tapi mereka adalah manusia, sama seperti kita. Saya secara pribadi


tidak suka tindakan yang anarkis sperti yang terjadi baru-baru ini….


“Iya benar, kami tidak suka, kami mau si Abraham itu di pecat dari kepolisian ini….


“Dia dan kawan-kawan nya hanya membuat malu negara yang kita cintai ini….


Begitu lah beberapa komentar dari masyarakat dan wartawan yang meliput berita informasi.


Sementara Abraham dan Adley masih tetap tenang di dalam ruang kerja nya, tidak ada wartawan atau siapapun yang berani masuk untuk mewawancarai mereka.


“Turunkan Abraham….


“Pecat dia!!


“Kami mau keadilan…


“Keluarkan Abraham…


Tampak aksi protes dari masyarakat yang tidak suka juga.


“Apa-apaan mereka? Apa mereka yakin dengan apa yang mereka lakukan?” gumam Monik tidak suka mendengar.


Monik terus masuk berdesakan dengan mereka.


“Nona, bagaimana menurut anda tentang aksi perbuatan si Abraham dan kawan-kawan nya?” tanya wartawan pada Monik yang di hambat untuk masuk.


“Tolong anda sopan, beliau adalah seorang Komisaris polisi, pak Polisi, Abraham Evano Rameses.” Monik menegaskan nilai kesopanan.


“Menyebalkan.” Gumam Monik terus berjalan.


“Anda bisa dengan muda bicara seperti itu karena korban bukan keluarga anda kan?”

__ADS_1


“Benar, dia seperti nya kekasih dari salah satu orang munafik yang ada di dalam….


“Dasar tidak tahu diri! Tidak punya perasaan…


Masyarakat biasa yang menyudutkan Monik, mereka berusaha,menyakiti gadis itu.


“Berisik! Kalian percaya begitu saja dengan gossip murahan,itu? Pak Abraham tidak melakukan pembunuhan yang seperti kalian katakan, mereka, keracunan makanan, mereka…


“Hey nona, anda gampang mengatakan seperti itu karena bukan keluarga anda yang menjadi korban nya…


“Lalu apa mereka adalah keluarga anda? Hah? Apa mereka sahabat atau tetangga anda semua? Jawab!” tanya Monik berteriak dengan suara keras.


Mereka berceloteh pelan, seperti sedang kumur-kumur, tidak bisa menjawab pertanyaan Monik, tapi masih menyalahkan Abraham.


“Justru kalian senang dan bangga, karena mereka melakukan kewajiban dengan benar tanpa memilih atau memandang siapa yang mereka hadapi.” Ucap Monika lagi.


“Apa yang di lakukan wanita itu?” ucap Adley yang keluar ruangan Abraham karena mendengar suara wanita yang keras.


Adley memperhatikan Monik yang masih membicarakan keadilan dan kejujuran kinerja mereka. Sedikit ada rasa sesuatu yang baru yang tidak dia ketahui apa itu.


“Kalau dia lebih lama lagi di situ, nanti dia bisa terluka karena massa.” Gumam Adley.


Tidak lama Monik di serang massa yang tidak suka dengan ucapan Monik, mereka berusaha menarik rambut dan pakaian wanita itu.


Adley berhenti melangkah saat ingin menyelamatkan Monika dari amukan massa, dia melihat Ridwan yang sudah berada di sana lebih dulu.


“Tolong kalian jangan bertindak kasar seperti ini! Ini kantor polisi.” Ucap Ridwan melindungi Monika.


“Anda anak buah si Abraham kan? Polisi yang kejam itu.”


“Dasar, kalian semua sama saja…..


Massa yang ngamuk pada Ridwan.


Ridwan tidak ingin menyakiti siapapun, dia menarik tangan Monik agar ikut bersama nya masuk kedalam agar aman.


“Lihat saja nanti, kalian pasti menyesal dengan penilaian kalian, kalian akan malu..” teriak Monik.


Monik terus mengucapkan rasa tidak terima nya sambil berjalan bersama Ridwan dengan berpegangan tangan.


Tidak jauh dari tempat itu, Adley melihat mereka berdua.


“Tch.. ada-ada saja.” Ucap Adley mengepalkan tangan nya.


***********

__ADS_1


“Papa,  sudah baca koran dan nonton berita tidak?” Eva menghampiri suami nya, Adam yang sedang duduk di sofa tempat biasa nya tamu atau ruang santai.


Tak…


Adam meletakkan gelas kopi di atas meja.


“Apa mama penasaran dengan Abraham?” tanya Adam, tenang seperti biasa.


“Hhmm… apa papa tidak penasaran bagaimana keadaan mental anak kita? Tidak khawatir?” Eva memberikan pertanyaan pada suami nya sebelum dia menjawab pertanyaan dari Adam.


“Isteriku, ini bukan pertama kali kan Abraham di sudutkan seperti ini? Coba mama ingat-ingat dulu sebelum nya.” Ucap Adam memandang Eva yang tidak pernah berubah dengan kepanikan.


Eva mengingat-ingat kejadian yang sama yang terjadi pada Abraham, saat di sekolah, kuliah dan bahkan saat mendapatkan kenaikan jabatan.


Banyak yang meragukan dan mempertanyakan kualitas kinerja nya, tapi, Abraham yang lebih memiliki sifat tenang ketimbang dua saudara perempuan nya, apalagi Arshinta, dia bisa menutup mulut mereka-mereka yang tidak suka pada nya dengan prestasi kerja nya.


Justru yang lebih panik adalah Eva, mama nya, tentu saja, karena dia adalah orang tua Abraham, gampang khawatir.


“Tapi ini kelewatan pa, bahkan anak kita di tuduh menyiksa tahanan sampai mati, mama tidak mau nama anak kita jelek. Pasti ada yang


sengaja menyebar gossip seperti itu.” ucap Eva, dengan wajah yang memang khawatir.


Adam melihat wajah isteri yang di cintainya itu sedih. Tidak mungkin Lucifer atau Adam ini tidak terpancing emosi. Apalagi kalau Eva yang


masih selalu panik.


“Jadi, apa yang mama ingin papa lakukan?” tanya Adam, menggenggam dagu isteri nya.


“Hhhmm… papa kan punya anak buah yang banyak, kenapa tidak suruh mereka menyelidiki kebenaran nya?” pinta Eva seperti meledek.


Adam tersenyum dengan ucapan Eva yang berani.


“Baik, papa akan lakukan apa yang isteri tercinta ku ini minta. Tapi, jangan memasang wajah panik seperti ini lagi.” Adam menyetujui


permintaan Eva, dia mengusap wajah Eva agar tidak berkerut karena panik.


Eva menganggukkan kepala nya dan tersenyum.


“Kalau begitu, mama ambil buah dulu ya, tadi pagi baru mama beli.” Eva berdiri menuju dapur.


Bibir Adam yang tersenyum berubah seperti senyuman wajah nya sebagai Lucifer, dengan tatapan mata yang tajam.


“Tenang saja sayang, tanpa kau meminta nya pun, aku akan menghabisi mereka. Seperti janji ku dulu, siapapun yang berani cari masalah


dengan kita, berarti dia siap untuk mati.” Gumam Lucifer mengepalkan kedua tangan nya.

__ADS_1


__ADS_2