KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 228


__ADS_3

Abraham masih menemani Bellova yang belum juga bangun semenjak habis operasi. Hanya sekali digantikan Adley, dan seterusnya dilanjutkan Abraham.


Dia duduk di sofa satu orang, di dekatkan hingga di sisi ranjang Bellova. Menatapnya dengan harapan segera bangun.


Klik..


“Kau istirahat saja dulu Bram.” Aditya datang ingin memeriksa keadaan Bellova.


Abraham mengusap wajahnya dan melihat Aditya yang berdiri di samping.


“Kenapa dia belum bangun?” tanyanya menunjuk Bellova.


“Mungkin sebentar lagi. Tunggu saja. Oh ya, sebentar lagi Ina datang, dia ingin menggantikanmu, jadi beristirahatlah nanti.” Ucap Aditya.


“Menurutmu siapa yang melakukan ini?”


“Aku sudah menebak seseorang yang aku curigai. Dia-


Ponsel Abraham bergetar, ada panggilan masuk.


“Hallo, ada apa Ridwan?”


“Pak Abraham, ada ledakan di jalan XXX, ledakan bom bunuh diri.” Jawab Ridwan yang sudah berada di lokasi.


“Apa?” Abraham berdiri, melirik Aditya yang ikut mendengar.


“Tidak ada korban, hanya satu orang yang membawa bom yang keadaannya rusak mengenaskan.” Sahut

__ADS_1


Ridwan.


“Ini pasti ada hubungannya dengan Bossa. Selidiki dan jika ada korban, segera bawa kerumah sakit. Apa kalian bisa mengatasinya?”


“Bisa Pak, kami hanya melaporkan saja.” Jawab Ridwan yakin.


Klik…


“Baik, nanti kabarkan lagi kalau ada informasi.” Abraham melihat Ina dan Sakya baru saja masuk.


Obrolan mereka sudah berakhir, dan menutup teleponnya.


“Kak Ina.” Panggil Abraham.


“Bagaimana? Apa dia sudah bangun?” tanya Ina melihat kondisi di sisi kanannya.


“Belum.”


“Semuanya baik-baik saja, tenang lah.” Aditya meyakinkan kekasihnya.


“Tadi di perjalanan, ada kejadian ledakan bom. Kata anak buah tuan Lucifer, itu adalah bom bunuh diri.” Sakya memberitahukan kejadian yang dialami.


“Apa? Bom bunuh diri? Jadi kalian ada di sana?” tanya Abraham terkejut.


“Iya, tapi kami tidak apa-apa, karena teman papa ada di sana.” Sahut Ina menenangkan adiknya yang terlihat panik.


“Bossa, pasti ini ulah Bossa.” Abraham mengepalkan tangannya.

__ADS_1


“Aku yakin pasti Papamu sudah mendengar ini, dan dia juga pasti akan mengamuk. Mereka pasti sengaja melakukannya karena tahu kalau Ina akan lewat dari sana.” Tebak Aditya.


“Tentu saja.” Sakya sepakat.


“Sudahlah, biar itu urusan mereka. Bram, kamu istirahat saja dulu, biar kakak yang jaga disini. Aku dengar sudah semalaman kamu menjaganya disini. Makan lah dulu.” Ina mengusap bahu Abraham, membujuknya agar membiarkan Ina menjaga Bellova.


Abraham melihat Bellova dulu, berpikir dan melihat Ina, yang berusaha meyakinkannya.


“Baiklah kak, aku titip Bellova dulu, nanti aku akan kembali lagi kesini.” Jawab Abraham menerima tawaran kakaknya.


Ina menganggukkan kepala, tersenyum karena adiknya menuruti ucapannya.


“Kalau ada apa-apa, hubungi saja aku.” Pintanya sembari keluar ruangan.


Klik…


Pintu pun sudah di tutup kembali, tinggallah Sakya, Ina dan Aditya.


“Apa kau sudah makan?” tanya Aditya menggenggam tangan Ina.


“Sudah,” jawabnya mengangguk.


“Tidak usah khawatir, dia baik-baik saja.” Ucapnya melihat Bellova, tapi tangannya masih mengusap tangan atas Ina.


“Ehem, jangan lupakan aku yang ada disini Nona Ina.” Sakya mendehem, melihat kemesraan Ina dan pasangannya.


Aditya melihat Sakya, “Kenapa? cemburu? Makanya jangan jomblo.” Ledek Aditya.

__ADS_1


“Etdah, siapa yang cemburu? Lagipula aku juga tidak jomblo kok, hanya saja pacarku tidak ada di sini, jadi, berhenti bermesraannya. Atau aku keluar saja?” balas Sakya.


“Tidak, kau disini saja, aku juga mau keluar kok. Gitu saja udah ngambek.” Ledek Aditya lagi menepuk bahu Sakya.


__ADS_2