
Venam dan rekan nya sudah berada di dalam rumah yang tampak kosong tidak ada orang selain wanita setengah tua tadi. Pria itu melihat sekeliling bagian, hanya ada beberapa sofa, lemari besar yang mewah, beberapa guci dan pas bunga yang indah, juga ada Tv.
“Pak, tolong segera keluar dari sini, saya tidak mau…
“Dari tadi anda mengusir kami, asal anda tahu saja, kami datang kesini juga dengan surat ijin dari kepolisian, sebelum nya juga anda
sudah beberapa kali menghalangi kami, saya jadi curiga pada anda.”
“Bukan nya begitu pak, tapi…
“Di mana kamar majikan anda? Saya ingin menemui nya!” tanya Venam, pria yang tidak bisa terlalu lama menahan kesabaran, seperti yang di katakan Abraham sebelum nya, Venam lebih mudah di ajak berkelahi dari pada berdebat atau adu mulut.
Pelayan itu tidak menjawab.
“Ck.. kalian segera periksa ruangan ini, cari Agus Wido atau isteri nya!” suruh Venam pada rekan –rekan nya.
Mereka pun segera melakukan perintah Venam, pelayan wanita itu tampak kebingungan.
Satu persatu kamar di buka dan di periksa, kamar yang ada di lantai satu, hingga di lantai atas. Venam berkeliling ruangan itu, memandangi foto dan lukisan yang ada di dinding.
“Venam, di kamar ini ada seseorang, karena seperti nya terkunci dari dalam.” Teriak rekan nya dari atas.
Venam segera naik ke atas, melalui tangga.
“Apa tidak bisa di buka?” tanya Venam berada di depan pintu bersama dengan rekan yang memanggil nya tadi.
“Tidak bisa, kami juga sudah beberapa kali mengetuk dan memanggil, tidak ada jawban dari dalam, tapi aku yakin ini terkunci dari dalam, karena saat aku mengintip di lubang kunci, tertutup karena kunci nya di
sangkutkan di situ.” Jawab mereka.
Tok…Tok…Tok…
“Tolong anda buka kan pintu nya sekarang!” teriak Venam sambil mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban dari dalam.
Tok…Tok…Tok…
“Kalau anda tidak mau membuka nya, maka kami akan mendobrak pintu ini!” teriak Venam lagi.
Masih sama, belum ada respon atau suara dari dalam.
__ADS_1
Guubbraaakkk….Guubbrraakk….
Hingga akhir nya Venam yang sudah habis kesabaran itu menendang pintu beberapa kali hingga terbuka dan jatuh di lantai.
Tidak ada tampak apapun, kecuali tempat tidur yang memiliki kelambu berwarna hitam. Ruangan pun gelap, hingga akhir nya Venam mencari tombol untuk menyalakan lampu nya.
“Kalian tunggu di sini, biar aku saja yang masuk.”suruh nya pada rekan nya.
Wanita itu sudah berdiri di samping pintu, ingin masuk tapi di halangi rekan Venam. Venam terus berjalan mendekati tempat tidur yang seperti ada tumpukan kain.
Ternyata ada seseorang yang berbaring, seorang wanita yang tertidur dengan memakai selimut hingga sebatas dada nya.
“Pak, tolong jangan ganggu majikan saya, beliau sedang sakit dan sedang beristirahat habis minum obat.” Teriak pelayan nya.
Venam mendengar nya, tapi masih ada rasa kecurigaan di hati nya.
Perlahan, Venam meletakkan tangan nya untuk memegang kening pemilik rumah.
“Hhheemm…” ujung bibir Venam terangkat.
“Nyonya, saya tahu anda bisa mendengar suara saya, saya juga tahu kalau anda sedang berpura-pura untuk tidak membuka mata melihat saya. Tapi saya akan katakan pada anda maksud kedatangan kami ke sini, adalah ingin membawa suami anda Agus Wido ke kantor polisi untuk di mintai keterangan nya.
nya secara paksa.” Ucap Venam.
