
“Keputusan ku tidak berubah, skors mereka selama enam bulan, dan tiga orang polisi yang terluka akan di beri penghargaan. Bubar sekarang!” perintah Abraham.
Mau tidak mau mereka bubar dengan wajah yang tidak terima. Abraham tidak perduli dan tidak takut.
Sekarang Abraham melihat Adley dan Ridwan dengan tatapan tajam.
“Gantikan mereka yang di skors dari kantor lain. Minta mereka menggantikan mereka” suruh nya.
“Siap pak!” jawab Adley.
Keadaan sudah kembali normal. Tapi wajah Abraham masih kesal.
“Pak Abraham, menurut informasi dari Aditya, di sana juga ada anak buah dari paman Lucifer. Aku rasa, paman juga menyuruh mereka untuk mengawasi.” Adley memberikan informasi.
“Papa? Tapi-
“Maaf pak Abraham, di depan sudah ada isteri anda sedang menunggu.” Ridwan memotong ucapan Abraham.
“Kenapa dia tidak masuk?” tanya nya sembari berjalan menghampiri Bellova.
***********
“Jadi anda adalah isteri pak Abraham? Saya Monik.” Monik memperkenalkan diri nya.
“I..iya. Nama saya Bellova.” Jawab nya menerima uluran tangan untuk bersalaman.
“Anda sangat beruntung bisa menikah dengan pak Abraham. Banyak loh wanita di sana yang ingin memiliki pak Abraham, termasuk saya.” Ucap Monik tersenyum.
Bellova tidak tahu bagaimana perasaan nya, antara terkejut dan tidak percaya diri.
__ADS_1
“Tapi itu dulu sih. Kalau sekarang saya tidak memiliki perasaan apa-apa pada nya, selain menghormati dan menghargai nya saja. Jadi anda tidak usah cemburu ya.” Monik menjelaskan nya lagi.
“Cem..buru? saya-
“Siapa yang cemburu?” tiba-tiba Abraham datang dari belakang mereka.
Dua wanita itu melihat bersamaan dan berdiri.
“Pak Abraham, selamat siang pak.” Sapa Monik.
“Selamat siang Monik. Kenapa kalian tidak masuk?” tanya nya melirik Bellova.
“Seperti nya anda tadi sedang ada rapat penting, jadi kami menunggu di sini saja dulu. Kan enggak lucu saat anda bicara, lalu kami datang ‘selamat siang, ini makan siang kalian sudah datang’.” Ucap Monik bercanda.
“Hahahahaha… iya sih. Apalagi aku kan gila makan.” Balas Abraham tertawa.
Bellova hanya diam menundukkan wajah, merasa minder dan canggung.
“Dan kau, ikut dengan ku. Kita makan berdua saja.” Abraham menggenggam tangan Bellova, dan membawa keruangan pribadi nya sendiri, tangan nya yang lain mengambil bekal makan siang yang di bawa Bellova.
“Cccciieee….ehem… pengantin baru begini nih.” Ledek Venam yang melihat adegan itu.
Bellova yang merasa malu dengan aksi suami nya itu, dia tidak bisa melihat kedepan lagi, hanya menundukkan wajah nya yang sudah memerah.
*******
Di tempat lain, Arshinta yang sudah membawa Rakha, mereka berdua ke kantor perusahaan Satmaka. Awal nya Satmaka tidak tahu kalau mereka akan datang, karena kesibukan pekerjaan nya.
Tok…tok…tok…
__ADS_1
Ketukan pintu dari Arshinta.
“Masuk.” Balasan dari dalam ruangan Satmaka.
Arshinta dan Rakha masuk dan melihat Satmaka yang tidak melihat ke arah nya, masih sibuk dengan berkas di tangan nya.
Setelah menutup pintu, mereka berdua duduk di sofa, membiarkan pria itu fokus pada pekerjaan nya.
“Rakha, kita duduk di sini dulu ya, biarkan papa nya bekerja dulu, kita tidak usah ganggu.” Bisik Arshinta.
Rakha hanya mengangguk dan duduk bersandar di sofa dengan sebuah mainan robot di tangan nya.
Keadaan menjadi sangat diam dan sepi.
Beberapa saat Satmaka menghela napas dan menyandarkan tubuh nya di kursi. Tatapan nya melihat kedepan, mengernyitkan dahi.
“Shinta?” panggil nya.
“Iya?” Arshinta melihat kebelakang.
“Sejak kapan kau ada di sini? Di mana Rakha?” tanya nya berdiri ingin menghampiri.
“Papa..” Rakha muncul menyambut papa nya.
Saat itu Arshinta dan Rakha duduk di sofa yang membelakangi Satmaka. Kalau di lihat dari belakang, hanya kepala Arshinta saja yang terlihat, sedangkan Rakha yang karena masih kecil, tidak kelihatan sama sekali.
.
.
__ADS_1