
Abraham dan Bellova duduk berdampingan di depan, sedangkan keluarga Bellova duduk di bangku belakang, semua barang bawaan nya juga sudah di masukkan kedalam bagasi.
“Wah… ayah, lihat itu, rumah nya tinggi-tinggi sekali, mereka naik apa kesana?” tunjuk Dino anak nomor tiga, di bawah Bellova.
“Dino, itu bukan rumah, itu gedung.” Ayah nya memberi penjelasan.
“Gedung? Gedung apa ayah?” tanya nya lagi.
“Ayah, itu rumah juga kah?”
“Bukan, itu hotel.”
“Ooh.”
Abraham membiarkan adik-adik ipar nya berpendapat dan menebak, Bellova juga ikut sibuk melihat suasana jalanan.
“Nanti, kalau kalian mau, aku akan membawa kalian jalan-jalan keliling Jakarta.” Ucap Abraham memberi janji.
“Benarkah kak?”
“Iya.”
“Oh ya kak, aku ingin sekali ke Taman Mini, pengen lihat artis, katanya di sana banyak artis lagi suting.” Anak nomor empat, Sandra ikut berbicara.
“Kamu mau ke sana ya? oke, nanti kakak ajakin kesana.” Janji Abraham lagi, melirik kebelakang sebentar.
“Asik… akhir nya bisa lihat artis, nanti aku mau minta tanda tangan sama foto nya.” Sandra senang dan tertawa.
__ADS_1
“Apa aku juga bisa ikut?” tanya Bellova yang ikut penasaran.
Abraham menatap nya, “Apa ada yang ingin kau lihat disana?”
Bellova mengangguk penuh harap.
“Siapa?” tanyanya penasaran.
“Artis dan aktor,” jawab Bellova semangat.
“O.” balas nya singkat.
Mereka kembali melihat jalananan. Kagum dengan bangunan-bangunan yang berjejer di kiri kanan jalan.
Itu adalah kali pertama mereka menginjakkan kaki di Jakarta, adapun yang mereka tahu tentang Jakarta hanyalah lewat Televisi, itupun saat mereka menumpang nonton di rumah tetangga yang memiliki Televisi.
************
Akhir nya mobil Abraham berhenti di depan rumahnya, rumah besar dengan dua lantai dan halaman nya juga luas. Abraham turun lebih dulu, setelah mematikan mesin mobilnya. Dia membukakan pintu untuk Bellova dan mertua beserta iparnya.
“Ayah, ini gedung atau hotel?” tanya Dino yang baru turun, melihat rumah besar Abraham.
“Ayah juga tidak tahu, coba kamu tanya sama pada kakak mu.” Jawab Ayah nya yang juga bingung.
“Ini rumah kita.” Jawab Abraham, baru mengeluarkan tas pakaian dari dalam bagasi.
“Tapi rumah kami di kampung.” Celetuk Sandra.
__ADS_1
“Ini juga rumah kalian kok,” Abraham menambahkan lagi.
Sandra dan saudara nya tidak bertanya lagi, mereka masih berdiri di samping mobil sembari melihat bangunan itu.
“Love, kamu bawa saja mereka kedalam.” Suruh Abraham.
“Biar ayah bantu nak Abraham.”
“Tidak usah Yah, kalian ikut Bellova saja.” Tolak Abraham yang bisa mengerjakan semuanya.
“Ayo Ayah.” Bellova mengajak keluarganya masuk kedalam, meninggalkan Abraham yang masih sibuk dengan barang-barang yang tidak terlalu banyak.
Sebelum masuk kedalam rumah, pandangan mereka tidak lepas dari sekitarnya. Perasaan takjub dan kagum,
berdecak menggelengkan kepala.
Klik…
Bellova membuka pintu.
“Ayo masuk.” Dia mempersilahkan kan keluarganya masuk lebih dulu.
“Wah…Lov, ini rumah nya besar sekali.” Ibunya yang kagum menatap.
“Ayah…Ayah, Dino mau tinggal disini saja. Tidak mau di kampung terus.” Pinta Dino merengek.
“Tidak boleh Dino, kamu kan masih sekolah di kampung, sayang uang sekolah yang sudah di bayar.” Sahut Ibunya yang melarang.
__ADS_1
Dino cemberut, tidak ingin memaksakan nya lagi.