Tidak ada jawaban dari tubuh yang berbaring itu, tapi tentu saja dia mendengar apa yang di ucap kan Venam.
Venam mengambil ponsel nya dan membuka aplikasi kamera untuk mengambil gambar isteri dari Agus Wido. Setelah itu mengambil video dari ruangan itu.
“Baik lah nyonya, saya permisi dulu. Beberapa hari kedepan kami akan datang lagi, jadi tolong sampaikan pesan saya, dan anda juga jangan coba-coba menghindar dari kami.” Ucap Venam lalu pergi keluar Dari kamar itu.
Sempat melihat pelayan wanita yang masih khawatir, lalu pergi.
******
“Venam, apa yang selanjutnya kita lakukan?” tanya Dicky, salah satu rekan nya yang ikut.
“Kita laporkan saja dulu pada Abraham.” Ucap Venam memberi jawaban.
“Apa kalian sudah periksa bagian-bagian rumah ini? Seperti belakang, samping kiri dan kanan?” tanya Venam.
“Sudah, dan kami juga sudah mencatat nya.” Jawab Dicky.
__ADS_1
Venam yang dalam perjalanan menuju kantor untuk memberikan laporan.
*******
Sementara itu di dalam rumah yang baru saja di datangi Venam…
“Bodoh!!... apa kau tidak bisa menghalangi mereka? Kenapa mereka bisa masuk?” bentak majikan wanita nya.
“Maafkan saya nyonya, saya sudah berusaha untuk menghalangi mereka, tapi mereka tetap bersikeras, dan juga orang itu membawa surat ijin dari kepolisian.” Jawab wanita itu.
“Kalau seperti ini, pasti akan terbongkar. Semua ini gara-gara si tua bangka itu. Kalau saja dia tidak mata keranjang, aku tidak
akan melakukan ini. Dasar bren***k!” teriak nya.
Setelah kepergian Venam dan rekan nya, wanita yang lebih muda dari pelayan nya itu bangkit dari tidur nya, dia turun dari ranjang dan melihat kepergian mereka dari atas jendela kamar nya.
*****
“Kalian tidak bertemu dengan pria itu?” tanya Abraham.
“Benar Bram, hanya isteri nya, tapi kata pelayan nya, isteri nya itu sudah beberapa hari sedang sakit dan berbaring lemah di atas tempat tidur. Tapi ada keanehan yang saya dapatkan.” Ucap Venam.
“Apa itu?”tanya Abraham penasaran.
“Saat saya hendak mengecek suhu di kepala nya, sekilas alis mata nya naik sedikit, seolah kaget dengan apa yang aku lakukan, tapi dia tetap tidak mau membuka mata nya. Dan suhu tubuh nya juga tidak panas atau dingin,
normal. Lalu kata Dicky, saat itu ada empat kandang sapi yang berada di sana…
“Empat? Kenapa bisa? Waktu itu aku melihat nya hanya ada satu, apa bertambah jadi empat?” tanya Abraham memotong ucapan Venam.
“Tiga diantara nya terlihat masih baru di bangun, mungkin sekitar satu hari yang lalu, karena semenan nya masih terlihat berembun seperti habis di semen, jumlah sapi di semua kandang nya ada 12 sapi, dan kotoran nya
juga menumpuk. Untuk kamera CCTV yang di luar ada 8, dan di dalam ruangan selain kamar ada 5, lantai satu ada 3 kamar, lantai atas ada 5 kamar, termasuk kamar majikan nya.” Ucap Venam memberikan laporan.
“Seperti nya aku sudah mulai mengerti.” ucap Abraham menganggukkan kepala nya.
“Besok, kita akan datang ke sana lagi.” Ucap Abraham.
“Anda akan ikut?” tanya Venam.
“Iya, tentu saja. Tidak seru rasa nya kalau aku tidak menyaksikan nya secara langsung.” Ucap Abraham.
__ADS_1