KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 57


__ADS_3

“Hhhmm… apa ini Abraham yang melakukan nya?” tanya Adley pada Ridwan.


“Siapa lagi, dia kan kalau sudah marah nyawa lawan nya hanya bersisa 30 persen.” Jawab Ridwan.


Tidak ada Rahul di lokasi, sudah pergi sebelum Adley dan Ridwan datang.


Adley dan Ridwan membawa mereka ke dalam mobil, menuju kantor polisi.


********


Abraham dan Bellova baru saja tiba di depan rumah. Perlahan Bellova turun, masih memegang pundak Abraham agar tidak jatuh.


“Pak Abraham tidak ikut masuk?” tanya nya, melihat Abraham yang masih duduk di motor nya.


“Tidak, aku mau kembali ke kantor lagi.” Jawab Abraham sedikit ketus.


“Oh iya pak Abraham, mengenai penjahat itu, saya melihat mereka seperti sedang membawa sesuatu, tapi saya tidak tahu, apa itu.” Bellova


mengeluarkan ponsel nya, dan menunjuk foto yang berhasil di ambil.


“Ini, lihat deh pak Abraham, mereka ada empat orang, tapi yang mengejar saya hanya dua saja.” Ucap nya.


Abraham menerima ponsel Bellova, melihat sekilas.


“Lain kali, kamu jangan lakukan seperti ini lagi, itu berbahaya bagi mu. Kalau seandai nya aku datang terlambat dan tidak ada pria itu, apa yang akan terjadi pada mu?” tanya Abraham, yang sebenar nya khawatir.


“Pak Abraham, justru saya akan merasa bersalah dan berdosa kalau mengabaikan tindak kejahatan di depan saya. Dan… saya juga percaya kalau Pak Abraham akan datang menolong saya.” Ucap Bellova, merasa tenang dan nyaman.


“Tapi kan aku datang nya terlambat.” Balas Abraham.


“Iya, tapi kan ada Rahul, jadi…


“Sudah lah, kau masuk saja. Jangan kemana-mana dan jangan keluar dari rumah.” Suruh Abraham menyalakan motor untuk berangkat lagi.


“Baik Pak Abraham, nanti malam mau di masak makanan apa?” tanya Bellova, mengalihkan topik pembicaraan.


“Terserah, kau kan sudah tahu apa yang aku suka dan tidak suka. Kau istirahat saja dulu, karena berlarian itu. Aku pergi dulu..” setelah


itu Abraham pergi, meninggalkan Bellova yang masih melihat nya di belakang, tidak lama kemudian, gadis itu pun masuk kedalam.


******


Di kantor polisi, Abraham baru saja tiba. Wajah nya terlihat marah dan emosi. Dengan langkah yang cepat, sehingga suara dari hentakan sepatu nya terdengar sahut menyahut.


“Di mana dia?” tanya nya pada Adley.


“Itu..” Adley menunjuk sel yang isi nya ada dua orang, sama dengan dua orang yang di tangkap sebelum nya.

__ADS_1


Abraham meletak kan kunci motor di atas meja, lalu membuka jam tangan, sama seperti yang di lakukan kalau sedang ingin menginterogasi


penjahat.


Adley dan lain nya tidak merasa heran.


“Buka.” Pinta nya agar pintu sel segera di buka.


Dua orang yang sudah sadar itu saling melihat, ada ketakutan di wajah mereka melihat Abraham yang tajam.


Abraham masih berdiri, memegang pinggang dengan kedua tangan nya, menghadap mereka.


Dia berjalan mendekat, si penjahat malah bergerak mundur.


“Jawab aku sebelum aku memukul kalian lagi! apa yang kalian lakukan di sana?” tanya Abraham masih pelan.


“Ka…kami tidak melakukan apa-apa..” jawab salah satu dari mereka dengan gugup.


Abraham menggaruk kepala, berusaha bersabar.


“Kalau tidak melakukan apa-apa kenapa kalian mengejar wanita itu?” teriak Abraham dengan pertanyaan.


“I…Itu…itu… karena wanita itu… mengambil gambar kami, karena…


Bbbrruugghh…


Lagi, Abraham yang tidak sabar dengan jawaban yang bertele-tele, Abraham memukul mereka lagi. teriakan mereka berdua terdengar di sel-sel sebelah nya.


