KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
Episode 39


__ADS_3

“Akhir nya Rakha sekolah TK di sini ya… senang nggak?” Arshinta mengusap kepala Rakha.


“Iya kak, Akha senang, biar bisa dekat sama kak Shinta, Akha juga bisa punya banyak teman.” Ucap Rakha dengan riang.


Satmaka telah menyelesaikan pendaftaran anak nya untuk masuk ke sekolah Arshinta. Dia lebih merasa tenang sekarang.


Di sela-sela waktu Arshinta dan Satmaka, mereka sempatkan untuk bertemu, dengan alasan kerinduan dari Rakha.


“Aku dengar kamu habis menggantikan semua guru-guru pengajar di sini ya?” Satmaka membuka obrolan.


“Tidak semua nya sih, sekitar 15. Mereka menyimpang dari tugas yang sebenar nya, aku tidak suka, jadi aku pecat saja. Tapi sekarang sudah aman dan tenang, mudah-mudahan tidak terulang lagi.” Ucap Arshinta yang sedang berjalan di lorong kelas bersama dengan Satmaka dan anak nya. Mereka


melawati satu persatu kelas sekilas, guru dan murid yang kebetulan bertatapan mata dengan nya memberi salam dan senyum. Sengaja ruangan Shinta berada paling


ujung, agar saat datang dan pulang dari ruangan nya, bisa melihat kondisi semua


kelas yang akan di lalui nya.


“Kak Shinta, sekali-sekali kakak datang ke yumah, main ama Akha….” Bujuk Rakha, mengangkat kepala nya melihat Arshinta yang berdiri di samping nya, karena tinggi.


“Iya, nanti kakak datang ya. Bagaimana kalau nanti sore kakak datang? Sekalian kakak masakin makan malam nya untuk Akha dan papa nya? Mau gak?”


“Mau…mau…..mau banget…. Akha mau makan masakan kak Shinta….” Ucap Rakha dengan senang, dia berlompat kecil.


“Kamu beneran mau masak di rumah?” tanya Satmaka yang seperti tidak percaya, walaupun dia sebenar nya merasa senang mendengar.


“Iya, tapi sebaik nya kita belanja bahan nya dulu.”


“Apa tidak apa-apa? Kan ini masih belum selesai bekerja?”


“Ada Ruly, tidak ada pekerjaan yang mendesak juga sih, jadi tidak masalah.” Jawab Arshinta dengan yakin.


“Kalau begitu, ayo kita pergi.”


“Ayyyoooo…..” Rakha mengangkat tangan nya dengan girang.


**********


“Kenapa kasus nya semakin banyak?” Abraham berbicara sendiri, membaca berita di surat kabar.


“Apa kasus ini saling terhubung?”


“Abram, kata Venam, tercium bau bangkai di sekitar rumah Agus Wido, mereka ingin segera menyelidiki langsung, apakah di ijinkan?” tanya Adley yang masuk kedalam ruangan nya.


“Bau bangkai?” Abraham meletakkan surat kabar yang di baca nya.


“Kalau begitu, bikin surat ijin untuk pemeriksaan dan bawa Agus Wido segera ke sini, untuk sementara orang itu akan di jadikan sebagai saksi.” Suruh Abraham.


“Baik.”


************

__ADS_1


D dalam pusat belanja, mereka bertiga sedang sibuk memilih bahan-bahan yang di gunakan untuk di masak, mulai dari sayuran, jenis ikan dan daging. Rakha duduk di troli besi dengan di dorong Satmaka pelan. Mereka seperti satu keluarga yang harmonis.


“Kakak, Akha tidak suka wortel……” tolak Rakha saat melihat Arshinta memilih wortel.


“Kok tidak suka sih? Wortel ini bagus buat mata dan kulit kamu. Kakak juga sering makan nya. Nanti kakak masakin yang enak, pasti kamu ketagihan.” Bujuk Arshinta.


Rakha tidak protes lagi.


“Kakak, Akha mau cokelat….


“Okey…..


“Kakak, Akha mau roti….


“Okey….


Sementara itu….


“Itu dia, wanita itu… cepat kasih tahu sama anak-anak untuk membawa nya.” Ucap seorang pria tidak jauh dari mereka. Pria itu yang sedang mengamati Arshinta.


“Siap bos..”


Sekarang Arshinta menuju kasir untuk melakukan pembayaran.