“Lihat ini… di sini terlihat kalau kalian sedang menculik, siapa yang menyuruh dan di mana anggota mu yang lain nya??” bentak Abraham,


menunjuk kan gambar di ponsel Bellova yang di bawa nya.


“Kami tidak tahu apa-ap..


Pukulan selanjutnya di berikan Abraham, mendendang nya dengan keras.


“Kami akan mengaku, kami akan… akan.. katakan yang sebenar nya..” sambil meringkuk menahan rasa sakit, mereka akhir nya ingin berbicara.


Abraham mengatur pernapasan nya.


“Cepat katakan!!” teriak Abraham menunggu jawaban mereka.


“Bos kami yang suruh, mereka menyuruh kami mencuri di rumah… itu…” jawab nya dengan gugup.


“Siapa bos kalian??” tanya Abraham berteriak lagi.


“De….Deadly Poiissoonn….” Dua kata yang keluar dari mulut mereka.

__ADS_1


“Apa?” Adley dan yang lain nya, yang mendengar seperti tidak percaya, termasuk Abraham.


“Kami adalah… anggota dari Deadly.. Poison, pimpinan kami yang menyuruh kami melakukan…itu..” salah satu rekan nya mendukung cerita teman nya.


“Tidak mungkin, karena kami sudah mengawasi pergerakan mereka, dan tidak ada pergerakan yang mencurigakan atau kejahatan.” Ucap Adley, tidak percaya.


“Kami tidak bohong, kami..


“Siapa nama bos kalian??” teriak Abraham.


Dua orang itu diam, menunduk kan wajah nya.


“Apa kalian mau mati??” bentak Abraham lagi.


“Lu…Luci….fer! nama nya Lucifer..” salah satu dari mereka memberi jawaban untuk nama bos dari Deadly Poison.


“Apa? Lucifer? Kenapa aku seperti pernah mendengar nama itu?” ucap Adley, walau pelan, Abraham bisa mendengar suara nya.


Abraham menghentikan menyiksa dua orang itu, dan keluar dari sel. Sambil berpikir dan mengingat-ingat nama itu. Adley tahu apa yang ada di dalam pikiran Abraham, karena mereka tahu, siapa yang di panggil dengan nama


‘Lucifer’ itu.


*****


“Jadi, nama wanita itu adalah Bellova, nama dan wajah nya sangat cantik. Tapi, kenapa dia mau jadi pelayan di rumah pria galak itu ya?


Apa karena di paksa, atau karena hutang?” gumam Rahul yang sedang duduk di


coffee shop seorang diri.


“Kalau itu karena hutang, aku harus membantu nya untuk melunasi hutang nya, dan mengajak nya untuk menikah dengan ku. Aku yakin, kalau


Bellova juga menyukai ku. Terlihat jelas dari cara dia menatap dan berbicara pada ku, beda saat dia berbicara dengan majikan nya itu.” ucap Rahul, suara pelan.


“Hey…  siapa yang mau menikah dengan mu?” seorang wanita menepuk bahu nya dari samping.


Rahul menoleh..


“Monica? Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau sedang berbelanja lagi?” tanya nya pada wanita yang bernama Monica.


“Kak Rahul ini hanya tahu aku yang berbelanja? Aku kan jarang belanja, kalau lagi ada butuh saja baru belanja.” Monica duduk di hadapan Rahul.


“Aku lihat dari tadi kak Rahul tersenyum dan berbicara sendiri, kamu tidak gila kan?” ledek Monica dengan meletak kan jari telunjuk miring di kening nya.


Rahul mengabaikan. Dia meminum kopi yang sudah di pesan.


Rahul tahu, Monica itu gadis yang berbicara tanpa perduli perasaan lawan bicara nya, jujur sih, tapi menyakitkan.

__ADS_1


“Kenapa diam sih? Apa lagi sariawan? Kakak sedang menyukai wanita ya?” tebak nya sambil bertanya.


“Monica, diam lah. Kalau kau tidak ada urusan lagi, sebaik nya pulang.” Ucap Rahul ketus.


__ADS_2