“Biar aku yang bayar…


“Tidak usah! Aku saja..” tolak Arshinta yang sudah menggenggam dompet panjang nya.


“Kalian tunggu di sini ya, aku ambil mobil nya dulu.” Satmaka meninggalkan Rakha yang masih duduk di troli besi bersama Arshinta.


“Wanita itu sekarang sudah sendiri, apa kita harus bergerak…


Plak….


Kepala nya di pukul rekan nya dari belakang.


“Bodoh! Apa kau mau bunuh diri? Lihat ini tempat yang ramai, kalau sampai kita ketahuan dan di gebukin gimana?” tanya rekan yang memukul kepala nya tadi.


“Biasa aja dong, enggak usah ngegas, sakit tahu!!” teriak nya memegang kepala sambil di usap.


“Kita ikuti mereka sampai di jalan sepi, baru kita serang! Itu baru benar…”


Brruuummm…..Brrruumm….


Satmaka tiba dengan mobil nya. Dia turun dulu, untuk memasukkan barang belanjaan ke bagasi, sekaligus mengembalikan troli besi ke


pinggir toko.


“Kamu masuk saja duluan sama Rakha, biar aku yang masukin belanjaan nya.” Suruh nya.


Arshinta menggendong Rakha, dan mereka masuk kedalam mobil di bagian depan, di samping Satmaka, tanpa supir.

__ADS_1


Setelah beres, mereka segera pergi meninggalkan lokasi.


Perjalan di lalui dengan baik dan lancar, saat melewati jalan yang sepi, tiba-tiba sebuah mobil dan beberapa motor berhenti dari depan.


Satmaka menghentikan mobil nya dengan dadakan, membuat Arshinta dan Rakha


terkejut, hampir saja kepala Rakha kena benturan, kalau saja tidak di lindungi


Arshinta dengan tangan nya.


“Apa-apaan mereka? Main berhenti tiba-tiba gitu saja.” Satmaka merasa kesal.


Satu persatu ada orang yang turun dari dalam mobil, dan pengendara motor juga turun, ada sekitar empat motor berboncengan dan satu


mobil berwarna merah. Mereka keluar dengan membawa alat senjata di tangan nya,


tentu saja mereka memiliki ukuran tubuh yang besar.


“Apa yang ingin mereka lakukan sekarang?” tanya Satmaka.


“Kakak….Akha takut…” anak kecil itu menutup wajah nya dalam pelukan Arshinta.


“Ssstt…. Jangan takut ya, kamu tenang saja.” Arshinta yang berusaha menenangkan anak dalam pangkuan nya.


Mereka yang sekarang sudah berada di samping mobil, berada di bagian kanan dan kiri.


Tok….Tok…Tok…


“Keluar!!” teriak nya pada Arshinta.


“Cepat keluar!!” ucap rekan nya juga.


“Wah…. Mereka cari masalah seperti nya.” Ucap Arshinta yang sudah marah.


“Siapa mereka?” tanya Satmaka pada Arshinta, melihat ada banyak orang juga di luar samping nya.


“Aku tidak tahu siapa mereka, mungkin mereka perampok.”


“Kalau begitu kalian tunggu di sini saja, jangan keluar……


Prraaanngg…..


Salah satu dari mereka memecahkan kaca jendela nya, serpihan nya mengenai Rakha di bagian kening.


Melihat itu Arshinta tidak bisa menahan kesabaran lagi, dia buka pintu dan langsung menendang siapa dari mereka yang lebih dekat dengan nya. Rakha berada dalam gendongan nya. Satmaka pun ikut panik, apalagi anak nya berada di tangan Arshinta. Rakha yang sudah menjerit karena kesakitan, darah nya juga sudah keluar walau tidak banyak.


Bbbbuuughh…..Bbbbuugghh….


Hanya mengandalkan kekuatan kedua kaki nya, Arshinta bisa mengatasi mereka. Dengan marah menendangi mereka satu persatu. Serangan dari mereka pun bisa di tangkis Arshinta, menunduk, berputar, jongkok, di lakukan untuk menghindar. Satmaka juga tidak mau diam menyaksikan itu, saat salah satu dari mereka ingin memukul Arshinta, Satmaka segera menarik tongkat kayu yang


mereka gunakan, hingga Arshinta dan Satmaka bersama melawan orang-orang yang

__ADS_1


mencari masalah itu.


__ADS_2